Oleh: Yuyun Rumiwati

Tahun ajaran baru telah mulai. Tugas mulia telah menghampiri. Mengandampingi menuntut ilmu di buah hati. Siap bersinergi bersama para guru yang membimbing dengan hati. Memudahkan kami untuk berkomunikasi tanpa dibatasi jarak dan tempat. Iya itulah belajar daring yang harus kami jalani.

Sejak ujian Pandemi. Amanah para bunda menjadi bertambah dan bertubi. Gelar ibu pendidik pertama dan utama tak lagi simbolisasi. Secara aplikasi di era ini para bunda harus siap menapaki.

Andai bukan karena cinta Allah sang maha mencintai. Tentu lelah, marah, menggerutu akan menjadi makanan tiap hari. Tapi motivasi ini bagian tugas suci. Yang dengannya ada pahala investasi. Kelak ketika kita tak lagi bersama di dunia ini. Harapan doa anak shalih akan menjadi kiriman terindah untuk kami.

Anakku, maafkan bunda jika belum seistimewa guru favoritu. Sehalus tutur kata ustadzah kesayanganmu. Sekreatif guru-giru eskulmu.

Anakku..
Di era Pandemi semakin aku faham bahwa selama ini aku terlalu menuntut padamu. Namun, kurang bijak dalam membimbingku. Dengan ini bunda kian sadar bahwa bunda butuh terus belajar.

Belajar lagi mulai dasar. Belajar arti seorang hamba. Dan seharusnya mengabdi pada sang kuasa. Sungguh saat asma’ul Husna kembali kudengar dan kueja dari buku PAI mu. Sungguh bunda tertampar ulang untuk meresapi arti kemahakuasaannya. Arti keluasan cinta dan ampunannya.

Anakku..
Terima kasih..
Di era Pandemi kau tekah menjadi teman belajarku. Mengingatkan ku kembali masih banyak tajwid yang kulupa. Ilmu gharib yang terlewat. Ilmu fiqih yang tak melekat kuat. Dan belajar darimu pula bunda sadar bahwa kita butuh peka. Peka urusan umat. Peka mencari solusi dari syariat.

Para bunda..
Tetaplah sabar membersamai..
Mengumpulkan serpihan pelajaran hidup yang sungguh berarti di era Pandemi..
Yang barangkali tanpa situasi ini kita tak terpikir..
Bahwa kita masih jauh dari ibu sejati.
Pendidik yang mumpuni
Apalagi terpikir untuk mengupgrade diri. Sungguh benar firman Allah dalam Qur’an surat Al-Baqarah 216

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).