Oleh: Eka Shalihah (Member of Revowriter)

Pada 7 Desember 2019, republika.co.id meluncurkan sebuah artikel berjudu “Kemenag positif hapus khilafah dan perang dari kurikulum”. Disebutkan bahwa seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten Khilafah dan perang atau jihad telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) madrasah pada kemenag, Umar menjelaskan alasan penghapusan itu. Ia mengungkapkan bahwa yang dihilangkan bukan saja khilafah dan perang. Setiap materi yang ke kanan-kananan atau ke kiri-kirian dihilangkan, ungkapnya.

Ia kemudian mengatakan, setiap materi yang tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan dan toleransi juga dihilangkan. Lalu pada tanggal 2 Juli 2020 cnnindonesia menerbitkan artikel yang memberitakan bahwa Kemenag resmi menghapus konten radikal di 155 buku pelajaran agama islam.

Di tengah keriuhan krisis ekonomi, pandemi, dan berbagai macam kriminal yang terjadi sebagaimana kita menyaksikan di berbagai media seperti pencurian semakin meningkat, pergaulan remaja yang kian rusak, rakyat terckik dengan kenaikan tarif listrik, dan berbagai macam problem yang sepertinya tak hentii-hentinya mendera negeri ini. Kini umat dibuat keheranan dengan kebijakan Kemenag yang akan menghapus 115 pelajaran yang berbau agama.

Jika melihat dari runutan penghapusan dalam pelajaran ini, bisa dilihat bahwa yang dimaksud radikal adalah hal-hal yang berbau islam saja. Terlebih di tahun sebelumnya pun sudah dihapuskan pelajaran tentang Khilafah dan Jihad lalu di tahun ini menyusul 115 pelajaran yang ada di dalam buku pelajaran islam pun ikut dihapuskan.

Apakah yang dimaksud radikal ini adalah khilafah dan seberapa menakutkannya. Khilafah ini dan pelajaran agama ini sehingga di tengah krisis, pandemi dan di tengan duka rakyat yang tak bisa menyekolahkan anaknya, mereka harus mendengar bahwa islam begitu menakutkan sehingga banyak pelajarannya yang dihapuskan?

Pertanyaanya, siapa sebenarnya yang dirugikan dengan penegakan syariah dan khilafah serta ajaran Islam yang lain? Siapa yang susah dan sulit kehidupannya jika Islam dijadikan pedoman hidup secara menyeluruh dalam kanca kehidupan umat yang mayoritas muslim ini? Siapa pula yang akan celaka jika pelajaran dan ilmu serta hukum-hukum Allah SWT dipelajari dan diterapkan? Tentu mustahil jika jawabannya adalah umat Islam, bahkan non muslim sekalipun. Pasalnya Islam adalah rahamat bagi semesta alam. Tentu siapa lagi kalau bukan kafir Barat, pihak yang anti Islam dan kaum-kaum yang takut kehilangan bagian keuntungan dalam sistem kapitalis yang rusak ini.

Menghapuskan materi Khilafah dan jihad serta pelajaran agama yang lain itu artinya menyempitkan makna Islam rahmatan Lil Alamin. Bahkan parahnya akan menyebabkan penyimpangan makna itu sendiri, sebab gambaran Islam sebagai agama yang sempurna menjadi lenyap ketika Islam hanya ditampilkan sebagai agama yang mengatur urusan-urusan yang berhubungan dengan ibadah ritual semata yang mengatur urusan manusia dengan Allah SWT, sementara urusan muamalah (Ekonomi, pendidikan, pergaulan, pemerintahan dll) Islam tidak tampil. Alhasil tampaklah bahwa Islam tidak membawa peran terhadap problem yang ada di dunia. Padahal Islam mampu menyelesaikan semua problem yang ada di tengah masyarakat.

Sebab Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT Tuhan pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan yang dibawa oleh Jibril as kepada Nabi Muhammad untuk mengatur interaksi manusia dengan Tuhannya, dirinya dan sesamanya. Kita pun diperintahkan oleh Allah SWT agar memeluk Islam secara menyeluruh atau kaffah, tidak setengah-setengah:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalaian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian. (QS. al-Baqarah [2]: 208).