Oleh: Rina Yulistina

Suatu kebanggaan tersendiri ketika anak bangsa menciptakan inovasi untuk memajukan masyarakat dan nama baik bangsa. Hal ini terjadi pada siswa SMK Model PGRI Mejayan, Kabupaten Madiun yang berhasil membuat mobil listrik untuk menunjang pekerjaan para pelaku UMKM, rencananya mobil listrik ini akan dibandrol seharaga 20 juta lebih murah ketimbang harga kendaraan roda tiga yang ada di pasaran. (liputan6.com 6/7/2020)

Bukan hanya kali ini saja anak negeri menghasilkan inovasi yang bermanfaat untuk masyarakat. Dan kita pun berharap nasib mereka tak tragis seperti nasib pendahulu mereka yang harus berhenti karena pemerintah tak mendukung. Tenggok saja nasib mobil listrik Selo yang malah dikembangkan di Malaysia, Kompor Biomassa dikembangkan di Norwegia, TV merek Maxreen malah dimusnahkan, dan sederet inovasi yang lainnya. Sungguh sangat miris.

Anak bangsa membuat inovasi supaya negeri ini tak bergantung dengan produk luar negeri namun apalah daya impian itu seperti jauh panggang dari api, produk luar negeri tetap menjadi raja. Jangankan produk teknologi yang di impor saat ini garam, gula, bawang, sayur pun dari luar negeri. Sungguh malang nasib Ibu Pertiwi.

Kemalangan ini tak akan pernah lepas dari hasil kerjasama Indonesia dengan pihak luar negeri dalam perjanjian GATT yang melahirkan perjanjian WTO, perjanjian ini merupakan perjanjian perdagangan multilateral yang sangat liberal. Sehinga wajar jika negeri ini dibanjiri oleh impor karena Indonesia adalah salah satu negara yang dijadikan pangsa pasar internasional.

Apalagi saat ini dengan kebijakan menteri Pendidikan Nadiem Makarim yang mengkawinkan SMK dan vokasi dengan industri, sekilas nampak bagus untuk mengurangi pengangguran dan terserapnya tenaga kerja, namun jika kita lihat disisi lain malah mematikan jiwa inovasi para anak bangsa. Pendidikan hanya dinilai sebagai pemenuh kepentingan industri pada akhirnya output pendidikan hanya sekedar menjadi pekerja untuk memenuhi kepentingan para pemilik modal. Bukankah ini malah merugikan Indonesia? Indonesia akan semakin terpuruk generasi bangsa hanya dijadikan buruh di negeri sendiri, lalu kapan Indonesia akan benar-benar merdeka jika terus menerus terbelenggu oleh penjajahan gaya baru?

Solusi pndidikan Indonesia yang salah kaprah menjadikan Indonesia semakin terpuruk, terkungkung dengan berbagai perjanjian, menjadi mangsa bagi negara-negara kapital sehingga harus ada solusi paripurna yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang mandiri dan mampu mengoptimalkan potensi anak negeri.

Maka solusi dari pendidikan bukan mengkawinkan dengan industri namun pendidikan harus diatur oleh yang Maha Pengatur yaitu Allah. Islam bukan hanya sekedar agama ritual namun Islam merupakan agama dengan seperangkat aturan hidup yang paripurna.

Pendidikan di dalam Islam adalah hak seluruh masyarakat tanpa memandang kaya maupun miskin. Seluruh lapisan masyarakat berhak mendapatkan pendidikan dari SD hingga PT dengan gratis, memberikan fasilitas pendidikan yang berkualitas dan lengkap, memberikan gaji guru yang tinggi sehingga baik murid maupun guru fokus untuk menyerap ilmu, mengembangkan ilmu sehingga lahir inovasi-inovasi baru, selain itu di dalam Islam negara wajib memberikan peluang kerja maupun modal berbisnis sehingga jelas TKA tak bisa dengan mudahnya masuk dan mengambil hak anak bangsa, selain itu negara wajib memberikan pasar untuk memasarkan produk inovasi sehingga negara tidak seenaknya melakukan impor inovasi terutama yang berhubungan dengan inovasi persenjataan. Sehingga bukan hanya khayalan Indonesia akan melahirkan seorang ilmuan seperti Ibnu Sina, Al khawarizmi, Ibnu Khaldum dan sederet ilmuan muslim lainnya.

Dengan pengaturan tersebut Indonesia akan menjadi negara yang mandiri, inovasi dan kuat. Namun harus diingat bahwa penerapan Islam di dunia pendidikan harus diback up dengan penerapan aturan Islam lainnya seperti penerapan ekonomi Islam sehingga kekayaan di dalam negeri tidak masuk ke kantong-kantong kapital namun kekayaan negara ini untuk memenuhi seluruh kebutuhan dalam negeri salah satunya pendidikan, selain itu penerapan politik Islam juga sangat penting supaya tak mudah tergiur oleh perjanjian Internasional yang merugikan bangsa. Hal tersebut bisa diterapkan ketika Indonesia menerapkan syariat Islam sebagai aturan hidup bukan sekedar di dalam masjid.