Oleh : Isti Qomariyah, S.Pd

Bumerang Kebijakan New Normal, Saatnya Kembali ke Solusi Islam

Oleh : Isti Qomariyah, S.Pd

Sesuatu yang tidak nampak, seakan tidak ada nilainya. Semua dinilai dengan materi dan kebendaan. Bahkan mempertimbangkan nyawa manusia harus dikorbankan dengan materi dan ekonomi. Kebingungan, kebosanan dan meletihkan terasa saat fakta realita lapangan dan data tidak sejalan.

Sampai saat ini saja 14 Juli 2020 sudah terkonfirmasi positif sebanyak 78572 pasien dan pertambahan jumlah pasien yang meninggal sebanyak 3710 orang. Namun dengan meningkatnya jumlah pasien, justru kebijakan New Normal diambil pemerintah. Dalam hal ini sungguh gegabah pemerintah dalam penanganan pandemi. Sebenarnya rakyatlah yang justru dikorbankan dengan kebijakan ini. Karena tidak ada pemisahan antara yang sakit dan yang sehat.

Keputusan penetapan kebijakan new normal ini tidak logis. Kenapa? karena Indonesia menepati ranking tertinggi yang terpapar virus tersebut. Hal ini tampak, dikarenakan minimnya edukasi dari masyarakat sehingga abai terhadap diri dan sekitarnya. Dengan kebijakan new normal maka pemerintah membuka pasar, mall, taman dan tempat keramain lainnya. Pembukaan ini tidak lain katanya demi “kepentingan ekonomi rakyat” pada akhirnya rakyat beraktivitas di pasar, mall, dan tempat keramaian dan kebanyakan dari mereka tidak mengindahkan protokol kesehatan. Seperti yang terjadi di Surabaya. Padahal daerah tersebut sudah zona merah dan hampir menghitam, namun masyarakat masih menghabaikan hal tersebut.

Ditambah masyarakat sudah berkurang kepercayaannya terhadap pemerintah karena sedari awal pemerintahan terkesan lamban untuk mengatasi wabah pandemi ini. Tak luput pula ketika kedatangan petugas covid yang ingin melakukan tes dipasar maka akan memberi ketakutan tersendiri bagi para petugas dan pengunjung. Sehingga terjadi keributan pengusiran petugas covid. Seperti yang terjadi di Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengusir petugas Covid -19 dari gugus tugas Kabupaten Bogor pada Rabu (10/6).

Masyarakat hanya dipertontonkan dengan kondisi ekonomi yang kacau, hanya mengkambing hitamkan Corona. Pandemi sebagai biang keruntuhan dan kekacauan ekonomi. padahal kekacauan ekonomi sudah ada sebelum wabah pandemi Covid-19 ini.

Covid-19 tidak bisa hanya dicegah dengan hanya sering cuci tangan pkai sabun, penggunaan masker (terutama masker kain yang belum standar medis), memakai hansanitizer, dan penyemprotan desinfektan berkala di tempat umum. Menghadapi wabah ini harus dicati benang merah penularannya. Ketika berbagai solusi masih belum menyelesaikan berarti ada akar masalah yang belum tersentuh. Berarti harus memutus terlebih dahulu rantai penularan tersebut. Maka untuk memisahkan butuh kebijakan yang terpadu antara pemerintah (pusat dan daerah) serta masyarakat secara luas.

Hal ini menunjukkan kegagalan sistem demokrasi sekuler dan karakteristik kapitalis yang hanya mempertimbangkan untung rugi hingga rakyat jadi korban. Dan makin mempertegas pula bahwasanya sistem politik dan kesehatan yang berjalan saat ini telah gagal. Saat nya berganti kepada sistem yang membuahkan solusi.

Sistem yang tak lain ialah datang dari sang Pencipta. Sistem Islam, yang berdasarkan syariat Islam. Sistem Islam sudah memberikan solusi tuntas penanganan wabah ketika pertama kali wabah tersebut muncul, lockdown total. Dengan tetap pemimpin akan memberikan kebutuhan pangan untuk rakyatnya.

Karena pemimpin yang dibutuhkan saat ini tak hanya sekedar muslim namun juga yang memahami Islam dan paham akan tanggung jawabnya. Sistem negara yang kuat dan pemimpin yang bertaqwa adalah kondisi ideal dalam menyelesaikan persoalan wabah ini.

Amir atau pemimpin masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab atas (urusan) rakyatnya (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad) .

Adapun negara juga akan menjaga suasa ketaqwaan individu agar tetap memahami taqdir dan bersabar akan ketetapan yg Allah tetapkan bagi hambnya.

“Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid”(HR. Bukhari dan Ahmad)

Sudah saatnya kita kembali kepda identitas kita sebagai seorang muslim, yang hanya wajib mengambil sistem Islam sebagai solusi agar semu masalah bisa teratasi dan nyawa rakyat bisa terselamatkan.
Wallahu a’lam biashshawab.