Oleh: Nurul Irma N, S.Pd

Pandemi Covid-19 masih bergentanyangan menghantui. New normal diberlakukan. Efeknya semakin bertambah jumlah yang terkonfirmasi positif covid-19. Pemberlakuan dibeberapa tempat mulai ditinjau ulang. Perusahaan-perusahaan, pasar-pasar tradisional, mal-mal bahkan rencana pembelajaran tatap muka untuk sekolah.

Menteri Pendidikan sudah menetapkan kalau sekolah zona hijau yang diperbolehkan kembali membuka pembelajaran tatap muka. Itupun harus memenuhi protokol kesehatan. Sedangkan zona merah dan kuning masih melakukan pembelajaran daring. Diperkirakan Desember 2020 atau Januari 2021 baru dibuka pembelajaran tatap muka.

Jadilah bagi siswa di zona merah dan kuning bertambah waktu dirumah. Perasaan bosan kian meninggi merayap. Mengisi kegabutan dengan aneka fasilitas smartphone digenggaman. Berbagai aplikasi dan tutorialnya tersedia lengkap. Tiga medsos yang paling dibidik youtube, Instagram dan twitter. Bahkan kembali booming tiktok, pengguna mayoritas usia muda. Berawal dari sekedar mencoba hingga kecanduan menjangkiti.

Mengejar Tenar Meraup Harta Berlimpah
Semakin mencekram nuansa hedonis, hanya peduli dengan kesenangan dan kenikmatan pribadi. Tak peduli sesuai kehalalan ataukah menabrak keharaman. Berfaedah ataukah unfaedah tak jadi pertimbangan. Yang penting happy.

Konten sepele saja bisa mendatangkan milyaran. Hilang urat malu, ranah privat dalam rumah tangga pun ikut menjadi konten. Tenggoklah akun Baim Paula, Rans Entertaiment, Deddy Corbuzier, Taulany TV, Atta Halilintar, Ricis Official, Gen Halilintar, Arif Muhammad, Sule channel dan The Hermansyah A6. Merupakan 10 youtuber berpenghasilan tertinggi di Indonesia (Kompas.com, 22/06/2020). Tak ayal lagi, secara tidak langsung jadi panutan.

Tak sanggup meniru para artis produksi konten youtube, yang dikelilingi pekerja profesional dengan budget dompet tebal. Tersedialah aplikasi tiktok, siapapun bisa mengupload, apapun itu dengan durasi hemat 15 detik. Pada awalnya tiktok berisi konten joget-joget diiringi dangdut remix. Mekar berkembang dipenuhi aneka konten. Dari yang tutorial hingga prank. Tak mau kalah, tiktok juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah walau tak sebanyak youtube. Penghasilan Youtuber didapat dari iklan yang muncul di video. Kreator (sebutan penguplop konten tiktok) mendapatkannya dengan menarik brand, melakukan kerja sama seperti endorsement. (Merdeka.com, 23/01/2020). Tak ayal lagi, bermunculan konten tak bermakna namun menjadi viral.

Beginilah hasilnya, ketika konten yang dibuat tujuannya hanya tenar dan dapatkan pundi-pundi rupiah semata. Melandaskan arti bahagia pada sekuleris kapitalis, bisa memiliki segala sesuatu dengan mudah ketika mendapatkan harta yang banyak. Pemahaman inilah yang tak terasa meracuni otak. Sehingga wajarlah jika perilaku yang tercermin terkandung syarat materi dan kemanfaatan individu semata.

Kreatifitas Terkenang Abadi
Manusia tercipta disertai dengan kebutuhan fisik dan naluri. Tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan. Kebutuhan fisik munculnya berasal dari dalam tubuh, jika tidak dipenuhi secara terus menerus dalam waktu tertentu mengantarkan pada kematian. Contohnya rasa lapar, haus, buang hajat. Sedangkan naluri perlu rangsangan, baik dari dalam diri manusia (misal : berangan-angan) ataupun berasal dari luar (misal: melihat keberhasilan orang lain). Jika naluri ini tidak dipenuhi yang terjadi kegelisahan semata, tidak mengantarkan pada kematian.

Manusia menampilkan kretifitas yang dimiliki untuk eksis sebagai bentuk perwujudan naluri pengakuan diri. Karena naluri ini diciptakan oleh sang Pencipta Allah Subhanahuwataala sepaket dengan terbentuknya manusia, agar tak carut marut disertai pula rambu-rambunya. Jadi tidak asal eksis dan viral semata.

Ketika keimanan terpancar terbangunlah kreatifitas berefek terkenang siapapun bahkan terancang abadi hingga ke akhirat kelak. Berbuah amal jariyah, bagai sabda Rasullulah : ketika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara), shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang berdoa baginya (HR. Abu Hurairah). Laksana pepatah masyur Gajah mati meninggalkan Gading. Wallahubishawab.