Oleh : Umi Rizkyi (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Seorang gadis SMA, dengan paras yang biasa saja, tidak banyak berteman dan hanya beraktifitas seperti anak seusianya. Setiap hari ia pergi ke sekolah dengan naik bus, berhubung rumahnya masuk gang, jadi ia harus jalan kaki terlebih dahulu. Hari itu ada jadwal mata pelajaran matematika, ada yang spesial di sana. Terlebih dahulu ia mempersiapkan semuanya. Mulai dari buku paket, buku tugas, buku latihan dan mempersiapkan sebaik mungkin untuk mengikuti pelajaran jam pertama itu.

Lia, dengan hati yang penuh rasa senang pengen cepat bertemu dengan sang guru. Padahal sesungguhnya, basicnya Lia tidak begitu menyukai mata pelajaran matematika. Tapi sejak saat itu ada yang spesial. Ada rasa yang mengelitik hatinya. Penuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu, sebenarnya kenapa sang guru ini berbeda dengan yang lainnya.

Suatu saat, dia berkirim pesan pada teman lamanya di bangku SMP, biasa giroh dan semangat anak muda sedang bergejolak. Lia ” assalamualaikum, apa kabar?”
Teman Lia” waalaikumsalam, Alhamdulillah baik. Bagaimana dengan kamu?”
Lya ” Alhamdulillah baik, sehat. Lagi ngapain?”
Teman Lya” Biasa lagi ngaji”
Dengan penuh penasaran, Lya memberanikan diri dan begitu antusiasnya membalas SMS dari temannya tadi.
Lya” ngaji apa an, masak udah tua masih aja ngaji. Kayak anak kecil aja?”
Teman Lya” ngaji Islam”.
Pada saat itu bersambung sudah SMS yang sedang saling berbalas-balasan.

Jatuh waktu, ketika berkomunikasi dengannya, Lya berusaha memberanikan diri, bertanya ” apakah di sini ada ngaji buat cewek?” Karena pada dasarnya selama ini Lya senang belajar agama. Meski membaca di sosial media, media cetak, televisi atau bahkan hanya sekedar mendengarkan ceramah-ceramah di radio.Tiba suatu ketika Lya diperkenalkan oleh sang guru, juga tepat sekali seorang guru yang selama ini menggoda dan mengelitik hatinya.

Selama ini penuh pertanyaan dalam dirinya, kenapa sang guru ini beda dengan yang lainnya. Cara ngomongnya, cara menasehatinya, cara berpakaian itu yang mencolok. Dengan memakai gamis, baju longgar, long dress dengan berkerudung besar. Menutup dada dan bagian belakang menutup pinggulnya.

Alhamdulillah, mereka saling mengatur waktu dan akhirnya bisa rutin setiap minggu sekali. Kala itu memang tidak banyak teman yang bisa ia ajak, tetapi semangatnya menuntut ilmu agama dan mungkin itu yang dinamakan hidayah dari Allah SWT. Juga yang jelas, berkat sang guru yang hebat, keren, luar biasa yang mampu menunjukkan pola pikir dan pola sikap yang Islami. Dengan berjalannya waktu Lya pun intensif mengikuti berbagai agenda.

Walaupun harus mendatangi agenda di luar kota, lokasinya tidak jauh sih, tapi ya lumayan lah. Soalnya harus naik bus, dan masih naik becak untuk sampai ke tempat pengajian itu. Sungguh, hati Lya semakin mantap dan semakin dahsyat akan keyakinan dari kebenaran yang datangnya dari Islam.

Sungguh luar biasa, cinta Lya kepada kegiatan menuntut ilmu dan berusaha sekuat mungkin untuk istiqomah serta mengamalkannya. Hingga suatu hari Lya siap untuk berhijrah dan makin cinta dia kepada Islam. Selalu teringat apa yang disampaikan sang guru, bahwa beramal tanpa ilmu adalah merupakan dosa. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yang artinya ” Siapa saja yang melakukan suatu perbuatan yang tak asa perintah sari kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak” HR Muslim.

Dan juga tentang kewajiban seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu. Yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang artinya ” Menuntut ilmu agama adalah fardlu ain, bukan fardlu Khilafiyah”.