Ditulis : Bunda Humaira

Kacamata. Benda dengan sepasang lensa yang penting bagi mereka yang bermasalah dengan penglihatan. Pemakai kacamata pasti kerepotan dengan aktivitas mata bila kehilangan benda penting ini. Banyak hal lucu sehubungan dengan kacamata dan pemiliknya. Umumnya berkaitan dengan lupa menaruh. Ada yang sudah ‘ngubek’ rumah, eh, tidak tahunya si kacamata nangkring di kepala, baru ketahuan pas bercermin.

Kalau pengalaman saya lebih parah lagi. Kehilangan kacamata bukan hitungan jam atau hari, tapi mingguan tak bersua. Padahal sedang banyak yang harus dibaca. Akhirnya terpaksa mencari pengganti. Dan tanpa diduga akhirnya ketemu sang pujaan mata ini, ternyata ada di tempat yang sehari-hari dilewati berkali-kali. Astaghfirullah. Maka berhati-hati dan membiasakan menaruh di tempat tertentu jadi solusi, meski kadang tetap lupa menaruh di tempat lain.

Kacamata memang penting bagi yang bermasalah dengan mata. Tapi sadarkah kita, ada kacamata yang jauh lebih penting bagi semua manusia agar dia bisa membedakan segala sesuatu, agar tidak salah memilih apa yang Allah tidak ridha dan mana yang Allah ridha. Kacamata yang membuat kita melihat dengan jelas halal dan haram, haq dan bathil. Ya. Kacamata Syariat.

Islam telah menetapkan standar dalam menilai segala sesuatu yaitu dengan standar Syariat sebagai kacamatanya. Bagaimana tidak menjadi penting, bila seluruh hal yang kita lakukan, seluruh perkataan yang kita lisankan, seluruh kalimat yang kita tuliskan harus dilihat dengan kacamata Syariat. Jika syariat menilai suatu perbuatan itu terpuji maka apa yang dinyatakan terpuji oleh syara’ maka selamanya akan terpuji. Sebaliknya apa yang disebut tercela oleh syara maka akan tercela selamanya.

Iman pada Islam mengharuskan kita terikat dengan hukum syara. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam diutus untuk menyampaikan risalah dan menjadi kewajiban kita untuk mengikatkan diri pada hukum/syariat yang dibawa oleh beliau. Dalam QS. An Nisa (04):165, Allah subhanahu wataala berfirman yang artinya :
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Maka barangsiapa yang tidak beriman kepada Rasul pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak atas ketidak imanannya dan ketidak terikatnya dengan hukum yang beliau shalallahu alaiahi wassalam bawa. Siapa yang tidak memakai kacamata syariat akan buram melihat suatu masalah karena tidak nampak halal dan haram, haq maupun bathil baginya.

Syariat membawa maslahat jelas tergambar dalam QS. Al-Anbiya (21):107 yang artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Dalam QS. Yunus (10):57, Allah subhanahu wataala berfirman ; Hai manusia, sesungguhnya telah datang pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman

Syariat adalah kacamata yang membuat jelas halal dan haram, haq dan bathil. Manusia diberiKan akal untuk mampu menilai sesuatu. Akan tetapi akal yang dipergunakan tanpa iman untuk memperjelas pandangan, justru akan menjerumuskan manusia pada kehinaan. Dengan keterbatasan akalnya, manusia tidak mampu melihat hakikat dari kemaslahatan atau kemudharatan sesuatu. Akal hanya mampu melihat fakta sebagaimana adanya. Maka peran syariat yang akan menunjukkan maslahat dan mudharat.

Mengingat keterbatasan akal manusia, maka sungguh aneh dan sombong bila manusia yang telah diberi seperangkat aturan yang akan membawa kebaikan dunia akhirat justru lebih memuja akal dan hawa nafsunya. Merasa mampu mengatur kehidupan. Bisa kita lihat bagaimana kerusakan mengepung dunia saat ini akibat kesombongan manusia. Tidak hanya kerusakan bumi tapi kerusakan akal budi yang dicerabut dari akar fitrahnya.

Agama dipisah dari kehidupan. Hukum-hukum Allah ditinggalkan di tempat ibadah. Akibatnya kerusakan dalam mengatur kehidupan semakin meruyak. Ekonomi diatur sesuai kemauan pemilik kapital. Pengaturan hukum juga tidak kalah rusak. Siapa kuat dia dapat. Seperti Homo homini lupus, sebuah kalimat bahasa latin yang berarti “Manusia adalah serigala bagi sesama manusianya”. Istilah yang pertama kali dicetuskan Plautus dalam karya berjudul Asinaria. Wikipedia

Sebagaimana mata yang sakit yang membutuhkan kacamata agar dapat jelas melihat, begitu pula manusia. Kita butuh syariat sebagai kacamata kita agar dapat melihat dengan jelas mana haq mana bathil, mana halal mana haram. Manusia tidak boleh lepas darinya dalam melihat segala sesuatu. Karena keterikatan dan ketaatan kita pada hukum syara adalah kunci keridhaan Allah subhanahu wataala.

Karena tujuan hidup kita semata adalah mardhatiLlah. Ridha Allah. Jadi janganlah sampai kacamata syariat lepas dari kita karena akan membuat kita serasa buta hidup di dunia. Jangan sampai balada kacamata menjadi kerugian dunia akhirat.

Wallahu’alam bisshawab