Oleh: Maman El Hakiem

Bisa karena biasa. Kebiasaan itu bisa menular. Karena itu hal yang baik harus dibiasakan. Kebiasaan akan membantu seseorang merasa nyaman melakukan hal hal yang baru. Salah satu hikmah dengan adanya wabah covid-19 ini adalah menemukan kebiasaan baru.

Perubahan siklus dan jam kegiatan yang lebih banyak di rumah, jika miskin ide kreatifitas tentu sangat menjenuhkan. Tidak jarang orangtua yang sering marah-marah karena melihat anaknya mengunci diri dengan gatgetnya. Padahal, hidup meskipun harus dalam “tempurung” bisa berkreasi menemukan ide baru,mengasah kepekaan jiwa dan interaksi sosial yang berkualitas. Pola pembelajaran daring jika dimaksimalkan mampu melejitkan potensi diri. Kebiasaan berselancar di dunia maya, jika diimbangi pengawasan orang tua semakin menghidupkan rumah sebagai tempat “sekolah” yang menyenangkan.

Tentu, yang jadi masalah adalah peran orang tua yang harus bisa menggantikan “guru” di sekolah. Tetapi, ini sebenarnya tidak terlalu sulit jika orang tua menyadari kembali, bahwa pendidik sejati sebenarnya bukan orang lain,seperti guru di sekolah,melainkan dirinya selaku orang tua yang harus menjaga amanah, berupa anak yang dititipkan Allah SWT. Orang tua harus menjadi guru terbaik buat anak-anaknya.

Peran sekolah sebenarnya hanya pihak yang “dititipi” dari para orang tua dalam akad “ijaroh”, ini berlaku dalam sistem pendidikan kapitalisme saat ini. Negara yang harusnya memberikan pelayanan terbaik dan gratis bagi kebutuhan pendidikan rakyatnya, telah terjadi komersialisme dan berbagi tanggungjawab dengan fihak swasta. Maka, sekolah swasta menjamur dimana- mana, terkesan elit dan berbiaya selangit. Sedangkan, jika ada sekolah negeri yang berkualitas, sangat terbatas dan sarat permainan “uang kertas”.

Dalam sistem Islam, pendidikan termasuk enam kebutuhan pokok dasar(hajatul asasiyah) rakyat yang harus dipenuhi, seperti pangan, sandang, papan, keamanan,kesehatan dan pendidikan. Tiga poin pertama adalah upaya individual untuk mengupayakannya dengan bekerja atau mendapatkan harta secara halal, negara disini mendorong kemudahan rakyat untuk berpenghasilan yang layak. Sedangkan tiga poin lainnya, keamanan,kesehatan dan pendidikan merupakan tanggungjawab mutlak negara dalam memenuhinya.

Rakyat tidak diperkenankan menyewa tenaga keamanan, mendirikan rumah sakit dan sekolah sendiri, karena semua itu adalah fasilitas publik yang harus dipenuhi negara dalam melayani kebutuhan rakyatnya. Karena itu andai saja negara menerapkan aturan syariah secara kaffah, saat harus mejalani kehidupan di tengah pandemi, segala aktifitas banyak di rumah, termasuk aktifitas belajar. Maka, negara tentu akan memberikan pelayanan maksimal guna terlaksananya proses belajar mengajar dari rumah secara optimal.

Segala kebutuhan yang diperlukan untuk terpenuhinya suatu kewajiban,maka keberadaanya menjadi wajib pula. Negara ketika mewajibkan rakyatnya untuk belajar dan bekerja dari rumah, maka fasilitas penunjangya seperti layananan internet, listrik, air bersih dan lainnya harus diberikan secara gratis.Rakyat tidak boleh dibebani dengan berbagai pungutan saat kondisi lagi susah. Karena hidup dalam “tempurung” membutuhkan kebiasaan baru yang tidak biasa. Jangan malah negara menjadi biang kesusahan bagi rakyatnya.

Wallahu’alam bish Shawwab.***