Oleh: Ummu Syaddad
(Pemerhati Masyarakat)

Tragedi genosida terhadap ribuan nyawa warga muslim Srebrenica, Bosnia, adalah utang dunia internasional terhadap umat islam. Mengapa? Sebab, sudah 25 tahun tragedi keji itu terjadi, belum ada titik terang siapa pihak yang harus mempertanggungjawabkan.

Dunia seakan sengaja menutup mata, saat yang menjadi korban pembantaian adalah umat islam. Ditutup-tutupi, bahkan dialihkan opini supaya umat islam lupa, terhadap apa yang menimpa mereka. Srebrenica yang terletak di benua Eropa, merupakan wilayah Bosnia, dimana kejayaan islam dengan sistem khilafahnya, pernah mengayomi mereka.

Namun, setelah khilafah dihapuskan, tak ada yang bisa menjamin keamanan. Tak hanya umat islam di Bosnia, umat islam di seluruh penjuru dunia menderita. Kesempitan hidup, sampai ancaman nyawa, disetiap persekian detik terasa. Dan dunia hanya menonton saja.

Pelemahan umat islam baik dari sisi internal dengan pendangkalan akidah, disertai dengan dijauhkannya umat islam dari bahasanya Alquran, menusuk ke pusat jantung kekuatan islam. Ditambah adanya gerakan missionaris dengan mengusung tiga G (Glory, gospen, gold) yang menjadi pangkal musabab munculnya sekulerisme dan kapitalme, merupakan pelemahan eksternal bagi umat islam.

Kini, setelah sekian lama umat terus dipecundangi, apakah akan terus berdiam diri? Apakah akan terus membiarkan umat islam di Srebrenica Bosnia, menanti keadilan yang akan menghapus lara yang mereka rasa? Bukankan satu nyawa seorang muslim lebih berarti dari dunia dan seisinya? Apalagi beratus, beribu, bahkan berjuta di dunia selama khilafah tak ada?

Dari itu, tak ada cara lain bagi kaum muslimin, selain kembali pada islam, sebagai pegangan. Diyakini serta diimani, diterapkan dalam aturan kehidupan. Melalui pengayoman seorang khalifah, di atas sistem khilafah rasyidah ‘ala minhaj nubuwwah. Bila itu ada, maka tak hanya warga Srebrenica Bosnia di Eropa, seluruh umat islam dan manusia, akan mendapatkan keadilan yang diharapkan. Insya Allah.

(Ummu Syaddad, Pemerhati Masyarakat)