Oleh : NS. Rahayu

Tomboy Hijrah 1
Oleh : NS. Rahayu

Dipandanginya aliran sungai tempuk dengan sayu. Tempat ini merupakan favoritnya untuk menyendiri melepas gundah. Ada beban yang hendak di larungnya agar lepas hilang mengikuti alir sungai. Tersungging senyum tipis dengan helaan nafas yang panjang, nampak tangannya menghapus air mata yang menetes.

Dia Luthfiana tapi panggilannya Upik, gadis desa yang remajanya pindah ke kota kecil Ngawi. Dia sedang bekerja di Kantor Notaris Wijaya sambil kuliah sore di Universitas swasta Atmaja. Perjalanan hidupnya yang berliku menemukan satu titik yang dipilihnya sendiri. Melawan arus orang-orang yang dekat dan bergaul dengannya.

Masih terngiang dalam benaknya kata-kata yang sulit diterimanya. Dia tidak menyangka itu diucapkan oleh kakaknya sendiri, keluarga yang dalam benaknya akan memberikan dukungan.
“Kowe wi sok suci, sinau agama ora kok arep brukutan. Gaweyan menak tur jelas malah di tolak, goblok! Jilbaban lagi dek ingi wae wes sok-sokan” ujar Sapta kakaknya emosi mendengar curhatan adik bungsunya ini.
(artinya : Kamu itu sok suci, tidak belajar agama justru mau menutup tubuh. Ada pekerjaan mapan dan pasti malah di tolak. Goblok! Jilbaban baru kemarin saja sudah sombong)

Semua berawal saat Upik memutuskan menutup aurat. Bukan hal mudah pula baginya memenuhi keinginannya tanpa bekal agama sedikitpun. Lahir dikeluarga abangan (agama Islam biasa dan minim) sehingga sekolah di sekolah umum bahkan SMPnya dipilihkan yang terdekat rumah itupun SMP Katholik. Tak punya landasan agama apapun tapi memilih menutup aurat. Rapuhkan.

Hingga kemudian dia bekerja di Kantor Notaris Wijaya dan mulai bergaul dengan masyarakat luas, berpendidikan dan beruang. Ragam pergaulannya ini membuatnya mulai berwawasan luas. Diapun juga mampu menilai menurut cara pandangnya sendiri. Ini yang membuat awal perubahannya.

Setiap melihat wanita menutup aurat Upik selalu merasa senang dan adem sekali. Diam-diam hatinya terpesona dan mulai mencicil pakaian-pakaian panjang berikut jilbabnya (krudung) sambil menata hatinya. Dan jeng-jeng. Dikenakannya pakaian menutup aurat yang sudah diperhitungkan jumlahnya agar bisa konsisten. Namun baru berjalan sesaat ujian-ujian keistiqomahan persatu muncul.

Ada godaan besar. Banyaknya relasi bank dan para pengusaha membuatnya kecipratan rejeki. Bahkan menawarinya untuk ikut kerja bersama. Namanya pak Didik, kapal cabang Bank Cahaya yang sudah terkenal seantero Indonesia.

“Mbak Pik, saya senang sama kinerjanya”, ujarnya di sela-sela tanda tangan berkas piutang
“Oh ya? Makasih ya pak, moga bisa berlanjut”, balas saya basa-basi biasa dalam kerjasama
“Saya serius lo, mau gak kerja disini, ikut saya”, kali ini blio menatap saya dengan lurus. Saya terkesiap dengan pandangannya karena saya tahu betul kapan pak Didik bercanda dan serius. Kali ini saya yang tergagap tak mampu menjawab sambil menunduk.
“Tenang saja, nanti saya yang bilang ma Bossmu. Pasti dilepas”, sergahnya kembali.
“Baiklah, tapi bolehkan saya berkerudung?”, tidak tahu saya sadar atau tidak tapi kata itu keluar begitu saja.
“Ya mbak Upik tahu sendirilah kinerja kami”, jawabnya sudah tertebak tanpa perlu penjelasan.
“Saya pikirkan dulu ya pak”, saya kemudian berpamitan kembali ke kantor.

Berkecamuk isi hati dan kepalaku, bagaimana tidak? Pekerjaan yang saya inginkan sedari dulu dan dengan mudah bisa ku peroleh tanpa kesulitan apapun sudah di depan mata. Ibarat mendapat durian runtuh, tinggal menikmati. Banyak orang mengingginkan pekerjaan ini tapi tidak mendapat kesempatan bagus ini, pikir saya.

Tapi … bagaimana dengan pakaian saya? Meski baru 2 bulanan kukenakan tapi aku juga tidak ingin melepasnya. Dilematis sekali. Akhirnya saya hendak mencari dukungan siapa lagi kalau bukan keluarga. Saya sampaikan kecamuk dalam kepala ini kepada ibuk bapak dan kakak. Tapi semua menganggap saya naif ketika beralasan ingin terus berjilbab.

“Saya ingin terus menutup aurat, saya nyaman dengan pakaian ini”, kelit saya dengan kesedihan.
Hingga keluarlah kata-kata kakak itu. Sebenarnya itu bukan cemoohan pertama yang saya dapat. Maklum saya bukan wanita alim yang lembut dan bisa bertutur manis.

Saya orang yang terbiasa mandiri, tomboy dan to the point. Hingga perubahan ini sulit dipercaya. Dari keseharian pakai jeans dan kaos oblong cowok plus dengan topinya. Lebih PD bicara dengan lelaki timbang wanita, karena wanita ribet, baperan sih, jadi males.

Namun cemoohan itu bagai angin lalu, prinsip saya baik buruk akan dipergunjingkan, silahkan, nanti juga akan berhenti dengan sendirinya. Tapi ketika yang mengucapkannya orang terdekat dan orang-orang yang disayangi menjadi palu godam yang terasa banget sakitnya.

“Ya Allah, apa sebenarnya yang kau kehendaki atas diri ini”, teriak batinku di tepi kali tempuk.
“Aku ingin sekali Kau bimbing, ingin sekali mempertahanan pakaian ini, ingin berubah. Aku harus bagaimana sekarang?. Aku merasa sendirian dan takut tergoda lagi”,

Sudahlah saya juga tidak ingin terlihat seperti orang strees dipinggiran kali, seorang wanita duduk sendiri tanpa tujuan jelas sesekali melempar batu ke air sungai selama berjam-jam. Mungkin orang lain yang memperhatikan akan katakan saya sedikit gila atau mereka takut saya malah nyebur.

Entahlah, saya tahu satu tempat yang lebih menenangkan. Rumah. Dalam kamar, sujud menyerahkan semua urusan pada Allah, SWT.

Seminggu berikutnya saya bertemu pak Didik lagi, amat sulit sebenarnya menolak kebaikannya. Tapi saya sudah yakin dengan pilihan saya setelah ikut kajian bahwa rezqi, jodoh, maut adalah urusan Allah. Kita sebagai seorang hamba ciptaan harus mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya.

“Gimana mbak Upik sudah dipikirkan?”’ tanyanya sambil membaca berkas yang saya berikan. Saya mengangguk kecil sambil tersenyum.
“Pangapunten (maaf), biar saya tetap ikut pak Wijaya saja”, jawab saya
“Gak nyesal nanti? Ya udah gak papa”, sambil mengembalikan berkas yang saya serahkan.

Tidak akan kusesali pilihan ini, saya ingin istiqomah menutup aurat meski godaan silih berganti datangnya. Dan mulai rajin ikut kajian berteman dengan wanita-wanita sholehah yang telaten membimbing kengeyelanku.

Ngawi, 20 Juli 2020

Ikuti sambungannya ya …