Oleh: Putri Sarlina (Mahasiswi Fakultas Syariah & Hukum Uinsu)

Kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru 2020/2021 belum digelar di Medan. Hal ini karena Medan masih zona merah Corona. Namun di Medan masih ada sekolah yang muridnya tetap hadir antara lain SMA Al Ittihadiyah di Jalan Abdul Haris Nasution, SMP/SD Pembangunan dan Yayasan Yapena di Jalan Brigjen Katamso. Sayangnya, para siswa tersebut masih abai terhadap protokol kesehatan, seperti jaga jarak maupun mengenakan masker. Tidak sedikit yang enggan memakai masker ketika datang ke sekolah.
Hal ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah juga masyarakat, mengingat orang tanpa gejala (OTG) juga semakin meningkat jumlahnya seperti kasus Rektor USU dan Wakilnya positif corona yang dilansir dari kompas.com (13/07/2020) Direktur Utama Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara, dr Syah Mirsya Warli menyatakan Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Runtung Sitepu positif Covid-19. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumatera Utara, Mayor Kes dr Whikho Irwan menginformasikan ada 42 pasien baru yang positif covid per Selasa (21/7/2021) sore.

Longgarnya pengawasan dari pemerintah bisa berakibat fatal bagi dunia pendidikan. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan surat edaran yang belum memperbolehkan sekolah secara offline, namun pemerintah juga harus bertindak tegas kepada sekolah-sekolah yang masih membiarkan muridnya datang ke sekolah serta memberikan solusi atas dilema yang dihadapi sekolah karena belajar daring secara terus menerus tidak akan mencapai hasil yang ditargetkan oleh sekolah.
Inilah sebagian dilema yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Negara hingga kini belum sanggup untuk tampil sebagai pemberi solusi tuntas dikarenakan asas sistem kapitalis-sekuler lebih memprioritaskan roda ekonomi ketimbang keselamatan rakyatnya. Sudah menjadi rumus tetap bahwa kegiatan ekonomi, kebijakan politik, serta sistem pendidikan harus bersinergis.
Pemerintah harus tampil sebagai “pemberani” untuk menyelesaikan tuntas dampak pandemic yang saling berkaitan ini. Jika tidak imbauan akan seperti angin lalu saja tanpa mampu menuntaskan persoalan pandemik corona ini. Maka kebijakan revolusioner hanya bisa diterapkan oleh sistem Islam.

Secara historis negara Islam mampu menjadi tameng bagi rakyatnya dari pandemi yang mematikan tanpa mengeluarkan kebijakan inkonsisten yang akan berdampak fatal.
Berbeda halnya dengan sistem Islam yang justru menjadikan pendidikan, ekonomi,serta keamanan sebagai kebutuhan dasar masyarakat sehingga jika terjadi pandemi, negara dari awal sudah melakukan tindakan pencegahan sesuai metode Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sehingga kasus seperti di Medan khususnya dan di Indonesia secara umum tidak akan terjadi.
Allahu’alam bishawab