Ditulis : Bunda Humaira

Anak adalah kerinduan bagi keluarga yang belum dikaruniai keturunan. Tapi anak juga ujian bagi yang sudah mendapat amanah. Sebagai generasi harapan umat, anak harus diberikan pendidikan terbaik. Menjadi tanggung jawab orangtua untuk mengantarkan mereka menjadi mutiara umat.

Anak dilahirkan dalam keadaan suci. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Dalam pandangan Islam, orang tua mesti menumbuhkembangkan anak mereka agar tetap memegang teguh Tauhid. Lebih dari itu, mereka juga semestinya terus berupaya menjadikan anak-anaknya Muslim yang baik, yang dapat menjadi kebanggaan Rasulullah SAW, di dunia dan akhirat kelak (Yunahar Ilyas, Republika.co.id)
Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah bersabda : Tidak ada pemberian orangtua yang paling berharga di dunia daripada pendidikan akhlak mulia.

Masih hangat dalam ingatan, beberapa waktu lalu medsos ramai oleh kemarahan para netizen atas komentar miring anak-anak TPA yang disebut calon teroris. What?!? Calon teroris? Astaghfirullah.

Biarlah anjing menggonggong, kita tetap melanjutkan mendidik anak kita menuju uyyunul ummah. Mutiara Umat. Caranya tidak lain dengan terus memperkuat akidah mereka, menanamkan izzah yang kuat sebagai seorang muslim. Bahwa seorang muslim haruslah mampu memimpin. Memimpin perubahan menuju perbaikan. Karena penguasa telah abai pada pendidikan akidah dan akhlak dengan berbagai moderasi. Maka tugas orangtua menjadi semakin berat karena kerusakan di luar rumah sudah mencemaskan bahkan cenderung mengerikan.

Gagal menjadi pengusaha, itu biasa. Tapi gagal menjadi ayah-ibu, wah dampaknya bisa puluhan tahun, bahkan sampai akhirat. Indikator keberhasilan mendidik anak itu bukan anak sudah bisa jadi apa, anak sudah sehebat apa, anak sekaya apa, atau lainnya yang hanya bisa diukur dengan materi. Hati-hati karena hal itu melenakan. Sebab semua itu tidak ada artinya bila meninggalkan luka atau tidak meninggalkan kedamaian di hati orang tua kala usia senja atau justru menggerus amalan orang tua di akhirat kelak akibat kelakuan anaknya ( birenaalhuripb.wordpress.com )

Mendidik anak bukan perkara mudah, karena orang tua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Oleh sebab itu, sebaiknya orangtua mengetahui prinsip mendidik anak menurut al-Qur’an (osolihin, makassar.tribunnews.com).

Hal pertama yang harus dipahami orangtua bahwa anak kita adalah takdir Allah. Sebagaimana terdapat dalam QS. Ash-Shura (42) : 49: Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki

Allah tidak menyuruh kita mendidik anak sukses hanya di dunia tapi anak shalih yang bebas dari api neraka (QS. At-Tahrim (66):6). Karena bila kita salah mendidik anak maka yang terjadi sebagaimana firman Allah dalam QS. Maryam : 59 ; Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

Mendidik anak adalah tugas orangtua. Hendaklah kita tidak berfikir tentang hasil akhir, tapi bersungguh-sungguhlah dalam mendidiknya. Mendidik sampai kematian memisahkan kita QS. Al Hijr (15):99; _ dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)._

Semua hal yang berkaitan dengan pendidikan anak, dengan peran sentral orangtua tentu saja akan lebih ringan bila negara berperan di dalamnya. Dengan adanya aturan pendukung, sarana dan prasana pembelajaran yang kuat maka bisa diharapkan terlahir para ‘Ghazi’ masa depan. Islam telah membuktikannya dalam peradaban yang berusia ratusan tahun. Negara dan rakyat berada dalam satu pemahaman yang sama akan pentingnya pendidikan sehingga menghasilkan sinergi hebat yang mencetak ilmuwan sekaligus para alim. Menghasilkan para Ghazi yang hebat olah fisik sekaligus olah batin. Masyaa Allah. Semoga Allah meneguhkan perjuangan kita hingga saatnya pulang dan mendapat kemenangan di yaumil akhir kelak. Aamiin.