Oleh: Desi Wulan Sari
(Member of Revowriter)

Diperpanjangnya masa belajar di rumah membuat sebagian besar ibu-ibu pusing lantaran harus mempersiapkan segala kebutuhan belajar anak-anaknya dari A sampai Z demi kelancaran pendidikan sang buah hati.

Nyatanya, tidak cukup sampai disitu, kebutuhan akan tenaga pengajar di rumah pun menjadi persoalan baru. Tidak hanya dipusingkan alat pendukung sekolah daring seperti kuota, hp android, laptop yang wajib ada jika ingin pembelajaran KBM lancar dan nyaman.

Seperti yang disampaikan seorang Ibu yang mengeluhkan pembelajaran online. “Saya sangat pusing dengan cara belajar online ini,anak saya baru masuk SD dan belajar di rumah dan yang satu lagi kelas 6 SD saya harus mendampingi anak anak setiap paginya belajar online sementara pekerjaan rumah numpuk yang harus dikerjakan,belum lagi mau nyiapin makan anak anak dan nyari uang buat beli beras dan ditambah pulah beli paket data,sementara perekonomian seperti ini dapat beli beras saja udah ssyukur,” keluh Mar (amunisinews.co.id, 22/7/2020).

Saat ini, ribuan keluhan serupa banyak ditemui akibat ketidaksiapan dari proses pendidikan ala “mandiri” yang dadakan dan tidak terkonsep secara baik. Melihat sistem pendidikan yang belum jelas arahnya, justru akan membuat bertambah sulit kegiatan belajar daring. Guru saja dibuat repot dengan urusan belajar daring apalagi orang tua yang dibuat pusing tujuh keliling, karena tiba-tiba harus menjadi guru dadakan yang serba bisa
untuk anak-anaknya.

Inilah yang perlu disadari oleh masyarakat, ketika pendidikan diserahkan pada sistem kapitalis, semua kebijakan yang dihasilkan oleh penguasa sebagai pengambil keputusan akan selalu diarahkan pada kesuksesan materil. Yang tentu saja, jika rakyat tak lagi memiliki modal untuk meraih pendidikan, maka otomatis akan tersingkir. Dimana akan selalu ada diskriminatif pendidikan dari fasilitas, kualitas dan akses yang diterima.

Berrbanding terbalik dengan pendidikan yang diberikan oleh Islam. Sejak hari pertama Islam diturunkan untuk umat manusia, dan sejak itulah Islam telah mendorong literasi dan pendidikan. Dalam Kitab Suci Alquran, Allah berulang kali menekankan pentingnya pendidikan. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang telah diberi pengetahuan.” (Quran 58:11)

Pentingnya pembelajaran dalam Islam ini berdasar pada fakta bahwa Nabi Muhammad menjadikan pendidikan sebagai bagian integral dari Islam. Nabi Muhammad mendirikan Sesi Pengetahuan pertama di Dar’ul Arqam.

Hingga masa Daulah Islam berjaya dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan berada di puncak keemasan sebuah peradaban, yaiitu peradaban Islam. Di masa itu seorang guru merupakan yang sangat dihormati dan dijamin penuh seluruh kebutuhannya. Para ilmuwam dan penemu teknologi modern berhasil diciptakan dengan keimanan yang tinggi.
Sedangkan seorang wanita di masa itu, sejak dini diajarkan berbagai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan yang sangat luas, untuk bekal dirinya kelak sebagai madrasatul ‘ula pencetak dan pendidik generasi cemerlang di awal kehidupannya yaitu baiti jannati, rumah bagi anak-anaknya.

Bayangkan, jika setiap muslim memiliki modal dan karakter kuat layaknya didikan sistem Islam, tentu tidak akan repot dan pusing akibat dadakan belajar daring dan menjadi seorang guru di rumah seperti kondisi saat ini. Seiring dengan itu negara sebagai pengatur masyarakat akan selalu memberikan akomodasi serta kemudahahan akses pendidikan yang dibutuhkan.

Jadi, sistem manakah yang mampu meriayah rakyat dalam dunia pendidikan? Sistem kapitalisme dengan hasil yang bikin pusing seperti sekarang ini? Atau sistim Islam yang menjunjung tinggi pendidikan sebagai nilai peradaban dunia? Pilihan ada pada diri kita sendiri. Wallahu a’lam bishawab.