Oleh : Ida Yani

Pembantaian yang terjadi di Srebrenica tahun 1995 silam jadi sejarah kelam yang melingkupi Eropa. Ribuan warga muslim Bosnia menjadi korban dari peristiwa itu (detiknew.com).

Kota Srebrenica di kawasan Bosnia dan Herzegovina menjadi saksi bisu terjadinya pembantaian ribuan warga muslim Bosnia pada tahun 1995 silam. Peristiwa pembantaian itu disebut sebagai salah satu upaya genosida yang pernah
terjadi di Eropa.

Pembantaian Srebrenica tak hanya menjadi catatan kelam bagi Eropa. Pembantaian itu juga menjadi catatan buruk bagi PBB, karena tentara UNPROFOR yang dibentuk PBB memicu kontroversi dan kecaman usai menukar 5.000 pengungsi dengan 14 tentaranya yang ditahan oleh pasukan Mladic. Pasukan Belanda berdalih mereka juga berpotensi menjadi korban pembantaian hingga kemudian memutuskan menukar para pengungsi Bosnia.

Aneh rasanya tentara yang notabene adalah perwakilan dari PBB untuk melindungi warga yang terancampun merasa jadi korban pembantaian.
Lalu bagaimana dengan mereka yang kelaparan karena tidak mendapat pasokan bahan makanan, diperkosa dan dibunuh baik di rumah- rumah maupun kamp- kamp yang katanya tempat perlindungan bagi si tertindas.

Satu fakta lagi, PBB yang punya misi menjaga perdamaian dunia, tak bisa berfungsi memberikan rasa damai. Bagi semua pihak.

Muslim Rohingya tak kalah tragis nasibnya.
Sejak tahun 2012 lalu mereka juga jadi korban kebengisan pemerintah Myanmar. Ketika ada uluran tangan negeri tetanggapun tak mampu menjangkau mereka karena konsep Nation State.Tinggalah mereka terlunta jadi manusia perahu dan korban perdagangan manusia.

Dari sini nampak seperti
apa sebenarnya sepak terjang PBB yang jelas bertolak belakang dari slogan yang digembar- gemborkan.

Kholifah Al Muhtasim Bilah. Demi membela seorang wanita dari pelecehan kaum Romawi di kota Ammuriah, sang kholifah memberangkatkan pasukan dalam jumlah yang besar. Apalagi jika ada kasus seperti di atas bisa kita bayangkan apa tindakannya. Karena jiwa 1 kaum muslim saja lebih berharga daripada dunia seisinya. Dan kehormatan 1 wanita saja sangat dijaga.

“Sesungguhnya kholifah itu perisai, dimana (orang- orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaannya).(HR Muslim).

Jadi kholifah akan menjaga seluruh warga negara dan dengan keagungan kekuasaannya akan disegani kawan maupun lawan.
Bisa kita bayangkan dengan kondisi kemajuan dunia saat ini dalam berbagai bidang tentu seorang kholifah bersama dengan Muawin dan semua perangkat Negara dengan mudah akan menggilas kekejian di seluruh pelosok dunia.
Ketika PBB dan perlengkapannya tidak bersungguh- sungguh dengan misinya.

Jadi tragedi Srebenica dan perang Bosnia menjadi pelajaran penting bagi anak umat ini, bahwa tanpa khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan untuk kepentingan negara besar, yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa muslim.

Juga bukti tidak adanya perlakuan adil PBB terhadap Negara berpenduduk muslim. Bahkan PBB menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslimin.
Allahu Akbar.