Oleh: Maman El Hakiem

” .. Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa,oleh sebab itu segala bentuk penjajahan di muka bumi harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”

Petikan pembukaan UUD 1945 tersebut begitu hapal karena dibacakan setiap apel Senin pagi. Harusnya rakyat di negeri ini, memahami hakikat kemerdekaan yang sejati,bukan sekedar merayakan kelahiran Proklamasi, 17 Agustus 1945. Maka, maraknya bendera merah putih di bulan Agustus tidak lagi sekedar seremoni, bukan pula cermin nasionalisme yang buta perjalanan sejarah.

Sebenarnya makna merdeka itu sederhana. Terbebas dari belenggu penjajahan. Penjajahan atau imperialisme adalah ekspansi kekuasaan yang sering dilatar belakangi oleh motif ekonomi. Itulah yang dilakukan para penjajah asing yang pernah menjajah negeri ini secara fisik seperti Portugis, Belanda dan Jepang. Adapun Inggris adalah negara adi daya yang ikut membonceng karena berada dibalik segala imperialisme.

Keberadaan penjajah asing secara fisik tentu karena peran negara adi daya yang memiliki pengaruh kuat di dunia saat itu seperti Inggris dan Jerman. Persaingan dua negara besar dan kuat dunia saat ini adalah Amerika dan Cina, meskipun tidak menjajah secara fisik, tetapi erat kaitannya dengan pertarungan ideologi. Kenapa? Karena ideologi adalah konsep yang wajib diterapkan, maka keberadaan negara menjadi penentu keberlangsungan hidupnya ideologi tesebut. Ideologi itu sifatnya diadopsi, dipertahankan dan disebarkan.

Oleh karena itu imperialisme saat ini, selain karena nafsu materialisme, juga karena adanya misi ideologis. Sehingga wajar, meskipun penjajahan secara fisik telah tiada, namun jejak ideologinya membekas, dan selalu dirawat agar tumbuh subur oleh mereka yang mengikutinya. Inilah yang terjadi di negeri ini, merdeka baru setengah tiang bendera. Masih banyak duka, rakyat menangis karena duka keterjajahan secara ekonomi dan ideologis.

Hak kemerdekaan yang masih dirampas itu seperti kekayaan alam negeri ini yang terus diekploitasi asing,kebebasan menjalankan syariat Islam yang sering dikriminalisasi, kemiskinan secara struktural karena distribusi kekayaan yang hanya dikuasai segelintir orang saja, dan tentu yang sangat menyedihkan tejajahnya negeri ini karena tunduk pada utang luar negeri yang terus menggunung.

Segala persoalan ekonomi dan sosial, juga harga diri bangsa yang masih terjajah ini. Disebabkan oleh satu akar masalahnya,yaitu hilangya jati diri sebuah bangsa yang berdaulat. Kedaulatannya masih berada pada rakyat yang masih terjajah dari sistem yang dulu diterapkan oleh penjajah,yaitu sosialisme dan kapitalisme. Padahal, kalau mau menelusuri akar sejarah kemerdekaan di negeri ini secara jujur. Kemerdekaan ini dipertahankan oleh para syuhada yang rela bermandi darah di medan laga dengan pekikan takbir. Artinya mereka berharap terbebas dari segala bentuk penjajahan di muka bumi dengan penerapan syariah secara kaffah, karena ajaran Islam yang menjadi spirit, mampu memberikan rasa aman, tenteram, berperi-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Wallahu’alam bish Shawwab.***