Oleh : Vega Rahmatika Fahra, SH

Tak dapat di pungkiri, sistem ekonomi yang menganut ribawi jelas tidak mampu mensejahterakan umat, tapi semakin membuat sengsara umat dan semakin terpuruk dalam kubangan rezim dzolim yang penuh keserakahan, individualis, hedonisme, spekulasi, gharar dan curang yang menjadi penyebab utama terjadinya krisis keuangan.

=====

Corona telah meluluh lantakkan dunia, tak terkecuali Indonesia, bahkan negara-negara dengan ekonomi maju pun terkena resesi ekonomi, setelah pertumbuhan ekonomi mereka minus pada dua kuartal berturut-turut.

Resesi ekonomi adalah kondisi perekonomian sebuah negara dan rakyatnya sedang memburuk. Ditandai oleh berkurangnya produksi, melemahnya pendapatan, meroket atau merosotnya harga barang, dan bertambahnya pengangguran.

Setidaknya ada enam negara yang sudah mengumumkan terjadinya resesi ekonomi, bahkan terhitung sejak akhir 2019. Padahal negara-negara tersebut digolongkan oleh Bank Dunia ke dalam high income countries alias negara-negara maju dalam hal pendapatan per kapita.

Negara-negara maju yang mengalami resesi adalah:
Pertama, Korea Selatan
Pertumbuhan ekonomi pada pada kuartal II 2020 minus sebesar 3,3 persen (qtq). Ini merupakan resesi ekonomi pertama kalinya bagi Korea Selatan dalam 37 tahun.

Kedua, Singapura
Ekonomi Singapura pada kuartal II 2020 terpuruk hingga minus 41,2 persen (qtq). Ini merupakan ekonomi yang terburuk di Singapura sejak 1965.

Ketiga, Jepang
Jepang mengalami resesi lagi setelah lima tahun. Secara kuartalan ekonomi kuartal I 2020 minus 0,9 persen. Sementara pada kuartal sebelumnya yakni ke IV di 2019, ekonominya minus 1,9 persen.

Keempat, Jerman
Ekonomi Jerman minus 2,2 persen pada kuartal I 2020. Angka itu lebih dalam dari sebelumnya, yakni kuartal IV 2020 yang minus 0,1 persen.

Kelima, Prancis
Pertumbuhan ekonomi Prancis minus 5,8 persen di kuartal I 2020. Dan ini merupakan yang terburuk sejak sejak 1949.

Keenam, Italia
Pertumbuhan ekonomi Italia dilaporkan minus 4,7 persen, lebih buruk dari kuartal IV 2019 yang minus 0,3 persen. Ini merupakan ekonomi terburuk di Italia sejak tahun 1995. (Kumparan, 24/07/2020)

Perekonomian dunia berada di ambang ketidakpastian akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Begitu juga dengan perekonomian Indonesia yang diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi.

Jika negara-negara maju saja sudah mengalami resesi, lalu bagaimana kabar Indonesia sebagai negara berkembang? amankah Indonesia dari ancaman resesi ekonomi?

Dalam peluncuran laporan Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, tak ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Ekonomi Indonesia bisa mengalami resesi jika infeksi COVID-19 terus bertambah banyak.

Indonesia jelas saat ini pun sedang diambang resesi. Karena pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 akan kontraksi di kisaran minus 3,5 persen hingga minus 5,1 persen, dengan titik tengah di minus 4,3 persen. Ditambah dengan semakin banyaknya jumlah korban positif corona, semakin banyaknya jumlah pengangguran ,tingginga angka kemiskinan dan semakin banyaknya utang ke luar negri.

Inilah bukti kegagalan sistem kapitalisme dalam mengelola perekonomian, tidak hanya menimbulkan kacaunya ekonomi nasional, namun sampai pada tahap global. Tak dapat di pungkiri, sistem ekonomi yang menganut ribawi jelas tidak mampu mensejahterakan umat, tapi semakin membuat sengsara umat dan semakin terpuruk dalam kubangan rezim dzolim yang penuh keserakahan, individualis, hedonisme, spekulasi, gharar dan curang yang menjadi penyebab utama terjadinya krisis keuangan.

Dampak buruk dari resesi adalah potensi bertambahnya jumlah pengangguran, kemudian meningkatnya angka kemiskinan dan ada dampak-dampak yang sebenarnya terlihat dampak sosial non ekonomi.

Padahal ada sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan perekonomian umat, yang sudah terbukti selama 14 abad diakui keberadaannya, yaitu sistem ekonomi Islam.

Bagaimana cara Islam mengatasi resesi ekonomi global?
Pertama, mengubah perilaku buruk pelaku ekonomi. Untuk mengubah pola pikir dan pola sikap para pelaku ekonomi yaitu dengan diperkenalkan dan ditanamkan pada diri seseorang akidah Islam.

Kedua, dengan melakukan tata kelola pemerintahan sesuai syariah dengan tujuan untuk memberikan jaminan pemenuhan pokok setiap warga negara (Muslim dan non-Muslim) sekaligus mendorong mereka agar dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kadar individu yang bersangkutan yang hidup dalam masyarakat tertentu.

Ketiga, melaksanakan dan memantau perkembangan pembangunan dan perekonomian dengan menggunakan indikator-indikator yang menyentuh tingkat kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya.

Keempat, menstabilkan sistem moneter dengan mengubah dominasi dolar dengan sistem moneter berbasis dinar dan dirham, kemudian mengganti perputaran kekayaan di sektor non-riil ke arah sektor riil.

Kelima, menstabilkan sistem fiskal dengan membagi 3 jenis kepemilikan: kepemilkan pribadi; kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Seluruh barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak dan masing-masing saling membutuhkan, dalam sistem ekonomi Islam, terkategori sebagai barang milik umum dan tidak bisa dimiliki oleh individu.

Sungguh menakjubkan cara Islam mengatur perkonomian masyarakat, sehingga tidak akan terjadi resesi ekonomi yang menyusahkan umat. Maka sudah selayaknnya mengembalikan kembali kedaulatan umat dengan menegakkan kembali Khilafah.