Oleh : Pipit Fitri Dianti
(Komunitas Pena Islam)

Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang mewaspadai terjadinya kebakaran hutan. Dengan upaya pencegahan, antisipasi, mitigasi, dan sosialisasi kepada masyarakat dilakukan sedini mungkin. Sebab Pemerintah Sumedang bercermin dari tahun kemarin jumlah kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumedang mencapai 91 kali kejadian. Angka yang cukup tinggi. Ini diakibatkan selain cuaca panas yang ekstrem kebakaran hutan juga terjadi karena ulah manusia seperti membuang puntung rokok sembarangan hingga memicu kebakaran, bakar-bakar di sekitar lahan dan hutan (DetikNews, 30/7/2020).

Kebakaran hutan yang sering terjadi seolah menjadi kebiasaan di musim kemarau. Faktor cuaca panas dan kering bisa jadi penyebabnya. Tapi bukan menjadi rahasia lagi, bahwa musim kemarau dijadikan kesempatan untuk membuka lahan-lahan baru dengan modal yang sedikit, terutama dilakukan oleh para kapitalis.

Bagi para kapitalis, untuk membuka lahan baru dengan cara membakar lahan selain cepat pengerjaan tentu tidak banyak energi dan biaya yang keluar. Keuntunganlah yang terlihat di depan mata mereka. Tidak peduli dengan dampak atas perbuatannya. Kerakusannya terhadap dunia telah menutup hatinya dari bahaya-bahaya bagi masyarakat sekitar bahkan negara tetangga. Padahal, kebakaran yang semakin meluas dapat menjadi musibah bagi yang lainnya.

Sementara itu, kasus pembakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan pada tahun sebelumnya dengan faktor kesengajaan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Tindakan negara dalam masalah ini hanya pada posisi sebagai pemadam kebakaran saja. Bukan sebagai pencegah kebakaran. Karena lemahnya regulasi dan aturan dan sanksi yang tidak tegas. Kalaupun ada pelaku yang ditangkap, hanya orang-orang pesuruh saja, bukan dalang.

Bagaimana tidak akan terulang, jika dalangnya masih bisa berkeliaran dan tetap melakukan hal serupa sebab sanksi yang tidak tegas. Kolusi antara penguasa dan pengusaha juga menjadi faktor yang harus diperhatikan. Semua ini terjadi di sistem Sekular Kapitalisme. Tidak peduli rusak lingkungan, bahaya kesehatan, yang penting untung.

Solusi yang tak kunjung menyelesaikan masalah dalam sistem ini, tentu menyadarkan kita untuk mencari solusi lain, yakni Islam. Hanya Islamlah yang dapat menyelesaikan segala masalah tak terkecuali kebakaran lahan ini.

Dalam Islam hutan adalah milik umum. Tidak boleh dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang. Dari sini jelas tidak boleh kepemilikannya diserahkan ke pihak swasta. Karenanya, Negara wajib untuk menjaga dan mengelola untuk rakyatnya. Pemanfaatannya pun diatur supaya semua masyarakat bisa mengakses dan mendapatkan manfaat secara adil dari hutan. Tentunya Negara juga memberikan tindakan tegas bagi yang melanggar dan merusak. Dengan begitu, kasus pembakaran hutan dan lahan secara liar akan lebih dapat diminimalisir. Bahkan, bisa ‘nol’ karena masyarakat juga menyadari bahwa hutan adalah milik umum yang harus kita jaga kelestariannya. Wallahu’alam bishshowab.