Oleh : NS. Rahayu

Sapta kesal sekali dengan adiknya. Bagaimana tidak kesal, adik kesayangannya itu mendapatkan kesempatan yang wow banget menurutnya, tinggal jalani dan setelah itu hidup enak dan punya prestise. Bodoh! Rutuknya dalam hati hingga keluarlah kata-kata kasar tanpa kendali.

Tapi ketika melihatnya menunduk dalam kesedihan dan kemudian melihatnya dengan pandangan tak berdaya tanpa menangis namun tergurat besarnya kekecewaannya, Sapta terkesiap. Membuat rasa kesalnya berhamburan kemana-mana.
“Upik maafkan kakak”, batinnya bergumam karena kata itu tertahan tak bisa keluar dari lisannya.

Dia teringat kemanisan adiknya itu padanya.
“Nih pakai untuk kakak”, katanya sambi menyerahkan kresek hitam.
“Apa ini kayaknya sesuatu sekali?”.
“Baju mas, masak klo kondangan bajunya kumuh, isin aku nek bareng”, timpalnya njegeges sambil meninggalkan saya.
“Tahu aja, saya lagi butuh, thanks ya”, teriakku
“Yoi”. Sambil melambaikan tangannya.
Tahu saja si Upik ini klo kakaknya masih berstatus pengangguran meski berstatus sarjana, belum bisa beli apapun.

Atau kadang diam-diam dan itu sering terjadi, motornya full bensin dan di tinggal di rumah. Sementara dia dengan PDnya gowes ke kantor tanpa canggung. Siapa lagi yang pake motornya, ya saya, sepertinya Upik paham dunia laki-laki yang suka nglayap, dia milih ngalah.

“Upik upik. Kakak kelewatan ya”. Sesal yang tiada guna. Seumurku ini kamu tidak pernah merepotkan aku bahkan banyak membantu. Hasil keringatmu kau gunakan untuk kuliah mandiri. Gak nyusahkan orang tua juga. Bahkan kalau gajian dijamin keluarga makan enak yang kau masak dengan tanganmu sendiri.

Kami 3 bersaudara. Dia cewek sendiri, mungkin karena kakaknya cowok semua dia jadi ikutan tomboy. Tapi uniknya di luar saja di kenal tomboy dari cara berpaiannya dan temannya, tapi upik punya instinc kewanitaan yang tidak dimiliki cewek lain. Ada sisi yang bertentangan dengan ketomboyannya.

Dia pinter masak, apapun yang diolahnya terasa enak. Tiap hari minggu pasca gajian hampir pasti dia pergi ke pasar. Lucu klo di lihat, pakaian jeans kaos oblong (kadang punya saya juga di embat) eh nyangking tas ibu-ibu gowes ke pasar. Habis itu masak. Klo bukan karena sudah terbiasa melihat mungkin saya akan nguyu dewe melihatnya. Gak cocok blas.

Itulah upik di mata Sapta, kesalahan yang diam-diam disesali tak berujung. Dia merenung sesekali mengusap titik air mata yang hampir jatuh. Tak kuasa menahan sesal setelah kemarahannya.
“Aku akan mendukung pilihanmu pik, apapun itu, aku tak bisa memberimu apapun”, desisnya pelan meski tak terucap. Cukup kemarin saja aku melukaimu. Hal ini yang kamu kehendaki dan butuhkan. Dukungan kami atas keputusanmu. Sapta tersenyum lepas sambil manggut-manggut.

Ngawi, 24 Juli 2020

Ikuti sambungannya ya …