By : Ummu Irul

Wahai Generasi,
Di manakah Prestasimu Kini ?
By : Ummu Irul

Dunia remaja gempar lagi, kembali heboh! Disebabkan kelakuan para remaja yang sudah di luar kewajaran dan melanggar adat ketimuran, yang konon selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat. What happen?

Sebanyak 37 pasangan anak SMP mengadakan pesta sex di hotel, petugas menemukan barang bukti berupa kondom, obat kuat dan miras. (Tribuntimur.com, 10/07/20)

Anak – anak seusia itu, masih lugu-lugu, kok bisa berperilaku yang membuat sembilu para orang tua? Bukannya seusia tersebut adalah usia semangat- semangatnya dalam belajar, hingga menorehkan prestasi yang “ngedap-ngedapi?” Bukankah anak seusia tersebut harusnya mempersiapkan diri untuk menjadi generasi penerus yang akan membawa kebangkitan umat ini? Bukankah seharusnya mereka ditempa dan menempa diri mereka dengan tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu pengetahuan sebagai bekal generasi pemimpin peradaban? Kok mereka malah melakukan hal yang merugikan dan memalukan seperti itu? Apalagi di masa “pagebluk,” seperti ini. Kok bisa ya?

Yang lebih mengherankan lagi, mengapa hal seperti ini tidak hanya kali ini terjadi? Terlalu banyak kasus semacam ini yang kita temui di jaman kapitalis ini. Seolah tidak pernah mati, bahkan semakin subur layaknya rumput teki, dibabat dibabat bagian atas, malah tumbuh makin subur? Mengapa tidak ada kapok-kapoknya, dari waktu ke waktu? What’s Wrong?

Kapitalisme Biangnya

Ketika kapitalisme telah diemban oleh suatu negara, maka akibatnya adalah sebuah kerusakan di segala lini. Pendidikan yang dijalankan negeri kapitalis, tidak bisa menghasilkan generasi yang handal, mumpuni dalam segala bidang, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu agama. Yang adalah generasi rapuh, baik sains nya maupun agamanya. Mengapa bisa seperti itu? Sebab kapitalisme yang ide dasarnya adalah sekuler ( memisahkan agama dari kehidupan ) ini, menjadikan seorang muslimpun bisa berperilaku seperti bukan muslim. Artinya remaja muslim bisa saja melakukan tindakan asusila seperti yang baru-baru ini terjadi. Karena agama tidak boleh dibawa ketika bersama teman-temannya, dalam pergaulannya, agama ditinggal di rumahnya atau di masjid saja. Inilah yang menjadikan generasi muda kita ini, dengan sukarelanya menghancurkan masa depannya sendiri.

Kapitalisme juga telah menumbuhkan banyak penyakit pada umat di negeri ini, termasuk generasinya. Diantaranya adalah hedonisme (pokoknya senang-senang), westernisasi (kebarat-baratan/ meniru orang barat), pornografi, sex bebas dan sebagainya.

Bukan menjadi rahasia lagi, hari ini remaja muslim telah banyak terpapar penyakit hedonisme, yang terpikir hanyalah senang dan senang/ funy and funy selalu berpikir pragmatis, tidak memikirkan jangka panjang, akibat dari perbuatannya.

Demikian pula virus westernisasi/ kebarat-baratan telah memenuhi jiwa kaum muda negeri ini. Apapun yang dibawa orang barat (non muslim) itu dijadikan standart dalam berfikir dan bertindak. Pun dalam berpakaian dan pergaulan, mereka lebih bangga mengkiblat pada orang barat. Dampaknya sex bebas merajalela, hamil tanpa ikatan pernikahan yang sah menjadi trend, pakaian serba minim, aurat dipertontonkan tanpa sedikitpun merasa malu.

Berbagai penyakit yang melanda remaja saat ini sudah sangat kritis, apakah kita tidak terpikir untuk mengobatinya? Atau kita juga ikut putus asa, saking parahnya dan merebaknya kerusaksn ini, kemudian membuat kita mandek dan stagnan? Tentu saja tidak, karena kita mencintai negeri, karena kita bagian dari rakyat ini, dan yang terpenting kita adalah seorang Muslim !

Sesama Muslim adalah saudara, maka sudah sepantasnya kita ikut berperan dalam menyelamatkannya, dengan apa? Tentu saja dengan memberikan obat yang manjur, memberikan solusi yang tepat guna. Apa itu obatnya?

Islam Obat Yang Manjur

Islam agama yang sempurna dan paripurna, akan memberikan rahmat bagi seluruh makhluk di bumi, jika diterapkan secara kaffah dalam sebuah institusi negara yang disebut Khilafah.

Pun dalam melindungi rakyatnya wabil khusus generasinya, Khilafah menempatkan pendidikan generasinya dengan persiapan yang sangat matang.

Khilafah menjalankan syari’at yang telah diperintahkan Allah lewat Rosul-Nya. Dalam hal remaja Rosulullah SAW, telah mewanti-wanti lewat sabdanya,
اغتنم خمسا قبل خمس : شبابك قبل هرمك…
“…manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,…” (HR. Al-Hakim)

Maka Islam sangat memprioritaskan pendidikan bagi generasi mudanya, yakni dengan menerapkan kurikulum yang berasaskan akidah Islam. Negara melarang, meski dengan alasan ilmu pengetahuan, diajarkan di sekolah- sekolah, jika bertentangan dengan akidah Islam.

Dengan demikian output dari sistem pendidikan Islam bisa dihandalkan, baik kepintarannya dalam sains dan tehnologi serta keluasan tsaqofah Islamnya tidak diragukan lagi.

Maka tidak mengherankan ketika Islam dijalankan secara kaffah oleh sebuah negara, dalam sistem Khilafah lahir para pemuda yang memiliki prestasi yang gemilang, tidak lekang oleh jaman. Walau sudah ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu, mereka mencetak prestasi. Tokoh-tokoh pemuda Muslim itu antara lain, Sholahuddin Al Ayubi (penakluk Baitul Maqdis), M. Ibnu Musa Al Khawarizmi ( penulis buku Al Jabbar: buku dasar Matematika), Ibnu Firnas ( penemu pesawat terbang), Ibnu Sina ( peletak dasar-dasar ilmu kimia, biologi dan kedokteran), Jalaluddin Rumi (seorang sastrawan hebat) dan masih banyak lagi.

Apakah masih ragu untuk segera beralih kepada sistem pendidikan Islam yang jelas hasilnya? Atau masih tetep mempertahankan sistem kapitalis yang rusak dan merusak ini ? Wahai pemuda sadarlah, kembalilah kepada pangkuan Islam yang telah menorehkan prestasi yang gemilang.

Wallahu a’lam bis showab.