Oleh: Fatimah Siti Aisyah

Di zaman kita saat ini, semakin nampak kerusakan bumi kita ini yang telah nampak di langit dan di bumi. Sepatutnya kita prihatin dengan apa yang terjadi dengan bumi kita ini,yang telah dikabarkan sebelumnya oleh Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an,
Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa kondisi bumi kita ini sudah rusak,dan kerusakan-kerusakan yang terjadi ialah akibat ulah tangan-tangan manusia.Mengapa bisa demikian? yuk kita bahas lebih lanjut

Bumi adalah salah satu planet ciptaan Allah SWT yang merupakan tempat tinggal bagi makhluk ciptaan-Nya. Di antaranya yaitu manusia, tumbuhan, binatang, jin, setan,dst dan makhluk ciptaan Allah SWT yang istimewa yaitu manusia, sebab manusia dikaruniai akal untuk dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Dalam diri manusia juga terdapat hawa nafsu yang apa bila seseorang telah condong menuruti hawa nafsunya maka ia akan terjerumus dalam kebinasaan,mengapa? Karena hawa nafsu hanya memperturut perasaan sehingga pelakunya tidak akan memikirkan akibat dari perbuatan yang ia lalukan. Dan ia akan selalu berbuat tanpa berfikir, bertindak sesuka hati untuk menuruti nafsu dalam diri.

Islam adalah agama yang komplit di mana setiap aspek kehidupan diatur dalamnya. Oleh karena itu penganutnya akan senantiasa merasakan ketentraman dan kedamaian dalam hidupnya didunia dan di akhirat, Jika ia menjalankan dan menyelesaikan setiap masalah yang ia hadapi dengan berpedoman pada syariat islam,yang merujuk kepada Al-Qur’an dan Assunnah. Sebagai mana perintah Allah SWT dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هٰذَا بَصَآئِرُ لِلنَّا سِ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

“(Al-Qur’an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 20)

Sangat jelas sekali dalam ayat diatas bahwa Al-Qur’an ialah pedoman satu-satunya umat islam dan dalam sebuah hadits Rasullullah saw bersabda:

قَالَ الْعِرْبَاضُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَناَ مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْناَ فَقَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami lalu beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasia’t wahai Rasulullah”

Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Pegang erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” [HR.Ahmad]

Mengapa tak jarang kita dapati bahwa pelaku kerusakan yang terjadi ialah orang Islam,sementara islam adalah agama yang telah mengatur seluruh aspek kehidupan ummatnya? Tak lain ialah karena kebanyakan dari ummat islam tidak menjalankan syariat secara menyeluruh,melainkan hanya mengambil beberapa yang menurut pandangan mereka “tidak mencampuri urusan dunia mereka” alias sekulerisme.

Allah SWT berfirman:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Dengan kita menjalankan kehidupan ini secara kaffah(keseluruhan), niscaya kita akan dapati ketentraman dalam hidup di dunia dan akhirat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَاَ نْـتُمْ تَسْمَعُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, padahal kamu mendengar (perintah-perintah-Nya),”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 20)

Maka sebagai generasi islam akhir zaman nan gemilang, tentulah kita harus menjalankan agama islam secara kaffah, yaitu menjalankan seluruh syariat yang ada di dalamnya dengan penuh ketaatan dan keikhlasan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ ۙ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 133)