Karya: Nurul Izzah

Kuulurkan langkah ini untuk engkau yang selalu setiap detiknya mengusik kalbu, hadir dalam fantasiku dan meninggalkan rindu yang teramat dalam. Lika-liku jalan yang menanjak, berbelok kesebuah pelosok yang aku rindukan. Pesisir pantai nan indah terbentang luas disepanjang jalan yang aku lalui, serta begitu tenang keyamanan dibalik dedaunan hutan lindung yang dilestarikan, cagar alam yang masih dirawat.

Di balik sana, entah di penghujung bagian mana, langkah pijakan langkahmu, berpijak di bumi tanah kelahiran. Tempat menumpahkan setangkup rasa penuh kebahagiaan, bersenda gurau dengan sanak keluarga, rekan dan kerabat karib. Keelokan potensi alam membuatku semakin rindu. Rindu ingin menyatukan keindahan bersama.
Namaku Hanif seorang wanita berusia 20 Tahun, hari ini ayunan langkahku mulai menginjak suasana sebuah universitas swasta. Bukan! Aku bukan mahasiswi di sini, melainkan hari ini ingin sejenak kunikmati suasana perkuliahan. Dengan langkah malu-malu aku beranjak di universitas ini.

Suara azan mulai berkumandang ditiap-tiap masjid. Langkahku terhenti di sebuah mushalla kampus ingin sejenak kutunaikan kewajiban shalat di sana. Pandanganku tertuju kepada sosok pria yang sedang berwudhu di sebelah sana, selain Nampak wara’ dia juga sosok pria yang memiliki kharisma tersendiri.

Seiring berjalannya detik yang semakin berlalu, di sana aku mendengar perbincangan para mahasiswi, yang sedang riuhnya mengagumi seseorang. Dari mereka aku mendengar sosok pria idaman universitas swasta tersebut bernama Fahri. Kalian tau siapa? Yakin? Iya. Dia adalah pria yang tadinya sempat aku lihat sedang berwudhu. Fahri, mahasiswa yang aktif dalam bidang agama diuniversitas tersebut. Tidak hanya aktif dan terlihat wara’ dia juga berperan penting dalam sebuah organisasi dikampusnya dalam bidang penyiaran syiar islam.

Seiring berjalannya waktu, dengan alur cerita dan lakon yang begitu unik sudah dirancang oleh Sang Maha Kuasa, aku mulai mengetahui kebiasaan fahri dan bahkan sering berada dalam satu komunitas yang sama. Fahri, setiap usai shalat sering melantunkan kalam suci, tidak heran jika kebiasaan ini membuat nilai plus dihadapan para pujangga hatinya para kaum wanita tentunya.
Di balik sifat wara’ dari Fahri dia juga super jago dibidang humor. Melihat kesejukan dari raut wajahnya dan seyuman yang terlukis dari dia aku semakin mengaguminya dalam diam. Langkah-langkahku pun mulai menapaki sirat fahri, meskipun berada di universitas yang berbeda, terkadang kebiasaan baik darinya bias menjadikan motivasi yang baik untuk diteruskan.

Membicarakan hukum agama dengan rekan-rekannya seusai shalat adalah bagian dari kebiasaan Fahri. Yang aku tahu Fahri bukan asli dari daerah sini, berasal dari sebuah pelosok yang begitu indah akan pesona demburan ombak dan bentangan pasir putih di sepanjang jalan. Di sini Fahri menuntut, belajar serta mengembangka lebih dalam tentang syiar agama.

Kuulurkan langkah ini untuk engkau yang setiap detiknya mengusik kalbu, hadir dalam pikiranku dan meninggalkan rindu yang teramat dalam.
Berhadapan dengan Fahri adalah sebuah moment yang begitu canggung. Terkadang hanya sebuah klakson, anggukan, dan senyuman tanpa sepatah katapun. Bukan dia malu melainkan dia tak ingin memberikan sebuah keunikan tanpa kepastian.

Hari mulai berlalu, sedang asyiknya aku membuka sosmed, tiba-tiba ada kiriman pesan singkat dari Fahri. ”Assalamualaikum”. Tidak bisa kulukiskan bagaimana ekspresiku saat itu, bagaimana tidak. Fahri dan hanya Fahri senyuman kebahagiaan dan kenyamanan bisa aku rasakan, bilamana aku pandang dia dan ada hal unik tentang dia semakin bertambah kekagumanku untuk dia sang pemilik rindu.

Meskipun kecanggungan yang dulunya sempat kualami disaat aku berhadapan dengan fahri, hari ini, suasana mulai sedikit akrab.

Hari berganti, tahun berlalu dan suasana kedekatanku dengan Fahri semakin hari semakin dekat dan aku menjadi teman akrab Fahri. Seseorang yang sejak dulunya sempat menjadi fantasi bagiku kini nyata sebagai sebuah hadiah persahabatan antara aku dengan Fahri.

Membawa segenap keunikan tersendiri bagiku dan melukiskan warna baru dalam hidupku yang sulit bagiku untuk melukisnya dengan untaian kata.
Yang terpenting bukan bagaimana unik kita menggenggam, namun bagaimana biasa genggaman itu terus bergandeng erat dan kembali kita gapai segala fantasi menjadi hal indah yang akan kita wujudkan, bersama Fahri aku ingin menyatukan keindahan. Meskipun terkadang sedikit berliku, namun yakinlah duhai dikau yang menjadi sosok kerinduan di hati, ulurkanlah langkahku ini untuk setiap detiknya menjadi penawar dari setiap apapun bentuk kerinduan yang terbesit dilubuk kalbu. Rangkul erat dan bersama kita wujudkan impian menjadi kenyataan.

Biografi Penulis
Nama lengkap: Nurul Izzah
Tempat, tanggal lahir : Awe Geutah, 02 Januari 1999
Domisili kota : Aceh, Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen.
Profesi : Mahasiswi Institut Agama Islam Almuslim Aceh. Paya Iipah, Fakultas tarbiyah, prodi pendidikan Agama Islam.
Motivasi Menulis : Ingin Mengembangkan potensi, melalui karya tulis. Seperti ditukilkan sebuah ungkapan bijak dari kalangan ulama terdahulu yaitu ” Jikalau engkau bukan anak ulama, atau bukan dari kalangan keluarga terpandang, maka jadilah penulis. Dan namamu akan dikenal dari hasil karyamu”.