Oleh: Dhiyaul Haq (Pengajar di Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Malang)

Umat Muslim Bosnia menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica pada Sabtu (11/7) waktu setempat, di tengah pandemi virus corona Covid-19. Meski jumlah peserta menurun dari tahun-tahun sebelumnya, tapi tak sedikit pelayat yang berani menentang aturan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran Covid-19 demi menghadiri peringatan tersebut. Peringatan tahun ini sekaligus menjadi upacara penguburan sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir.
Pada 11 Juli 1995, usai Srebrenica dikepung, pasukan Serbia membunuh lebih dari 8.000 pria dan anak lelaki muslim dalam beberapa hari. Pembantaian itu adalah bagian dari genosida yang dilakukan terhadap umat Muslim oleh pasukan Serbia Bosnia selama Perang Bosnia, salah satu dari beberapa konflik yang terjadi pada 1990-an ketika Yugoslavia bubar.
Republik Sosialis Bosnia dan Herzegovina – yang ketika itu adalah bagian dari Yugoslavia – adalah wilayah multi-etnis Bosniak Muslim, Serbia Ortodoks dan Kroasia Katolik.
Bosnia-Herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1992 setelah referendum, dan diakui tidak lama kemudian oleh pemerintah AS dan Eropa. Tetapi kelompok Serbia Bosnia memboikot referendum. Segera setelah itu pasukan Serbia Bosnia – didukung oleh pemerintah Serbia – menyerang negara yang baru terbentuk.

Mereka mulai mengeluarkan Bosniaks dari wilayah itu untuk menciptakan “Serbia Raya” – kebijakan yang dikenal sebagai pembersihan etnis. Orang-orang Bosniak, yang sebagian besar adalah Muslim, adalah keturunan dari Slavia Bosnia yang menganut Islam di bawah pemerintahan Turki Ottoman pada Abad Pertengahan.

Fakta yang berbicara bahwa tanpa khilafah maka negeri-negeri kaum muslimin akan selalu menjadi korban kebengisan dari negara kaum kafir. Negeri kaum muslimin tidak mempunyai junnah (perisai) yang akan melindungi nyawa kaum muslimin. Maka Maha benar Allah berfirman “… Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.” (TQS Ali Imran [03] : 118).
Ini pula argumentasi kuat mengapa Khilafah yang perkara terbesar bagi kaum muslimin. mana lembaga internasional yang bersuara? PBB? Terkhusus tragedi Srebrenica, adalah bukti yang sangat kuat ketiadaan perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim.
PBB hanya alat legitimasi kebengisan segelintir penjahat peradaban untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim. Menurut sejarah kelahirannya pun, PBB hanyalah adaptasi dari ikatan persaudaraan kaum kafir untuk menghancurkan persatuan umat Islam. Jejak sejarah terlalu pekat untuk dihapus.
Saatnya kita mencampakkan ide-ide kufur kapitalis dan menjadi bagian dari pejuang penegakan institusi yang diajarkan oleh Islam. Solusi tuntas untuk menyelesaikan problem dalam negeri kaum muslimin adalah penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai daulah Khilafah Islamiyah.
Wallahu a’lam bi ash-showab

Jikalau pun tak dibuat berkonflik fisik yang berwujud pembantaian massal, realitasnya tetap akan mengondisikan umat dalam kondisi tidak kaffah. Karena memang bagi kaum kafir, mimpi buruk terbesar mereka adalah tegaknya kembali Khilafah.