Oleh: Mellyza Astari Butar-Butar

Hukum Ekonomi Syari’ah / Syari’ah dan Hukum
Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.(Q.S Al-Baqarah 279)

Mengingat kisah masa lalu yang dalami oleh beberapa negara didunia kisaran tahun 1997-1999 dikenang sebagai masa krisis keuangan asia. Walaupun masa krisis moneter di Indonesia telah berlaku namun ekonomi Islam tetap menawarkan sistem yang sudah tervadilasi aman dan adil, Kenapa? karena di dalam Islam mata uang yang dipakai adalah dirham. Pada zaman Rasulullah SAW dirham digunakan sebagai alat tukar transaksi jual beli dan sampai sekarang jika dirham digunakan sebagai alat tukar pun nominalnya masih sama, tak ada perubahan dalam nilainya. Inilah bukti bahwa ekonomi Islam itu benar benar menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan dimasa yang akan datang.

Bank syari’ah adalah instansi keuangan yang sistem dan prosedurnya yang berpedoman pada syari’at Islam. Perbedaan yang terlihat jelas yaitu bunga atau tambahan. Di dalam Islam bunga adalah riba yang mana riba diharamkan, Allah SWT berfirman ”Orang orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang orang yang kemasukan setan lantara (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah.Orang yang kembali (mengambil riba),maka orang orang itu adalah penghuni neraka,mereka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah 275)

Riba seringkali terabaikan dan tidak diperhatikan oleh manusia tetapi Allah telah mengingatkan manusia bahwa pemakan riba adalah penghuni neraka yang kekal.Bahkan orang yang terkena debu riba juga mendapatkan siksa api neraka oleh Allah. Na’udzubillahimindzalik!
Banyak nasabah berpikir prosedur yang digunakan oleh bank konvensional sama saja. Jika di bank konvensional disebut bunga sedangkan di bank syari’ah disebut bagi hasil. Namun, jika kita merenungi secara lebih dalam bank syari’ah tidak ada prosedur memberikan pinjaman berupa uang secara tunai kepada nasabah. Melainan pinjaman akan diberikan berupa jasa atau benda yang dibutuhkan oleh nasabah. Terdapat sebuah peristiwa umum yang dapat kita lihat dan ini sering kali terjadi di masyarakat di mana nasabah meminjam uang di bank syari’ah dengan target untuk membangun usaha atau membeli barang seperti motor di showroom. Kebijakan yang dilakukan bank syariah adalah membeli motor di showroom yang menjadi target nasabah. Kemudian transaksi antara bank dengan nasabah adalah uang dengan barang bukan uang dengan uang.
Hal ini dilakukan untuk menghindari praktek riba yang mana riba timbul akibat pertukaran barang sejenis yang berbeda kualitas, kuantitas, atau waktu penyerahannya (tidak tunai). Sebagaimana dalam hadits Nabi, Umar bin Khattab, Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasallam bersabda: ”(jual beli) emas dengan perak adalah riba, kecuali (dilakukan) secara tunai (H.R Muslim).

Dapat kita lihat pernyataan dari Imam Malik bahwa perak dan emas sesuai dengan ‘illatnya adalah alat tukar. Oleh karena itu ketika terjadi praktek jual beli,pinjam meminjam dengan barang yang sama akan tetapi ada tambahan yang disyaratkan oleh salah satu pihak saat melakukan akad maka tambahannya tersebut adalah riba. Mirisnya bunga sudah menjadi hal lumrah, wajar bahkan ke tahap menjadi kewajiban yang harus dipatuhi barang siapa yang meminjam uang di bank konvesional maka harus membayar bunga sekian persen.

Hakikatnya nasabah meminjam uang di lembaga keuangan karena ia membutuhkannya dan dalam keadaan kesulitan.Namun disisi lain kita mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain. Allah SWT berfirman dalam Q.S Ar-Rum 39”Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada manusia, maka riba itu tidak menambah disisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.

Dapat kita lihat dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sesungguhnya Allah melipat gandakan pahala bagi seseorang ketika ia tidak mengharapkan imbalan, tambahan, kedudukan dari sesama manusia. Hanya hamba Allah yang mengharapkan imbalan dari sang Maha Khaliq (pencipta) yang menerima hidayah dari Allah.

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menuturkan ‘kunjungannya’ ke neraka,“Kami mendatangi sungai yang airnya merah seperti darah. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang yang berenang di dalamnya, dan di tepi sungai ada orang yang mengumpulkan batu banyak sekali. Lalu orang yang berenang itu mendatangi orang yang telah mengumpulkan batu, sembari membuka mulutnya dan orang yang mengumpulkan batu tadi akhirnya menyuapi batu ke dalam mulutnya. Orang yang berenang tersebut akhirnya pergi menjauh sambil berenang. Kemudian ia kembali lagi pada orang yang mengumpulkan batu. Setiap ia kembali, ia membuka mulutnya lantas disuapi batu ke dalam mulutnya. Aku berkata kepada keduanya, “Apa yang sedang mereka lakukan berdua?” Mereka berdua berkata kepadaku, “Berangkatlah, berangkatlah.” Maka kami pun berangkat.”Dalam lanjutan hadits disebutkan, “Adapun orang yang datang dan berenang di sungai lalu disuapi batu, itulah pemakan riba.” (HR. Bukhari).

Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, akan tetapi jika ilmu pengetahuan telah sampai kepadanya tetapi ia enggan melaksanakannya maka bersedihlah ia.