Oleh: Mia Agustiani
(Member of Revowriter)

Bukankah melaksanakan ibadah haji adalah impian setiap muslim? Segala upaya dilakukan untuk mewujudkan impian tersebut. Terlebih beribadah haji adalah perintah Allah SWT dan merupakan rukun Islam.

Namun apa jadinya ketika tiba-tiba keberangkatan haji harus ditiadakan akibat pandemi? Kita sebagai hamba hanya mampu berusaha. Allah yang menentukan segalanya.

Ini sudah menjadi qadha dari Allah. Sikap roja atau berbaik sangka kepada Allah harus senantiasa kita miliki. Diantara tanda berbaik sangka kepada Allah adalah mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan dan pertolongan dari-Nya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad dijalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. Al-Baqoroh: 218).

Esensi beribadah haji tidaklah harus berangkat ke tanah suci. Banyak nilai ibadah serupa haji apabila rahmat Allah yang kita tuju. Sejatinya hati seorang mukmin adalah istana-Nya Allah (Lihat QS.Al-Baqarah: 196).

Kembalikan niat kita bagi yang hendak berhaji. Ketahui makna haji yang sebenarnya. Gelar haji bukan untuk dibanggakan. Kebenaran mutlak yang ada, bahwa wukuf artinya diam. Tidak berkata-kata lagi.

Walaupun ternyata haji ditiadakan tahun 2020. Akan tetapi nilai ibadah haji akan tetap kita dapatkan dengan beberapa amalan yang senilai haji. Amalan tersebut diantaranya:

1. Shalat berjamaah

Ketika pandemi semua akses dari dan keseluruhan dunia ditutup. Termasuk pelaksanaan haji ke tanah suci yang dihentikan sementara waktu demi kebaikan bersama.

Amalan serupa seperti shalat berjamaah misalnya merupakan nikmat Allah yang tak terhingga. “Siapa yang berjalan menuju shalat wajib berjamaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju shalat sunah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah. (HR. Thabrani dari Abu umamah ra).

2. Itikaf di Masjid dari subuh hingga waktu dhuha

Selain shalat berjamaah, melakukan itikaf di masjid sejak subuh hingga terbit matahari dan masuk dalam waktu ibadah shalat Dhuha juga bernilai sama seperti haji.

Dalam hadits riwayat imam Al-Thabrani disebutkan: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Subuh berjama’ah di masjid, lalu dia tetap diam (berdzikir, beritikaf) di masjid sampai masuk waktu pelaksanaan shalat Dhuha, maka ia seperti akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berhaji / umrah secara sempurna.”

3. Mengajar, belajar dan menghadiri kajian ilmu

Seseorang yang haus ilmu, terus berupaya menambah tsaqofah yang dia miliki, maka peebuatannya akan bernilai seperti haji. Apalgi masa pandemi sekarang. Belajar sangat mudah diikuti melalui daring.

“Barang siapa yang berangkat ke masjid dengan niatan untuk mempelajari kebaikan atau mengajari kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang haji yang sempurna.”

4. Berbakti kepada orang tua

Berbakti kepada kedua orang tua juga memiliki amalan setara dengan berhaji. Sebagaimana informasi langsung dari riwayat:

“Seorang sahabat curhat kepada Nabi bahwa ia punya keinginan kuat untuk melakukan jihad, tapi dirinya tidak mampu.” Lalu Nabi bertanya, “Apakah orangtuamu masih ada?” dia menjawab, “ada ibuku…” Nabi pun bersabda, “berkhidmahlah kepada Allah dengan berbakti kepada ibumu, jika kamu lakukan itu, maka engkau sejatinya adalah orang yang berhaji, orang yang umrah dan orang yang berjihad sekaligus.”

Menyimak beberapa amalan bernilai haji, maka tidak pantas memendam kekecewaan akan batalnya pergi haji pada tahun 2020. Sebagai wujud kita lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta maka sikap Roja (berbaik sangka kepada Allah) wajib kita tanamkan pada setiap ujian yang datang.

Terlebih, kini kita sedang diuji oleh virus Corona. Sabar dan shalat adalah penolong kita. Semoga ditahun berikutnya kita masih diberikan kesempatan untuk bertandang ke rumah Allah.

Kini kita tahu, berhaji tidaklah harus menginjakkan kaki di tanah suci. Perbaiki niat kita. Jangan sampai terjebak dengan gelar haji. Mampu berhaji hanya disematkan pada orang yang bermateri. Sungguh paham kapitalis yang meracuni.

Buang jauh paham yang tidak sesuai syar’i. Kejarlah rahmat dan ridho Illahi.

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (TQS. Al-Isra: 57).

Wallaahu a’lam bishshawab.