Oleh : Lilik Yani

“Semua yang ada di langit maupun di bumi, dan yang ada di antara keduanya adalah milik Allah semata.”

*****

Amal ibadah yang dicintai pada hari raya Idul Adha adalah berqurban. Menyembelih hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau unta. Dilakukan secara ikhlas, semata-mata untuk mencari Ridlo Allah.

Cara pelaksanaan qurban, mulai dari syarat hewan qurbannya, cara penyembelihan secara benar, mekanisme pendistribusian, dan sebagainya, dilakukan sesuai syariat Islam mengikuti tuntunan Rasulullah saw.

Sedangkan hakekat dari ibadah qurban adalah mengurbankan apa yang kita cintai, membersihkan hati dari cinta yang berlebihan terhadap sesuatu selain Allah, juga untuk menyembelih rasa keakuan dalam diri kita. Agar hati kita bersih dari segala hal yang menghalangi cinta kita kepada Allah. Dengan kata lain, memurnikan cinta kita kepada Allah.

Bukan tidak boleh memiliki sesuatu, seperti rumah, mobil, uang banyak, juga barang berharga lainnya. Asalkan diperoleh dengan cara halal dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sewajarnya, juga untuk memperlancar aktivitas ibadah.

Tidak juga ada larangan mencintai seseorang seperti pasangan hidup, anak, keluarga, guru, sahabat atau yang lainnya, selama tidak berlebihan, tidak melebihi cinta kita kepada Allah. Kemudian cintanya dilakukan karena Allah, untuk saling menasehati dan mengingatkan ibadah kepada Allah.

Jadi boleh-boleh saja kita mencintai sesuatu selama masih dalam bingkai kewajaran. Dan cintanya atau rasa memiliki terhadap sesuatu itu tidak sampai menguasai hati dan menghalangi cinta kita kepada Allah.

Yang dilarang adalah jika kita terlalu sayang kepada pasangan, sehingga lupa ibadah kepada Allah. Cinta kepada anak berlebihan sehingga anak tidak menjalankan sholat dibiarkan. Cinta kepada harta, disimpan untuk tujuh turunan, padahal ada tetangga atau kerabat miskin tak bisa makan.

Sungguh kebanyakan manusia itu kikir, terlalu cinta harta. Semua diakui miliknya. Ini hartaku, mobil mewahku, rumahku, sawahku, anakku, suamiku, jabatanku. Jika rasa keakuan itu berlebihan maka akan mengotori hatinya. Hingga tidak bisa membedakan benar atau salah. Halal atau haram. Semua diterjang atas nama cinta.

Padahal, semua yang ada di langit maupun di bumi itu, hakekatnya adalah milik Allah. Kita hanya dipinjami oleh Allah, agar memudahkan kita dalam menjalani hidup dan melancarkan ibadah kita kepada Allah.

Jika mengingat sejarah, Nabi Ibrahim sangat cinta kepada Allah. Beliau melakukan qurban dengan ratusan hewan ternak untuk mencari ridlo Allah. Beliau akan mengorbankan apa saja yang dimilikinya demi meraih ridlo Allah. Apapun yang beliau miliki, jika Allah menghendaki maka akan diberikannya.

Nabi Ibrahim sungguh sangat taat dan cinta kepada Rabb-nya. Beliau melakukan dengan ikhlas apapun perintah Allah, dengan harapan untuk mencari ridlo Allah. Beliau bisa menaklukkan egisme-nya dan mengalahkan hawa nafsunya. Beliau sembelih keakuan dalam dirinya.

Hingga Allah minta bukti, apakah betul jika Allah meminta apapun yang dimilikinya maka Nabi Ibrahim akan mengasihkan, sebagai bukti cintanya kepada Allah. Maka Allah meminta Nabi Ibrahim agar menyembelih anak kesayangannya, Ismail.

Nabi Ibrahim sempat terpana dan tidak mempercayai permintaan Allah yang dilewatkan mimpi itu. Tetapi Allah meyakinkan bahwa perintah untuk menyembelih Ismail itu memang benar. Karena Allah mengulangi sampai tiga kali, agar Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi itu datangnya benar dari Allah.

Demi cintanya Nabi Ibrahim kepada Allah, maka perintah untuk mengurbankan Ismail dilakukan juga. Setelah beliau mengajak dialog anakknya. Sungguh Ismail pun sangat taat kepada Allah, hingga memberi jawaban yang menambah mantap ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah.

“Wahai ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. In syaa Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.” ( TQS Ash Shaffat : 102).

Bisa dibayangkan betapa pilu hati Nabi Ibrahim kala itu. Antara sedih, bingung, ragu, berkecamuk di hatinya. Tetapi kekuatan cinta kepada Rabb-nya, hingga beliau diberi kemantapan hati. Apalagi mendengar jawaban yang begitu ikhlas dari buah hati yang sangat dicintainya itu.

Hingga Allah tahu, betapa Ibrahim sudah menunaikan janjinya. Sebuah bukti bahwa cinta Nabi Ibrahim kepada Allah tidak diragukan lagi. Nabi Ibrahim bisa membunuh semua rasa cinta yang lainnya, termasuk anak kesayangan juga rela untuk disembelih, demi cintanya kepada Sang Khaliq.

Subhanallah, begitu besar keimanan Nabi Ibrahim. Makanya Allah memberi gelar sebagai Bapak Tauhid. Karena Nabi Ibrahim lulus memuaskan atas ujian dari Allah.

Saudaraku, bagaimana dengan kita? Seberapa besar pengurbanan kita kepada Allah. Allah sangat tahu kwalitas iman kita. Hingga Allah hanya menyuruh kita berqurban dengan hewan ternak yang baik.
Itupun tidak semua orang bersegera melaksanakan.

Rasa cinta kepada harta masih begitu kuat. Maka dengan adanya perintah qurban ini, agar kita menyembelih rasa cinta yang berlebihan kepada harta. Dengan menyembelih keakuan yang ada dalam diri, maka akan tumbuh cinta murni kepada Allah semata.

Wallahu a’lam bish shawwab