Oleh : Lilik Yani

Ibadah Haji adalah karunia istimewa bagi hamba yang diundang Allah untuk menunaikannya. Hanya saja tahun ini banyak calon jamaah yang tertunda keberangkatannya karena kondisi pandemi. Namun ibadah haji tetap dilaksanakan bagi umat pilihan.

*****

Sungguh, sebuah karunia yang mesti disyukuri. Semoga bisa memetik hikmah dari serangkaian proses ibadah haji sudah ditunaikan. Sebuah pelajaran dari kisah keluarga Nabi Ibrahim yang bisa diterapkan untuk seluruh umat manusia, sampai akhir zaman.

Apa yang dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim adalah sebuah contoh yang memiliki hikmah-hikmah mendalam secara universal. Ketika kita masuk ke dalamnya, maka akan mendapati cermin untuk melihat diri kita sendiri.

Apakah kita telah menjadi orang yang taat kepada Allah, sebagaimana ketaatan keluarga Nabi Ibrahim. Apakah kita telah menjadi orang yang tulus ikhlas menjalani hidup ini, menjalankan perintah Allah tanpa banyak alasan. Apakah kita sudah sabar dalam menghadapi berbagai tantangan dan ujian. Apakah kita sudah banyak berkorban untuk kepentingan yang lebih luas.

Jika jawabannya belum, maka kita harus banyak muhasabah diri. Untuk mengevaluasi kualitas beragama kita. Sudah seberapa taatkah kita dalam beragama, dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya ? Seberapa ikhlas dalam beribadah, tanpa pamrih, ibadah murni karena Allah ?

Seberapa sabar kita menghadapi cobaan dan ujian hidup yang diberikan Allah ? Dan seberapa besar pengorbanan yang telah kita berikan kepada Allah dan sesama manusia ?

Seluruh perjalanan keluarga Nabi Ibrahim memberikan banyak pelajaran atau hikmah yang bisa dijadikan cermin untuk kita semua.
Hikmah-hikmah itu antara lain :
1. Nabi Ibrahim lahir dari keluarga penyembah berhala. Akan tetapi beliau berhasil menggunakan akal pikirannya untuk terlepas dari praktek pemujaan berhala.
Hikmah yang bisa diambil adalah beragama harus menggunakan akal sehat, agar bisa mendapatkan pemahaman yang jelas bahwa ada Allah yang menciptakan dan mengatur semua makhluknya.

2. Nabi Ibrahim tidak takut untuk mempertanyakan segala hal yang membuat hatinya gelisah. Maka beliau melakukan pembuktian. Hikmah : beragama tidak boleh ikut-ikutan, tetapi harus tahu ilmunya. Agar bertambah yakin dalam menjalankan ibadah.

3. Nabi Ibrahim suka berkorban dan membiasakan diri untuk berkorban. Dengan berkorban akan melatih ketaatan, keikhlasan, kesabaran dan berbagi dengan orang lain.
Hikmah : belajar berserah diri kepada Allah.

4. Allah menguji Nabi Ibrahim. Benarkah ia mau mengorbankan semua miliknya ? Allah memerintah Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail. Awalnya Nabi Ibrahim tidak percaya jika Allah memerintah seperti itu. Hingga Allah mengulang perintah itu sampai tiga kali melalui mimpi.
Kemudian Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah tidak mungkin menganiaya hamba-Nya.
Hikmah : ketaatan atas perintah Allah, apapun bentuknya.

5. Berpuluh-puluh tahun Nabi Ibrahim tidak dikarunia anak. Beliau tetap sabar dan prasangka baik kepada Allah. Setelah dikarunia putera, Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Hebatnya, Ismail menunjukkan ketaatan dan kesabaran tiada tara. Ismail siap dikorbankan jika itu perintah dari Allah. Subhanallah.
Hikmah : kesabaran luar biasa dari Nabi Ibrahim dan keluarganya.

6. Untuk bisa melaksanakan semua itu, Nabi Ibrahim harus mengendalikan sifat-sifat setaniyah. Beliau buang jauh-jauh keraguan yang menghantaui jiwanya, selama perjalanan menuju tempat penyembelihan. Inilah simbol lempar jumrah yang dilakukan para jamaah haji di tanah suci.
Hikmah : keikhlasan menjalankan perintah Allah.

Nabi Ibrahim berhasil membuktikan diri sebagai hamba yang berserah diri kepada Allah. Hingga mengantarkan beliau kepada maqam yang lebih tinggi. Kemudian Allah menyuruh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk membangun Ka’bah sebagai pusat peribadatan umat Islam.

Allah mengabadikan kemurnian Nabi Ibrahim dalam beragama dengan menyembah Allah swt. Menegakkan kalimat tauhid kepada seluruh umat manusia. Jalan hidupnya diabadikan dalam Al Qur’an al Kariim sebagai teladan abadi. Dan ditempatkan sebagai rukun Islam kelima yaitu menunaikan ibadah haji

Saudara muslimku, berbahagilah jika kalian sudah diundang Allah menjadi tamu-Nya. Menjalankan ibadah haji bagaikan napak tilas perjalanan keluarga Nabi Ibrahim. Semoga kalian bukan sekedar menjalankan ritual semata.

Ada banyak hikmah yang bisa kalian pahami dari serangkaian perjalanan Nabi Ibrahim bersama keluarganya. Sebagai bahan muhasabah diri dan evaluasi terhadap keimanan masing-masing.

Semoga bisa menerapkan dalam arena sesungguhnya di mana pun kita berada. Ketika di tanah suci, mungkin nyaman dalam beribadah karena semua jamaah satu frekuensi. Beribadah untuk mencari Ridlo Allah.

Ketika kembali ke tanah air, bertemu dengan banyak karakter manusia dan memiliki tujuan hidup masing-masing. Maka jadikan diri kalian sebagai tauladan yang baik, dan bisa mengajak umat kembali ke jalan Allah.