Oleh: Nur Rahmawati, SH
Praktisi Pendidikan dan Pengamat Politik

Ratusan remaja mengajukan dispensasi nikah di berbagai daerah. Seperti yang terjadi di Pengadilan Agama Jepara Jawa Tengah. Sebanyak 240 permohonan diajukan oleh remaja, yang rata-rata usia mereka belum genap 19 tahun.

Dikutip dari JawaPos.com, “Dari 240 pemohon dispensasi nikah, dalam catatan kami ada yang hamil terlebih dahulu dengan jumlah berkisar 50-an persen. Sedangkan selebihnya karena faktor usia yang belum sesuai aturan, namun sudah berkeinginan menikah,” kata Ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara Taskiyaturobihah seperti dilansir dari Antara di Jepara pada Minggu (26/7).

Dari keterangan di atas, berkisar 50-an persen remaja yang mengajukan dispensasi nikah, mereka yang hamil terlebih dahulu dengan usia yang dianggap dini, atau belum mencapai 19 tahun bagi remaja putri.

Senada dengan itu, Jawa Barat menempati angka tertinggi perkawinan bawah umur, berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional tahun 2020. Terlebih hal ini terjadi di musim pandemi, yang memang aktivitas remaja banyak dilakukan di dalam rumah, dan kurangnya pengawasan dari orang tua, selain itu di musim pandemi saat ini, faktor ekonomi ikut mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menikahkan anak mereka diusia dini, karena dirasa akan mengurangi beban keluarga.

Mengutip dari Kompas.com, “Para pekerja yang juga orang tua tersebut sering kali mengambil alternatif jalan pintas dengan menikahkan anaknya pada usia dini karena dianggap dapat meringankan beban keluarga,” papar Susilowati dalam Webinar “Dispensasi Nikah pada Masa Pandemi Covid-19: Tantangan Terhadap Upaya Meminimalisir Perkawinan Anak di Indonesia” yang digelar FH Unpad, Jumat (3/7/2020).

Selain itu, alasan diajukannya dispensasi tersebut karena hamil di luar nikah sebab pergaulan bebas, yang dikutip dari Kompas.com, Dosen Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Susilowati Suparto mengatakan, “Tidak dapat dihindari terjadinya pergaulan bebas yang mengakibatkan kehamilan di luar nikah dan menyebabkan angka dispensasi meningkat di masa pandemi ini,” (8/7).

Generasi Dalam Sistem Kapitalis

Sungguh miris, apa yang terjadi pada generasi kita. Ketika mereka tidak mampu lagi menjaga dan membedakan apa yang layak dan pantas dilakukan, dan apa yang tidak. Pendidikan yang didapat baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah tidak mampu menjadikan mereka memiliki akhlak yang mulia. Inilah buah dari pendidikan sistem kapitalis sekularis yang memisahkan agama dari kehidupan bermasyarakat, bermuamalah dan bernegara. Sehingga tidak memiliki pondasi kuat dalam menentukan sikap dan berprilaku yang selayaknya diperbuat. Maka awal dari pergaulan bebas dan perzinahan adalah adanya kebebasan dalam berprilaku, sehingga prilaku pacaran tidak lagi dianggap tabu. Inilah penyebab utama dari maraknya perzinahan.

Menyoal kebijakan yang dikeluarkan pemerintah

Sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan. Batas minimal calon pengantin putri berusia 19 tahun. Sementara pada Undang-Undang Perkawinan sebelumnya, batas minimal calon pengantin putri berusia 16 tahun. Sehingga, warga yang berencana menikah namun usianya belum genap 19 tahun harus mengajukan dispensasi nikah.

Data ratusan remaja mengajukan dispensasi nikah di berbagai daerah menegaskan 2 problema yg lahir dari kebijakan dispensasi nikah ini.

Pertama, dijalankan bersamaan dengan pendewasaan usia perkawinan, yang diharapkan menurunkan angka pernikahan dini. Padahal dalam Islam syarat menikah bukanlah usia tapi pada kedewasaan dalam hal ini telah aqhil baliq.

Kedua, menjadi ‘jalan keluar’ untuk memaklumi fenomena seks bebas di kalangan remaja. Pun menjadikan pacaran dan pergaulan bebas bukan lagi sesuatu yang menyimpang. Malahan justru difasilitasi dengan Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang HAM. Yang memberikan kebebasan berprilaku dan berpendapat.

Solusi Islam Mengatasi Pergaulan Bebas

Kritisi terhadap kebijakan pemerintah, adalah yang dibutuhkan bukan larangan nikah dini dan dispensasi nikah. Tapi pemberlakuan sistem ijtimaiy Islam agar generasi siap memasuki gerbang keluarga dan mencegah seks bebas remaja.
Dispensasi nikah karena seks bebas tidak hanya berdampak individual tp berpotensi melahirkan generasi lemah dan keluarga tanpa ketahanan.

Islam memberikan solusi secara sistematik, sehingga ada tindakan preventif yang manjur, dengan menanamkan iman dalam diri remaja akan menjadi imun (kebal) atas segala bentuk kemaksiatan, dan upaya represif yang mampu benar-benar menghentikan prilaku seks bebas.

Dalam Islam negara berkewajipan mengawal penerapan hukum-hukum pergaulan yang disyariatkan Allah SWT. Beberapa hukum-hukum tersebut diantaranya :

Pertama, Perintah baik kepada lelaki maupun perempuan agar menundukkan pandangannya serta memelihara kemaluannya (TMQ an-Nûr [24]: 30-31). Jika timbul rasa ketertarikan kepada lawan jenis sementara yang bersangkutan belum mampu untuk melakukan pernikahan maka dianjurkan untuk menahannya dengan puasa. Sementara bagi yang telah mampu untuk menikah sangat dianjurkan untuk menikah, karena pernikahan lebih menjaga kehormatan.

Kedua, Perintah agar memisahkan kehidupan lelaki dan perempuan serta mencegah ikhtilat (bercampur baur).

Ketiga, Perintah untuk mengenakan pakaian penutup aurat secara sempurna. Perempuan diwajibkan meggunakan jilbab (baju yang bersambung dari atas hingga menutup kakinya) dan kerudung /tudung. Lelaki pun mesti menutup aurat sebagaimana batasan yang telah ditetapkan syariah.

Keempat, Islam membatasi interaksi antara lawan jenis sebatas hubungan yang sifatnya umum, seperti muamalat atau tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, bukan aktivitas saling mengunjungi antara lelaki dan perempuan atau aktivitas lain yang bisa memunculkan rangsangan seksual (seperti curahan hati antara lawan jenis).

Kelima, Islam memerintahkan negara untuk memberikan hukuman kepada semua pelaku yang terbukti merusak tatanan pergaulan dengan memunculkan berbagai media yang berungsur porno.

Dengan demikian, solusi tuntas permasalahan pergaulan bebas dan perzinahan adalah dengan menerapkan sistem pergaulan dalam Islam, yang tentunya penerapannya diawasi oleh negara. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.