Oleh: Kholila Ulin Ni’ma, M.Pd.I

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illaLlahu Allahu akbar, Allahu Akbar wa lillaahil hamd.

Suara takbir masih menggema. Umat Islam sepatutnya gembira karena masih bisa menikmati hari raya. Tapi, Idul Adha tahun ini berbeda. Tahun 1441 H ini umat harus berhari raya di tengah pandemi yang belum menunjukkan tanda mereda.

Selama masa pandemi, krisis multidimensi semakin nyata. Sektor kesehatan jelas mengalami dampak yang pertama. Kebutuhan terhadap masker dan alat pelindung diri (APD) terus bertambah, di beberapa daerah kembali mulai langka. Rumah sakit ngos-ngosan menyediakan ruang isolasi, ventilator, dan sebagainya. Kebutuhan pada berbagai fasilitas kesehatan terus meningkat. Ini wajar, mengingat korban wabah naik tajam. Kebutuhan terhadap vaksin pun mendesak untuk segera dipenuhi agar wabah segera terkendali. Namun, sistem kapitalisme sekular meniscayakan vaksin tak segera tersedia. Jikalau pun tersedia dan siap edar, masyarakat harus membayar dengan biaya tinggi. Kondisi ini tentu akan berdampak pada penyebaran wabah yang tak segera terhenti.

Sektor ekonomi juga menjadi sektor yang terdampak cukup parah. Sektor ini berhenti serentak karena adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ataupun karantina wilayah. Jurang resesi pun telah mengancam. Bahkan di negara-negara maju telah resmi mengumumkan keterpurukan ekonomi ini.

Mau tak mau aspek sosial juga terdampak. Pendidikan yang sudah karut marut sebelum pandemi semakin terpukul telak. Kebijakan belajar dari rumah (BDR) nyatanya belum siap dijalankan, baik oleh pendidik, pelajar, maupun orang tua di rumah. Para pendidik dibuat bingung dengan kurikulum padat yang harus tuntas meski minim fasilitas. Para pelajar pun pusing dengan pembelajaran daring (dalam jaringan) yang tidak segampang belajar tatap muka. Orang tua tak ketinggalan repotnya karena tiba-tiba harus menjadi guru bagi anak-anak mereka. Belum lagi aktivitas biasa yakni bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga harus tetap terlaksana. Walhasil, emosi sering kali tak bisa terkendali. Mau tak mau keharmonisan keluarga terdampak juga. Belum lagi, belajar daring bagi anak yang menuntut mereka selalu menggenggam gawai, di saat negara tidak memfilter konten-konten yang tak layak disaksikan generasi. Akibatnya, pergaulan bebas pun makin menjadi.

Di sisi lain, negara yang harusnya berada di garda terdepan menghadapi pandemi, malah mengeluarkan kebijakan yang tidak mensolusi. Kebijakan _New Normal Life_ yang diterapkan di berbagai negara di dunia justru memperparah kondisi. Bagaimana tidak, kebijakan ini lebih berorientasi pada pemulihan ekonomi. Sedangkan, pandemi merupakan bencana kesehatan yang harusnya ini terpenting untuk segera ditangani.

Ini menegaskan watak sistem kapitalisme sekular yang lebih mementingkan materi. Rezim yang mengadopsi sistem ini bisa dipastikan mengutamakan uang dari pada nyawa dan lainnya. Sampai kapan bertahan di sistem rusak buatan manusia? Pandemi covid-19 dimulai dari pelanggaran syariat Allah berupa makan makanan yang diharamkan. Hingga, penyakit pun menyebar tak bisa dikendalikan. Jika penyelesaian wabah ini tetap dengan sistem sama yang melegalkan pelanggaran syara’, akankah wabah segera mereda?

Maka sebenarnya Idul Adha 1441 Hijriyah sekarang adalah momen bagi manusia untuk muhasabah. Menggencarkan evaluasi dan introspeksi. Bahwa bencana ini akibat ulah tangan manusia. Bagaimana pun juga, makhluk kecil bernama corona ini harusnya mengingatkan kita untuk kembali pada aturan Sang Pencipta. Syariat Allah lah yang mewajibkan manusia makan makanan yang halal dan thayyib. Syariat Islam juga mengatur berbagai sendi kehidupan. Layanan kesehatan terbaik; roda ekonomi yang tetap bisa berjalan meski di tengah pandemi; hak pendidikan berkualitas, murah bahkan gratis ada maupun tak adanya wabah; dan berbagai sistem lain yang in syaa Allah membawa berkah jika diterapkan dengan total.

Untuk menerapkan itu semua butuh pengorbanan. Bagi mereka yang masih mengemban ideologi kapitalisme sekular harus berkorban meninggalkan seluruh oritentasi individual dan meterialistik menuju keinginan meraih Rida Allah ta’ala. Bagi para pengemban dakwah juga butuh pengorbanan waktu, tenaga, pikiran bahkan dana yang lebih untuk menyadarkan umat tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang menjadi solusi hakiki.

Idul Adha saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyadarkan umat bahwa kita butuh Islam untuk mengatasi krisis akibat pandemi. Di mana krisis telah diperparah oleh sistem _fasad_ (rusak) ini. Saatnya seluruh komponen umat bersatu untuk taat syariat secara total. Marilah menguatkan tekad untuk berkorban seluruh daya upaya demi tegaknya aturan Allah ta’ala di muka bumi.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُ ۙ ﴿ ۲۷﴾ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ ﴿ ۲۸﴾ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْ ۙ ﴿ ۲۹﴾ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ﴿ ۳۰﴾

Wahai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS Al-Fajr: 27-30)

Allahu a’lam bish shawab.