Oleh : NS. Rahayu (Komunitas Setajam Pena)

Jum’at, 10 Dzulhijah 1441 Hijriah adalah bentuk ibadah pengorbanan umat muslim di seluruh dunia. Yang di kalender Masehi jatuh pada Jum’at (31/7/2020) kemarin. Sebuah moment kegembiraan yang selalu disambut suka cita karena didalamnya ada nilai ketaqwaan seorang hamba.

Juga menjadi moment berbagi di tengah masyarakat secara merata meski ada beberapa wiyalah di Indonesia tidak dapat menikmatinya. Karena selain bernilai ibadah juga berbentuk jalinan hubungan sosial dan kasih sayang yaitu berbagi nikmat berupa pembagian daging ke rumah-rumah.

Ini adalah bentuk ibadah yang mempersatukan umat manusia tanpa membedakan warna kulit, postur tubuh, bahasa dan ras. Bentuk persatuan yang indah. Berkumpul di tempat yang sama untuk mengagungkan Allah yaitu Ka’bah untuk melaksanankan ibadah haji, tentu setiap muslim punya keingingan ke baitullah.

Dan bagi yang belum mampu memenuhi panggilan tersebut, maka berupaya untuk melakukan ibadah korban. Karena Allah SWT telah memerintahkan dalam TQS Al Kautsar : 1,2,
“Sungguh, kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”

Dari dalil ini dapat dipahami bahwa ibadah korban adalah syariat Islam, karena Allah, SWT telah memerintahkannya. Dalam TQS Hajj : 34 perintah itu lebih dipertegaskan,
“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang tunduk (patuh) pada Allah”
Adapun hukumnya adalah sunnah muakaad (sunnah yang dianjurkan dilakukan) artinya sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan jika memiliki kemampuan atau menjadi kewajiban bagi orang-orang yang mampu melaksanakannya. Jika tidak mampu tidak berdosa.

Ukuran kemampuan ini mempunyai tolok ukur yang berbeda sebab didalamnya ada keinginan kuat (pembuktian) dalam ketaatan dan ketakwaan pada perintahNya. Dasar keimananlah yang akan mendorong manusia untuk melaksanakan qurban. Dalan TQS Al Hajj : 37

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya adalah ketakwaan kamu …. “

Qurban adalah pembuktian cinta pada sang Khalik (Pencipta) berupa pengorbanan harta. Harta dunia yang masih bisa di cari tak sebanding dengan nikmat-nikmat yang Allah telah berikan pada kita karena Allah, SWT akan mengganti dg yg lebih baik. TQS Saba’ : 39
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.”

Sebagaimana jika kisah Ibrahim dan putranya Ismail, membuat kita berfikir dan bermuhasabah. Dimana ketika Nabi Ibrahim yang baru bertemu beberapa waktu setelah berpisah lama dengan putra tercintanya, tentu rasa rindu dan cintanya sedang membuncah. Namun Allah mengujinya kembali dengan memerintahkan menyembelih putra satu-satunya saat itu. Bagaimana dengan kita jika pada posisi itu? Berat! Dan sanggupkah?
Namun tidak dengan Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, ruhiyah yang sudah terlatih membentuk ketaatan total, menerima ketetapan Allah dengan ikhlas dan tenang. Menghadapinya dalam balutan cinta yang besar namun menyadari ketaatannya akan perintah Allah adalah cinta yang mutlak.

Hingga Ibrahim berkata, ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash Shaffat: 102).

Cinta Ibrahim terhadap Allah SWT, dan cinta Ismail terhadap ayah dan Tuhan-Nya, menjadikan keduanya ikhlas dan patuh melaksanakan perintah itu yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah maka bergetar hati mereka dan orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka.
Dan ketaatan itu berbuah manis, Allah,SWT menggantinya dengan seekor kambing.

Dari sini kita dapat memaknai bahwa dalam ibadah qurban ada beberapa keteladanan yang patut ditiru dari pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail ini.

1. Kesadaran bahwa harta didunia hanyalah perhiasan yang menyenangkan hati ( baik berupa anak, suami, harta benda, ternak, emas perak, pertanian dll) sekaligus ujian bagi kehidupan kita. Artinya kita tidak boleh terlena oleh indahnya dunia melupakan ketaatan hamba (manusia) pada pemiliknya. Cinta dunia boleh tapi kecintaan pada Allah mutlak nomor satu karena tujuan hidup sesungguhnya adalah ridlo Allah, SWT

2. Memahami ketundukan dan kepatuhan pada perintah Allah, SWT sebagai pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan sekaligus yang mengatur ketiganya. Sehingga kita sebagai bagian ciptaanNYA senantiasa mendengar seraya mematuhi aturanNya secara menyeluruh. Sehingga syariat Islam dijadikan tolok ukur melakukan perbuatan dalam kehidupan.

3. Membuktikan rasa persatuan umat masih kuat. Dengan menjalankan satu perintah Allah, SWT saja, umat diseluruh dunia melakukannya. Dan kita berharap ini bisa berlanjut pada penerapan syariat-syariat yang lainnya sehingga kepemimpinan umat dan pengaturan kehidupan ini kembali pada Islam dengan sistem Islam yaitu Khilafah. Allah, SWT berfirman Q.S. al-Anbiya: 107

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”

Inilah nilai-nilai ruhiyah yang bisa kita ambil dari makna qurban yaitu ketaatan total pada sang Pencipta dan Pengatur segala ciptaanNya. Wallahu’alam