Oleh: Desi Wulan Sari
(Member of Revowriter)

Takbir terus menggema menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha. Seakan lupa mengingat lelahnya menghadapi pandemi berkepanjangan ini. Kebahagiaan umat Islam menyambut “lebaran haji” 2020 memang sedikit spesial tentunya.

Begitupun sahabat kecil kita, Fatih yang berusia tijuh tahun, dia sangat antusias menyambut lebaran sambil membawa kambing Qurban hasil kumpulan tabungan bersama kakak dan abangnya ke mesjid. MasyaAllah girang bukan kepalang. Tidak lupa sang bapak bercerita bahwa esensi kita berkurban semata-mata hanya untuk Allah. Semua untuk mengikuti sunah yang dicontohkan oleh Nabi Allah, yaitu Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s.

Sambil berdiri ditengah-tengah lapangan belakang mesjid komplek rumah, pemotongan hewan qurban disaksiksikan oleh Fatih dengan ekspresi ngeri-ngeri bahagia. Ngeri karena menyaksikan penyembelihan hewan yang belum terbiasa dilihatnya, dan bahagia karena Fatih merasa bangga bisa ikut berqurban dengan mengumpulkan uang bersama.

MasyaAllah, sungguh banyak pelajaran yang bisa diambil dari sebuah Idul Adha. Melihat bagaimana pengorbanan dilakukan hanya untuk Allah, umat muslim berhaji dengan perjuangannya yang tidak mudah ditengah pandemi dan teriknya matahari, juga ibroh dari sebuah keikhlasan dan ketulusan hati seorang Ayah kepada Rabb nya, dan seorang anak yang ikhlas dikorbankan karena Rabb nya, itulah manusia mulia yang Allah utus untuk menjadi ibrah umat manusia di seluruh dunia.

Tak Sabar, Fatih beserta bapak dan abangnya menyiapkan bakaran sate siang ini. Sambil menunggu sedikit jatah daging kambingnya, pengqurban cilik ini antusias ingin membuat satenya sendiri. “Mama, mana ma daging kambingnya, kok belum sampai sih?’ dengan nada lucu karena cadelnya Fatih berulang-ulang menanyakan itu. Hmm… pokoknya disenyumin aja deh kalau anak cilik sudah mengulang-ulang pertanyaannya, kalau tidak disenyumin bisa langsung deh badai cerewetnya sang mama keluar hanya untuk bilang “Sabaaaaar nak…….”

Akhirnya… Alhamdulillah datang juga yang dinanti, langsung asap mengepul dengan aroma khas sate kambingnya. Waaah sibuk Fatih kipas-kipas sate sambil membolak balik sate panggangnnya. Dengan menambahkan kecap, dan minyak kelapa jadilah membuat olesan satenya wangi tidak kepalang. Satu tusuk sate matang dan siap meluncur ke mulut mungil Fatih sambil berkata… “Maaaah, enak mah” dengan senyuman lebar sehingga terlihat gigi ompongnya yang lucu.

Alhamdulillah, “Sate Syukur” kami telah selesai ditunaikan. Karena dari sate ini telah membuat kami terus mengingat betapa sayangnya Allah pada kami, dengan mensyukuri apa yang kami miliki bersama hingga hari ini. Bersyukur karena bisa berqurban hanya mengharap RidhoNya, bersyukur karena bisa memberikan pendidikan berqurban pada anak-anak kami, bersyukur bisa membuat bahagia Fatih kecil dengan qurban pertamanya bersama kakak dan abangnya, dan bersyukur dengan sate yang telah mengumpulkan kami dengan kompaknya bekerja-sama dengan bakaran sate lezatnya. MasyaAllah tabarakallah. Semoga Allah selalu memberi rahmat dan kasih sayangNya pada kami sekeluarga. Aamiin Allahumma Aamiin. Wallahu a’lam bishawab.