Oleh: Marvha Mirandha
(Aktivis Mahasiswi)

Sistem Ekonomi Islam, Stabil Dari Resesi?
Oleh: Marvha Mirandha
(Aktivis Mahasiswi)

Kali terakhir Tanah Air tercinta pernah mengalami resesi pada tahun 1998, bahkan sangat dalam, dan ada risiko akan terjadi lagi di tahun ini. Sebabnya, tentu saja pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti.(cnbcindonesia.com)

Resesi adalah hal yang bisa terjadi kapan saja. Resesi akan senantiasa berulang selama sistem ekonomi yang diterapkan adalah sistem kapitalis. Ada tiga hal yang menjadi penyebabnya:
Pertama, ekonomi kapitalis merupakan monetary based economy. Artinya, ekonomi kapitalis adalah ekonomi berbasis sektor moneter atau keuangan yang merupakan sektor non riil. Karena berbasis riba, sistem moneter ini justru membahayakan sistem keuangan secara keseluruhan. Kedua, ekonomi kapitalis adalah ekonomi berbasis flat money atau uang kertas. Ketiga, ekonomi kapitalis merupakan ekonomi berbasis utang. (Republika.co.id)

Resesi adalah suatu yang bisa terjadi dalam sistem ekonomi kapitalis, sehingga nyaris tak mungkin bagi suatu negara yang menerapkan sistem kapitalis ini akan terhindar atau tak pernah alami resesi. Ketika resesi terjadi jelas, rakyat kecil yang akan menjadi korban yang pertama, terlebih mengingat selama ini kehidupan rakyat menengah kebawah memang sudah terseok seok dengan berbagai hal yang terasa mahal mulai dari kebutuhan hidup sehari hari, pendidikan dan juga kesehatan.

Meskipun tak menutup mata, pemerintah sudah mencanangkan beberapa program yang digunakan untuk mengantisipasi ketidakmampuan rakyat kecil dari memenuhi kebutuhan hidupnya, namun tetap saja belum mampu mengcover seluruh kebutuhan rakyat kecil yang harus dipenuhi serta kadang masih tidak meratanya bantuan yang diterima rakyat. Maka kondisi seperti ini jelas akan semakin sulit terlebih dengan adanya covid19 yang menyerang bukan hanya negeri tercinta namun hampir keseluruh dunia. Banyak rakyat yang kehilangan pekerjaan dan tak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan kedepannya kesulitan ini akan bertambah jika sampai resesi tak terelakkan terjadi pada negeri tercinta ini. Selama sistem ekonomi kapitalis ini terus digunakan maka wajar jika resesi akan ada kesempatan untuk terus berulang.

Ketika seperti ini tak salah untuk coba berkaca kembali pada islam. Islam memuat seperangkat aturan yang sempurna, termasuk dalam pengaturan ekonomi islam yang begitu luas dan terperinci. Maka, meski resesi ekonomi seperti ini pernah terjadi dalam sistem islam, namun islam menanganinya dengan cepat dan tepat sesuai dengan apa yang diperintahkan syara’. Salah satu cara yang digunakan untuk menghindari resesi adalah dengab menggunakan uang emas, meski dalam penggunaannya masih terdapat beberapa kekurangan namun sudah terbukti tangguh.

Rangkaian sejarah, Islam membuktikan bahwa sistem mata uang emas dapat menjaga kestabilan perekonomian dunia. Selama kurun waktu 13 abad, sistem mata uang emas menjadi pijakan alat tukar bagi Khilafah. Sistem ekonomi islam inilah yang dianggap mampu dan tahan akan adanya resesi dan menjaga kestabilan perekonomian dunia.

Hanya saja, sistem ini tidak akan bisa berjalan sendiri dengan sistem yang tidak Islami. Sistem mata uang emas perlu dikombinasikan dengan sistem ekonomi Islam. Dan sistem ekonomi Islam hanya bisa dijalankan oleh pemerintahan Islam. Sistem pemerintahan tersebut adalah Khilafah. Dalam keadaan menyebarnya pandemi pun para pemimpin dalam islam akan melakukan upaya sebaik mungkin untuk melindungi rakyatnya, mulai dengan melakukan lockdown terhadap negeri yang terserang virus sampai dengan berusaha memenuhi setiap kebutuhan rakyat yabg diperlukan selama lockdown, sehingga dapat dipastikan rakyat tidak akan dibiarkan berdiri dengan kakinya sendiri dalam menghadapi pandemi. Sang khalifah selaku pemimpin akan ada bagi rakyatnya sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (tameng) bagi rakyatnya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap Allah SWT. Begitulah lengkapnya sistem islam yang telah Allah turunkan bagi hamba-Nya. Jadi, masihkah kita berpaling dari-Nya?. Wallahu’alam bis showwab