Oleh : Umi Rizkyi (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Di era Kapitalisme-sekulerisme ini tak dapat dipungkiri bahwa para wanita justru lebih banyak bekerja di luar rumah dari pada di rumah mengurus anak dan rumah tangganya. Karena Kapitalisme-sekulerisme, tidak akan tinggal diam, akan berusaha bagaimana caranya agar tetap konsisten dan eksis di dunia.

Lebih banyak menyaring dan membuka lapangan kerja bagi para wanita dari pada pria. Hal ini sesungguhnya bertujuan, agar ibu dan anak-anaknya tidak sempat untuk memikirkan masa depannya. Harus bagaimana, seperti apa dan mau berbuat apa?

Inilah bukti kelemahan dan rusaknya Kapitalisme-sekulerisme, di mana menjauhkan sifat seorang ibu yang ke ibu-ibu an. Yang mengharuskan anak-anak menjadi generasi penerus yang unggul dan mulia di sisi Allah SWT. Di mana tugas seorang ibu sebagai ibu dan pengurus rumah tangga, kini makin disibukkan dengan bekerja mencari nafkah demi membantu sang suami memenuhi kebutuhan pokok.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad yang artinya ” Mereka (para istri) memiliki hak yang menjadi kewajiban kalian (para suami) berupa rezeki mereka dan pakaian mereka secara makruf. Maka dari itu maka dalil isinya menyatakan kewajiban nafkah bagi suami atas istrinya.

Dan kewajiban menafkahi istri dan pakaiannya terdapat dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 233 yang artinya ” Kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya “.

Nafkah di sini bukan hanya makan, minum, pakaian saja. Namun juga termasuk tempat tinggal, sesuai firman Allah SWT yang artinya ” Tempatkanlah mereka ( para istri) di mana saja kalian bertempat tinggal menurut kemampuan kalian”. Hal ini menunjukkan bahwa, wajibnya suami memberi nafkah kepada istri tidak hanya mencakup sandang, pangan dan papan saja. Tetapi juga kebutuhan lainnya, menurut kehidupan yang makruf di masyarakat.

Seperti kisah Hindun binti abu Sofyan berkata kepada nabi Muhammad Saw ” Sungguh Abu Sofyan orang yang pelit. Dia tidak memberi aku harta yang mencukupiku dan anakku, kecuali apa yang aku ambil dari dia dan dia tidak tahu ” kemudian ia bertanya kepada Rasulullah Saw, ” Apakah ada dosa atasku jika aku ambil sesuatu dari hartanya, ” kemudian Rosullah Saw bersabda kepada Hindun, yang artinya ” Ambillah harta yang mencukupimu dan anak-anakmu secara makruf. HR Bukhari, Abu Dawud, An Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad.

Walaupun demikian, maka hendaknya seorang istri harus mengambil atau menuntut haknya secara makruf, tidak seenaknya sendiri. Menuntut haknya, tanpa menghiraukan lagi hukum Syara’, itupun juga tidak diperbolehkan dalam Islam.

Dengan demikian, maka memberi nafkah istri dengan syarat berkecukupan artinya adalah memberikan nafkah tidak dengan batas minimum. Tetapi kecukupan dengan apa yang makruf di negeri seseorang itu tinggal. Serta di tengah masyarakat di mana dia hidup. Juga penunaiannya sesuai kemampuan.

Adapun pemenuhan kebutuhan pokok secara penuh dan makruf bagi setiap individu itu menjadi kewajiban negara. Di mana sudah tugas negara untuk menjaminnya dengan adanya hukum-hukum dan mekanisme yang telah ditetapkan oleh hukum Syara’ melalui diterapkannya hukum-hukum Islam di sebuah negara secara kaffah. Allahuaklam bishowab.