Oleh: Maman El Hakiem

Hanya ada dua hari raya bagi umat Islam. Idul Fitri dan Idul Adha. Kembali fitrah dan kembali udhiyah. Dua syiar yang selalu dihiasi kalimat pengagungan kepada Allah SWT. Gema takbir, tahmid dan tahlil mengisi hari hari kemenangan tersebut. Inilah hari yang tidak boleh kaum muslimin bersedih hatinya, tidak boleh kelaparan, apalagi menderita karena penganiayaan.

Makna sejati udhiyah pada Idul Adha adalah memotong hewan kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan hukum syariat-Nya. Ketaatan kepada syariat tanpa syarat, sehingga hati begitu ikhlas mengorbankan hartanya di jalan Allah SWT. Hewan yang disembelih dan membagikan dagingnya, cermin pengorbanan itu bukan untuk kebaikan dirinya saja, melainkan menjadi kebaikan buat yang lain.

Daging hewan kurban, meskipun rasa atau aroma dagingnya boleh jadi sama dengan yang dikonsumsi sehari-hari, namun karena udhiyah itu ibadah yang menjadikannya bernilai pahala dari Allah SWT. Dalam sebuah kitab dinukilkan, bahwa hewan yang kita kurbankan, kelak akan menjadi tunggangan di akhirat. Secara dimensi sosial pun adanya daging yang menjadi sumber protein yang terbilang mahal bagi sebagian kalangan, menjadikan kuatnya jalinan ukhuwah tanpa lintas batas.

Islam sebagai agama yang harus disyiarkan, kemuliaannya tidak boleh disembunyikan. Karena itu sangat aneh jika masih ada seorang muslim yang tidak bangga dengan keislamannya. Lebih memilih mensyiarkan ajaran agama lain, bahkan pemahaman tertentu yang minus dari nilai keagamaan. Ajaran Islam seolah dianggap masalah, bukan solusi. Khilafah yang jelas brand Islam sering disalahkan, dianggap produk impor yang tidak layak diperjuangkan. Mereka yang mundur secara perlahan dari jalan dakwah hakikatnya lebih memilih syiar lain, selain Islam.

Tidak sepantasnya kemuliaan ajaran Islam dinistakan hanya karena tidak adanya keberanian diri untuk menyampaikannya ke tengah umat. Syiar itu adalah penampakan secara fisik, mereka yang berani menjadi bagian perjuangan untuk memahamkan kesadaran umat tentang ajaran Islam yang kaffah. Syiar-syiar Islam tidak boleh padam di tangan umat Islam sendiri. Karena itu spirit berkurban, harusnya menjadi semangat berkorban di jalan Allah SWT. Cahaya syiar Islam tidak akan pernah adam, jika kita menyadari untuk segera berkorban baik pemikiran, harta maupun jiwa untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin di seluruh dunia.

Wallahu’alam bish Shawwab.