Oleh :NS. Rahayu

“Auuuw”, jerit Upik. Dia terlihat sangat terburu-buru sehingga tanpa disadarinya tubuhnya telah menabrak sesuatu di pintu rumah dan sangat terkejut karena ada penampakan sosok lelaki berdiri dihadapannya sambil meringis. Setelah tahu penampakannya diapun langsung cemberut dan mundur kebelakang.

Dia teman kakakku namanya Ridwan, hanya nasibnya lebih beruntung dari mas Sapta. Dia sudah lolos seleksi guru. Rumahku ibarat tempat singgah para jomblo termasuk dia, kalau sudah konfirmasi dolan maka tanpa ba bi bu nylonong aja langsung ke kamar mas Sapta atau Apip.

“Ketuk pintu atau salam kek, main slonong aja”, gerutu saya. Tapi dia hanya tersenyum.
“Maaf gak bisa menghindar lagi dik … kamu sih terburu-buru kagak lihat di depan ada saya”, godanya sambil mundur memberiku jalan keluar.
“Iiiiiih …”, marah tapi mau gimana lagi, emang rumah sudah seperti sarang ke dua cowok-cowok .
“Mau di antar kemana putri?”.
“Gak!”, jawab Upik ketus berlalu meninggalkannya.

*

Dia terburu-buru karena teringat minggu ini sudah ada janjian ketemu dengan mbak Erni jam 08.00 wib di teras samping masjid Agung dan dia biasa disipiln waktu. Tidak ingin membuat orang lain menunggu, jadi mau on time.

Tak terasa sudah tiga bulanan saya ikut binaan ilmu dengan mbak Erni. Dia masih muda usianya 25 tahun, 3 tahun lebih tua dariku. Cantik, kurus, tinggi namun proporsional. Balutan jubah besarnya tak dapat memperlihatkan tubuhnya, saya tahu dia kurus hanya dari tirusnya wajahnya.

“Gimana dik setelah ikut kajian”, tanya mbak Erni lembut membuyarkan lamunanku tentangnya.
“Lebih tenang mbak, meski ya begitu ….”, jawab saya sambil senyum tapi tidak bisa lepas. Memang masih ada ganjalan dalam benak. Banyak dan banyak sekali.
“Pasti ada sesuatu yang dirasakan, jawabannya masih ngantung, belum jelas. Mau cerita sama saya?”, kejarnya.

Widih orang ini kepo amat. Masa hal yang tidak ingin kuceritakan dia pancing-pancing keluar. Sayapun tersenyum sambil menatap dua bola matanya dalam-dalam, diapun balik menatap saya dengan penuh kelembutan tanpa ragu sedikitpun dan saya merasakan keteduhan dalam tatapannya.

Saya jatuh hati pada pandangan pertama dengan guru sekaligus kakak ini. Meski belum lama kenal (kenal saat ikut kelas bersama karena di ajak Mitha teman SMA) rasanya sudah begitu akrab.

“Kok saya berasa berat ya mbak setelah menutup aurat”, akhirnya keluar apa yang terasa di benak.
“Berat gimana? Tadi katanya lebih tenang”, dia balik bertanya. Aku menarik nafas panjang agar kuat bercerita.
“Tenangnya karena ternyata saya sedang menjalankan perintah Allah sebelum saya tahu hukumnya.
Kemarin pengin nutup aurat sebatas memuaskan keinginan bukan untuk menjalankan perintah”, diam sesaat memikirkan sesuatu.
“Tapi … “.
“Tapi apa… whats wrong?”, tanya mbak Erni. Saya menggeleng kepala.
“Masih beraaaat sekali mbak rasane …, dari teman, tetangga, keluarga menganggap apa yang saya lakukan ini belum waktunya”, saya rapatkan bibir ini kuat agar kesedihan ini tidak menimbulkan bulir-bulir airmata. Saya biarkan mbak Erni mendekati tubuh saya, meraih tangan kemudian menepuk-nepuk lembut.

“Saya sadar kenapa mereka seperti itu. Kehidupan saya kemarin dianggap mereka terlalu buruk untuk pakaian taat ini. Apa saya harus baik dulu baru boleh nutup aurat mbak?” saya terdiam menghela nafas. Ada kepahitan yang ingin saya tahu kebenarannya.
“Masih ada? Lanjutkan dulu nanti baru saya jawab”, dia tersenyum menunggu saya melanjutkan

“Saya kan jadi ragu mbak, lanjut atau lepas dulu sambil berbenah, wong faktanya ngaji saja saya hanya hafal surat pendek Al fatihah dan tiga Qul, disodori Al Quran suruh baca saya pasti nyerah, la wong memang gak bisa. Nah bener kan kata mereka. Belum waktunya, saya harus belajar Islam dulu dan menjadi alim”. Kali ini benar-benar runtuh air mataku. Saya merasakan pula tetes hangat di punggung tangan saya. Mbak Erni pun mendekap saya sambil mengusap air mata saya.

“Sudah?”. Sayapun mengangguk perlahan.
“Saya jawab ya dik, moga bisa membuat kita makin istiqomah di jalan ketaatan”.

Ngawi, 29 Juli 2020

Ikuti sambungannya ya