Oleh : Umi Rizkyi (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Dalam beberapa pekan terakhir ini, sangat menggoncang beberapa pihak dari kebijakan pemerintah tentang kesungguhan pemerintah mengembangkan lumbung pangan nasional (LPN). Yang disebabkan oleh kegagalan program yang serupa di era sebelumnya tanpa adanay pembenahan.

Dengan adanya hal itu, yang menunjukkan krisis pangan global yang mengancam negara haruslah mendorong pihak pemerintah untuk lebih serius dan lepas dari kepentingan politik dalam merealisasikan program LPN.

Seperti yang dilansir oleh kompas.com(14/7/2020)_ Jakarta, Anggota majelis tingkat partai demokrasi, Syarief Hasan meminta pemerintah membuat kalkulasi dan pertimbangan matang terkait rencana program Lumbung Pangan Nasianal (LPN) di Kalimantan Tengah.

Menurutnya sudah beberapa tahun terakhir pemerintah telah melaksanakan program lembaga pangan nasional, tetapi gagal alias tidak membuahkan hasil.

Pada eks PLG di Kalimantan Tengah pernah dilakukan pembukaan lahan sebanyak satu juta hektar. Dengan mengubah lahan gambut dan rawa menjadi sawah. Yang berhimbas pada kerusakkan lingkungan. Kita harus belajar dari kejadian tersebut, kejadian itu jangan sampai terulang kembali, jelasnya dalam pernyataan tertulis Selasa (14/7/2020).

Sebenarnya kalau kita ketahui, sesungguhnya negara kita tercinta ini sebagai negara agraris, tentu tidak layak mengalami yang namanya krisis pangan. Bagaimana tidak, seperti yang kita ketahui bahwa negara kita tercinta ini memiliki potensi alam yang subur dan sangat banyak SDM dan SDA yang melimpah ruah. Secara logika maka seharusnya memiliki ketahanan pangan yang tinggi, sehingga mampu mensejahterakan rakyatnya.

Namun faktanya semuanya nampak yang s3baliknya. Krisis pangan yang mengancam negeri ini. Selain faktor alam yang mulai tidak menentu, juga didukung oleh kebijakkan pangan yang diambil oleh pemerintah dari hari ke hari justru melemahkan ketahanan pangan. Sehingga masuk sebagai negara krisis pangan.

Seharusnya fakta ini membuka mata dan hati kita semuanya bahwa penerapan sistem Kapitalisme-demokrasi merupakan pangkal dan akar terjadinya krisis pangan. Karena bertumpu pada kekuatan modal dan kebebasan menjadikan pasar bebas sebagai alat penjajahan gaya baru.

Negara kita ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Hendaknya mengambil langkah strategis untuk membalikkan keadaan. Bukan malah sebaliknya, sibuk mengambil kebijakan praktis , apalagi hanya sekedar pencitraan, nauzubillahi min dzalik.

Hal inipula yang ternyata telah mencengkeram dan menggurita di negeri kita tercinta ini. Seharusnya ini kita sadari bahwa ini justru mengukuhkan penjajahan negara-negara besar melalui lembaga-lembaga internasional yang telah mereka ciptakan.

Mini saatnya kita harus mengubah paradigma bernegara dari kapitalisme-demokrasi ke sistem Islam yang berasal dari sang Khaliq. Yang menjadikan akidah Islam sebagai asas dan Syariat Islam sebagai aturan hidup.

Karena hanya dengan negara, Islam mampu diterapkan secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Begitupula dalam pertanian, sebagai sumber pangan yang utama. Maka negara Islam akan meningkatkan produktivitas, kebijakan pertahanan, dan lain-lain.

Dengan adanya sinergi berbagai pihak itu, maka krisis pangan tidak akan tidak akan terjadi. Lumbung pangan yang memadai dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Hal ini harus disadari oleh masyarakat dan juga negara akan butuhnya sebuah sistem yang benar-benar menerapkan aturan Allah dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya sekedar dalam kondisi darurat saja, tapi karena itu merupakan kewajiban.

Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya ” Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul apa bila Rosul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dikumpulkan. TQS Al Anfal 24. Allahualam bishowab.