Oleh: Maman El Hakiem

Dunia ini tidak bernilai di mata para pejuang. Mereka yang membara di jiwanya kerinduan tentang surga, tak akan terganti dengan kesenangan dunia yang sekejap mata. Rasa hanya sekedar melintas di lidah, tidak pernah menghujam di hatinya. Begitu dunia di dapatnya hanya mampir dalam genggaman, lalu seketika menjadi amal kebaikan. Tatapan matanya jauh ke depan, tidak tergoda bujuk rayu di setiap pinggir jalanan. Harapan hanya tertuju pada yang menggenggam segala semesta alam, Allah SWT.

Bahagia dalam rasa makhluk sering salah duga,maka hanya dengan tunduk pada-Nya bahagia sejati diraihnya.Jika surga itu apa yang menjadi ridlo-Nya, maka para pejuang berlomba meraihnya. Begitulah Hanzhalah bin Abi Amir yang gugur di medan juang memenuhi panggilan surga yang diimpikannya, melalui pintu jihad, beliau gugur saat bertarung melawan Abu Sufyan bin Harits. Tetapi, istimewanya beliau gugur di malam pertama pernikahannya. “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub ketika mendengar seruan jihad.” (HR.Tirmidzi dan Abu Hazm).

Jalan surga para pejuang, bukan jalan sembarang mereka yang hanya berpangku tangan. Tidak mudah melawan rasa egoisme yang bertahta di atas kuasa, terlebih jika sudah merasa telah berkorban harta. Mereka lupa harga surga tidak cukup dengan sejumlah nilai harta. Maka,dengarlah tangisan Abdurrahman bin Auf yang terisak isak saat dirinya diberitahu sebagai orang yang akan masuk surga terakhir, itupun dengan cara merangkak. Satu sebabnya, karena banyaknya harta yang harus dihisab. Padahal, beliau hampir seluruh hartanya digunakan untuk jalan dakwah.

Mental para pejuang,tidak akan pernah merasa dirinya cukup dengan apa yang telah dikorbankannya. Harta dan jiwa bukan miliknya, maka jika harus membeli surga mereka merasa tidak memiliki apa-apa. Keberadaan dirinya di dunia sekedar hamba Allah SWT, yang harus tunduk pada perintah dan larangan-Nya. Tidak sepantasnya seorang hamba merasa nyaman dengan apa-apa yang tidak dimilikinya. Maka, segera mereka bergegas meraih pahala dari setiap celah peluang amal shalih sekecil apapun, tanpa melihat atas segala apa yang telah dicapainya. Mereka baru merasa cukup , saat bahagia diraihnya di ujung usia menjadi syuhada di hadapan Allah SWT.

Wallahu’alam bish Shawwab.***