Oleh: Dwi Rumiati S,Pd

Banyak orang tua yang memiliki berbagai ekspektasi untuk anak-anaknya. Tanpa kemudian menyadari, ekspektasi ini pada akhirnya banyak memberikan tuntunan pada buah hati. Padahal, anak-anak adalah makhluk lugu yang lebih suka meniru ketimbang menjalankan perintah. Ya, sosok anak itu butuh teladan, bukan tuntutan.

Parahnya lagi, banyak orang tua yang menganggap anak-anaknya harus sama seperti dirinya. Mudah mengerti dan memahami jika diajak bicara. Padahal, dari sisi usia, pengalaman, dan sebagainya jelas-jelas berbeda. Lantas bagaimana mungkin pola pikir anak-anak bisa sematang pikiran orang tuanya? Nyata adanya, banyak orang tua egois dalam mendidik anak-anaknya. Apakah kita termasuk?

“Nak, baca Alquran!” Emaknya nonton televisi.

“Kakak, murojaah!” Bapaknya menghafalkan lagu India.

“Adik, Ndak boleh main HP!” 24 jam emak dan bapak melototin smartphonenya tanpa peduli perasaan sang anak yang membutuhkan perhatian dan pelukannya. So, kalau begini caranya, kira-kira mana yang akan diikuti anak? Perintah atau perbuatan orang tuanya?

Anak-anak adalah peniru ulung. Jangan coba-coba salah kata atau tindakan kalau tidak mau kena imbasnya. Hati-hati dan perhatikan dengan cermat setiap kata dan laku kita kepada anak. Berikan energi positif padanya. Sebab kata adalah doa, laku adalah tuntunan untuk ditirukan. Waspadalah!
.
“Ma, Kakak bantu cuci piring, ya.” Mata ananda berbinar.
“Jangan! Biar mama aja.” Si mama males capek dan kerja dua kali. Kalau ananda ikut cuci piring, yang ada malah cucian tidak bersih, air berserak di mana-mana. Jadilah sang mama menolak tawaran si anak.
.
Kalau selalu demikian, maka orang tua tidak boleh heran, kesal, atau marah ketika tubuhnya mulai renta sedangkan sang anak tak ada yang bisa diminta jasanya. Jangan salahkan anak, jika merekapun akan menolak apa mau kita sebagaimana kita pernah menolaknya. Maka, jangan protes ketika anak beranjak besar, kemudian mulai muncul bantahan-bantahan dari lisan dan sikapnya.

“Nak, bantu Mama nyapu, ya.”

“Gak ah, Ma. Capek!” atau “Gak ah, Ma. Males!” Atau “Mama aja, lah. Kakak gak bisa!”

Orang tua pasti merasakan sakiiitt banget dengan kondisi seperti ini. Tapi, mereka lupa bahwa sejatinya merekalah yang telah mencetak buah hatinya sedemikian rupa.

So, jika anak suka berbohong, membentak, mencela, mencaci, mengancam, dan berbagai hal buruk lainnya, coba tengok perlahan ke belakang. Jangan-jangan justru kita yang menjadi teladan bagi buah hati tercinta. Berantam di depan anak, mungkin. Atau memang terbiasa menghardik anak, barangkali.
Jika ternyata bukan kita, lihat lagi lingkungan sekitarnya. Teman-temannya, Om-tantenya, atau bahkan kakek-neneknya. Periksa ulang semua dengan teliti. Jangan serta merta menuding dan menjuluki hal-hal buruk terhadap buah hati. Sebab sejatinya, tak ada anak yang tiba-tiba bisa berkata dan berbuat. Pasti ada yang dilihat dan didengar hingga kemudian ditiru oleh si mungil kita.

Berat, memang berat peroleh amanah menjadi orang tua, ya? Baru bicara soal imbas di dunia saja, rasanya sudah aduhai. Butuh kerja keras untuk mengolah jiwa, ego, hati, dan emosi. Bagaimana lagi jika bicara soal pertanggungjawaban di Yaumil hisab nanti?
Yah, intinya setiap amanah tidak akan luput dari tuntutan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) di mahkamahnya Allah SWT. Dan, seharusnya justru inilah yang menjadi dorongan terbesar bagi kita untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada buah hati. Demi investasi kebaikan di dunia hingga di akhirat nanti. Karenanya, tidak ada lagi alasan, setiap orang tua harus terus belajar, belajar, dan belajar!

Satu hal lagi Mendidik anak tidaklah bisa hanya dibebankan kepada orang tua atau sekolah saja. Untuk hasil yang maksimal, proses pendidikan anak juga harus disokong oleh negara. Sebagai contoh, ketika anak-anak dituntut untuk menguasai tekhnologi. Seharusnya negara hadir untuk memastikan bahwa hanya konten-konten positif yang ada di dunia daring. Sehingga, baik orang tua maupun guru tidak dihantui kecemasan ketika si anak berselancar di jagad internet. Hari ini, justru konten konten positif yang ada di dunia daring. Sehingga, baik orang tua maupun guru tidak dihantui kecemasan ketika si anak berselancar di jagad internet. Hari ini, justru konten-konten unfaedah bebas berseliweran meski tanpa dicari.

Selain itu, negara juga memiliki peran yang besar dalam mensejahterakan rakyatnya. Kebutuhan pokok semisal sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan sejatinya harus dalam jaminan negara. Tidakpun geratis, paling tidak terjangkau (meskipun sebenarnya pernah ada dan bisa sebuah negara menggeratiskan pendidikan dan kesehatan). Sehingga para orang tua bisa lebih fokus dan intens untuk membersamai anak-anaknya.

hari ini, dengan tuntutan hidup yang melambung tinggi, banyak sekali rakyat jelata yang peras keringat dan banting tulang siang-malam. Bukan hanya Bapak, Emakpun turut serta berjibaku di dunia kerja. Namun hidup tak jua sejahtera. Sebab semuanya ada harga yang tak terhingga. Maka yang ada di benak orang tua setiap harinya hanyalah kerja, kerja, kerja! Dan akhirnya mereka lupa, ada nyawa yang membutuhkan hadirnya orang tua. Ada nyawa yang harus dituntun bukan dituntut. Ada nyawa yang butuh teladan, bukan tuntutan. Nyawa itu adalah anak-anak mereka.

Ini baru segelintir kasus. Dan tentu saja banyak lagi kasus-kasus lainnya yang sangat membutuhkan peran dari negara. Sayangnya, hal ini sulit terealisasi sebab negeri yang terbelenggu kapitalisasi dan liberalisasi. Alhasil, selama negeri ini masih berada dalam cengkraman kapitalisme, maka selama itu pula beban berat mendidik generasi hanya ada di pundak orang tua atau guru semata. Itupun bagi yang memiliki kesadaran dan siap berlelah-lelah untuk mendidik. Kalau tidak? Hancurlah nasib generasi, hancur pula masa depan negeri ini.