Oleh : Kelompok 64 KKN-DR
(Mahasiswa UINSU)

Dunia tengah digemparkan wabah virus covid-19. Virus yang awalnya ditemukan di Wuhan China, lalu akhirnya menyebar begitu cepat ke berbagai negara di belahan dunia, termasuklah di Indonesia. Adanya pandemi ini telah berdampak pada semua bidang, terutama pada bidang pendidikan. Kini sistem pendidikan tengah dirubah untuk sementara dikarenakan untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Sistem daring (dalam jaringan) kini menjadi andalan, namun banyak sekali permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran.

Banyak orang tua siswa yang mengeluh adanya perubahan kegiatan pembelajaran menjadi pembelajaran daring dimana pembelajaran daring memerlukan handphone atau laptop yang mana orang tua siswa tidak semuanya memiliki finansial yang cukup, bahkan untuk makan saja kesulitan apalagi di masa pandemi saat ini, dan tak jarang para orang tua yang tidak mempunyai handphone sedangkan anak harus bahkan wajib belajar menggunakan handphone. Seperti yang disampaikan Sukiyem bahwasanya anaknya wajib menggunakan handphone semenjak pembelajaran daring yang dimulai sekitar bulan Mei 2020 dimasa semester genap dan hingga sekarang (22/7/29). Sehingga ini akan membebani orang tua.

Masalah lain muncul yaitu mengenai paket data yang di sampaikan oleh Anna melalui wawancara, Rabu (21/7/20) ” sudah di suruh menggunakan handphone waktu belajar, belum lagi biaya membeli paket, apalagi biaya paket Tidak murah” penggunaan paket data yang dipergunakan siswa dalam belajar di mana orang tua siswa banyak yang mengeluh atas penggunaan paket data dan juga harus membayar uang sekolah. Fakta-fakta tersebut dijumpai di masyarakat masyarakat sangat mengeluh atau sangat terbebani akan terjadinya pembelajaran daring yang tidak diinginkan dan disebabkan oleh keadaan dan situasi saat ini yang sedang dilanda covid 19. Selain itu pembelajaran daring ini sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang di mana pembelajaran daring ini kurang efektif dirasakan oleh siswa dikarenakan siswa tidak dapat mudah memaham atas penjelasan yang diberikan guru melalui media tersebut banyak siswa yang tidak memahami melalui penjelasan pembelajaran yang dilakukan dalam jaringan tersebut. Tak jarang juga bahwa orang tua yang kesulitan menggunakan handphone, dan kerap kali orang tua yang mengerjakan tugas anaknya dengan begitu ini akan mempengaruhi tingkat kognitif anak, sehingga anak malas untuk belajar.
Menurut kompas, 28/03/2020 dampak virus COVID-19 terjadi diberbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pariwisata dan pendidikan. Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan pemerintah pada 18 Maret 2020 segala kegiatan di dalam dan di luar ruangan di semua sektor sementara waktu ditunda demi mengurangi penyebaran corona terutama pada bidang pendidikan.

Wabah pandemic akibat penyebaran virus Corona (Covid-19) telah menyebabkan beragam kepanikan, salah satunya di ranah pendidikan. Pembelajaran daring merupakan suatu pilihan strategi pembelajaran yang lazim, karena pembelajaran daring tidak terikat dengan ruang, waktu, kapan saja dan di mana saja, siswa dapat mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Pembelajaran daring adalah metode belajar yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan Learning Manajemen System (LMS). Seperti menggunakan Zoom, Google Meet, dan lainnya. Melihat kemajuan teknologi yang semakin canggih, dan untuk tidak mengurangi standarisasi pendidikan, maka pemerintah mengambil kebijakan tersebut guna meminimalisir penyebaran covid-19 yang sedang marak terjadi di Indonesia.

Banyaknya permasalahan yang terjadi dikarenakan ekonomi yang kian hari kian menurun, banyak pekerja yang dirumahkan dan bahkan ada yang di PHK(Putus Hubungan Kerja), tentu permasalahan belajar daring ini akan menambah beban orang tua. Untuk itu daiharapkan kebijakan dari pemerintah dalam memberikan solusi tuntas terhadap pembelajaran daring saat ini. Karena pembelajaran daring ini sangat berefek terhadap tingkat kualitas dan kuantitas belajar siswa. Seperi dilansir dari Tribunnews.com, kisah Mpok Ida, pinjam HP dan ngutang ke tetangga beli kuota Internet agar anaknya bisa belajar. “Beliin pulsa untuk internetnya itu juga pinjam uang”, ujar Ida saat dijumpai Wartakotalive di kediamannya, Rabu (15/7/2020). Dalam sehari Ida hanya memperoleh 20.000 dari hasil menjual plastik sampah itu.

Miris sekali mendengarkan keluh kesah masyarakat yang mengeluhkan bahwa jika memang pemerintah memberlakukan pembelajaran daring maka seharusnya pemerintah juga yang harus memfasilitasi sepenuhnya, bukan lagi menambah beban orang tua yang ekonominya kian hari kian menurun drastis di masa pandemi saat ini. Sebaiknya kebijakan belajar online dari kementrian pendidikan tidak hanya ditelan semuanya alias dipaksakan dikerjakan, harusnya diteliti terlebih dahulu kesanggupan dari orang tua dan anak murid serta keluarganya. Ciptakan pola pembelajaran yang fleksibel, bisa online bisa offline sesuai tekniks sekolah dan guru masing-masing. Ekonomi kian sulit, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari tidaklah mudah , dtambah lagi dibebani dengan memaksakan diri membeli hp dan paket data yang tidaklah murah.
Adapun banyak kendala dalam melaksanakan pembelajaran daring di Indonesia. Tidak semua guru punya kemampuan untuk mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi canggihnya. Padahal, pembelajaran daring memerlukan kreativitas dalam proses pembelajarannya agar materi yang disampaikan oleh guru mudah dipahami oleh siswa dengan memanfaatkan media daring yang ada. Kemandirian belajar siswa di rumah tidak dapat sepenuhnya dapat terlaksana dengan baik. Ketidakpahaman atau miskonsepsi suatu materi mungkin saja terjadi. Apalagi jika materi yang diberikan, butuh penjelasan yang lebih detail dan mendalam. Atau siswa tidak memahami materi yang disajikan dan harus segera memperoleh penjelasan dari guru. Maka dari itu pendampingan dari orang tua diperlukan dalam proses pembelajaran daring.

Tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan guru membebani siswa. Pembelajaran daring seharusnya tidak membebani siswa dalam belajar. Materi dan jenis penugasan selayaknya diberikan waktu yang bijak dan sebisa mungkin terkait dengan kesadaran bahaya wabah Covid-19. Dan tak jarang malah orang tua yang bersusah payah mengerjakan tugas anaknya. Tidak semua siswa mempunyai handphone atau laptop. Mungkin saja handphone menjadi barang mewah bagi siswa dari kalangan ekonomi tidak mampu. Akibatnya, siswa tidak punya fasilitas pembelajaran daring. Pembelajaan daring terkendala dengan signal internet yang tidak stabil dan pulsa (kuota data) yang mahal. Kestabilan signal internet diperlukan agar dalam proses pembelajaran tidak terganggu sehingga siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Namun, agar pembelajaran daring ini bisa berjalan dengan baik, dibutuhkan koordinasi dan kerjasama antara siswa, guru, dan orangtua, serta instansi pendidikan. Hal tersebut disampaikan pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Fitri Arsih kepada Padang Ekspres, kemarin (21/7/2020).Dikutip dari laman padek.jawapos.com
Kerja sama yang baik antara guru, siswa, dan orang tua sangatlah penting, karena dengan begitu akan membawa efek yang baik pada tingkat belajar anak di rumah.

Pembelajaran daring memang menjadi dilema bagi guru dan siswa. Di satu sisi, proses pembelajaran harus berjalan. Dan, di sisi lain, berbagai problematika mengiringi proses pelaksanaannya. Diharapkan seluruh stakeholders seperti pemangku kebijakan (Kemendikbud), kepala sekolah, guru, orangtua, dan siswa harus saling bekerja sama untuk mensuksekan pelaksanaan pembelajaran daring. Alternatif solusi untuk mengatasi tersebut harus diberikan dan disepakati untuk dilaksanakan secara bersama-sama. Dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu, 02 Mei 2020. Menurut wakil Sekretaris Federasi Serikat Guru (FSGI), Satriawan Salim menyatakan, Metode PJJ atau Proses Pelaksaan Pembelajaran Jarak Jauh yang diterapkan selama pandemi covid-19 menyebabkan guru maupun siswa tak maksimal dalam menjalankan proses pembelajaran. Minimnya akses teknologi hingga keterbatasan matersi yang disampaikan menjadi sejumlah kendala.
“Sudah pasti terjadi penurunan kualitas penegtahuan akibat corona. Pembelajaran dilakukan jarak jauh dan faktanya guru, siswa dan orang tua, gugup dan gagap menghadapi model pembelajaran seperti itu,” ujar Satriawan
Dengan adanya sistem pembelajaran daring, yang mengharuskan guru memberikan penjelasan materi pembelajaran secara online, berupa video pembelajaran agar siswa dapat mengerti dengan materi yang di pelajari. Tetapi kenyataan dilapang berbanding terbalik dengan yang diharapkan, dimana sebagian besar dari guru hanya memberikan tugas kepada siswanya tanpa memberikan penjelasan sama sekali, sehingga siswa tidak faham dengan materi dan soal yang diberikan. Dan ini menjadi salah satu keluh kesah yang dirasakan oleh setiap orang tua siswa. Seperti salah satu warga di daerah Lawe Sigala, Aceh Tenggara yang telah diwawancarai, menanyakan bagaimana tanggapan ibu tersebut mengenai sistem pembelajaran daring tersebut dan yang dialami ibu itu sendiri. Ibu menjawab“Menurut saya sistem pembelajaran daring ini kurang efektif, kenapa saya bilang kurang efektif? Karena di sini siswa kurang memahami materi dikarena sebagian guru hanya menjelaskan beberapa materi, dan anak didik belum tentu langsung paham mengenai materi tersebut, dan setelah penjelasan tersebut si guru langsung memberikan tugas” nah di sini dapat dilihat bahwa terkadang seorang anak didik itu jika gurunya menjelaskan materi langsung dengan bertatap muka itu belum tentu anak didik tersebut langsung paham, apalagi dengan sistem daring tersebut. Seharunya pemerintah tidak bisa menyerahkan sistem daring pada dunia pendidikan ini secara sepihak, namun seharusnya juga menyerahkan pada tiap sekolah dan orangtua atas kesanggupannya dalam pembelajaran daring ini. Apakah memang sekolah atau orang tua mampu melaksanakan dengan baik atau tidak.

Pada masa pandemi seperti ini sebenarnya pembelajaran daring merupakan pilihan strategi yang tepat karena anak-anak dapat tetap belajar tanpa harus bertatap muka dan pergi kesekolah. Namun pada kenyataan implementasinya proses pembelajaran daring tidak berjalan lancar dan banyak keterbatasan serta permasalahan yang terjadi. Di kutip dari laman kompas.com “Komisi Perlindungan Anak Indonesia menerima 51 pengaduan online hingga Kamis (19/3/2020), terkait pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah sebagai langkah pencegahan terhadap penyebaran virus corona. ”Rata-rata pengaduan online yang didapat berisi tentang jumlah tugas yang diberikan kepada siswa terlalu banyak dan terkait sarana seperti kuota internet.

Untuk itu sebagai seorang intelektual sangat menyayangkan kebijakan pemerintah yang memberlakukan Social Distansing hanya apada bidang pendidikan, sekolah-sekolah ditutup hingga sampai pada kampus-kampus. Dunia Pendidikan yang seharusnya akan lebih menjaga kebersihan serta menaati peraturan malah ditutup pemerintah tetapi mall-mall, objek wisata serta pusat perbalanjaan lain tetap bebas dibuka dan tak jarang masih minim terhadap kewaspadaan menghindari keramaian. Jikalau di takutkan pada saat kembali buka akan meningkatkan positifnya korona, bukan kah itu sangat tidak adil? Di mana letak keadilannya? Kalau Mall-Mall, tempat perbelanjaan hingga bioskop dan bahkan tempat wisata sudah di buka kenapa sekolah-sekolah dan kampus masih tetap di tutup, bukan kan itu sama-sama berada di keramaian?
Maka seharusnya pemerintah memfasilitasi segala kebutuhan dalam pendidikan, apalagi di masa pandemi saat ini. Jika memang pemerintah memberlakukan pembelajaran daring harusnya pemerintah juga memberikan kebutuhan dalam pembelajaran daring tersebut. Adanya kendala akan membuat pembelajaran daring di rumah tidak berjalan efektif dan akan menciptakan penurunan kualitas belajar siswa. “Indonesia suah berada dalam situasi darurat bencana non-alam dan karenanya menjadi kewajiban negara untuk melakukan pemenuhan kebutuhan selama masa darurat tersebut sesuai Undang-undang Penanggulangan Bencana.” kata Asfinawati dalam rilis yang diterima kompas.com, kamis(11/6/2020). Pemerintah juga berkewajiban mewujudkan akses pendidikan secara merata.
Masa pandemi saat ini adalah masa-masa yang sulit, alih-alih mengurangi beban rakyat malah menambah beban rakyat seperti naiknya tagihan listrik, mahalnya UKT mahasiswa ditambah lagi harus belajar daring dengan biaya paket data yang tak murah dan jaringan/sinyal yang bermasalah di tiap-tiap daerah membuat para pelajar akan terganggu akan hal tersebut. Pemerintah dinilai belum memberikan kebijakan yang mengarah pada pemenuhan hak pendidikan dan tak memikirkan kesulitan yang dihadapi para pelajar dan masyarakat. Pendidikan adalah hak setiap masyarakat, siapa pun berhak memilikinya tak memandang kaya dan miskin karena itu adalah kewajiban pemerintah dalam memfasilitasinya baik dalam masa pandemi atau masa setelah pendemi berakhir tetap kewajiban pemerintah dalam memfasilitasi pendidikan secara merata.