Oleh: Hanna Salsabila AR. (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Pilu nan duka masih kita rasakan atas pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Ditambah curva pun terus meningkat seiring berjalannya waktu. Masyarakat yang sudah bosan dengan kebijakan social distancing, hingga akhirnya memilih New Normal atas anjuran pemerintah dengan syarat mengikuti protokol kesehatan. Namun, ternyata tetap tidak bisa menjamin keamanan daripada wabah ini.

Sedangkan, untuk kebutuhan pendidikan seperti sekolah dan kuliah, pemerintah memutuskan untuk diterapkannya sistem pembelajaran online atau lebih dikenal sebagai daring. Sistem belajar seperti ini sudah berjalan sejak awal Juli lalu hingga saat ini. Daring menuntut pengeluaran yang besar untuk kebutuhan seperti kuota, HP, dsb.

Sungguh alangkah miris, semenjak diterapkannya Daring sedikit banyak masalah datang kepada siswa dan para orang tua. Apalagi, siswa yang terkategori sebagai siswa dibawah rata-rata atau kurang mampu. Tak jarang, ada siswa yang belum memiliki HP sehingga bingung bagaimana akan menjalani daring. Pun tak jarang, banyak pihak orang tua siswa yang sampai menggunakan uang belanja dapur demi terpenuhinya kebutuhan belajar sang anak.

Sebagaimana yang terjadi beberapa pekan terakhir, kadang sering muncul kasus yang hampir sama. Sama-sama masalah Daring entah berapa banyak kasus yang terjadi. Berita tentang kasus seorang anak yang dimarahi orang tuanya dan kabur dari rumah lantaran menghabiskan banyak uang untuk membeli pulsa untuk kebutuhan daring (detiknews.com ,16/07/2020).

Ada juga kejadian serupa, dikarenakan keperluan Daring seorang Ayah harus ditahan oleh polisi dikarenakan mencuri laptop milik tetangga, ketika diklarifikasi katanya untuk kebutuhan anak sekolah (radarLampung.com , 22/07/2020).

Kasus di atas baru segelintir dari sekian kasus yang terjadi hingga saat ini. Mungkin, siswa tidak sampai kabur. Tapi banyak siswa yang mengeluh dan memilih belajar di Warkop agar bisa mengakses Wi-Fi untuk Daring. Orang tua pun tak kalah mengeluh, banyak dari mereka sampai kelimpungan mencari duit sana sini karena Sekolah Daring menuntut mereka untuk berpenghasilan lebih.

Jika keadaan terus bertahan seperti ini, bisa-bisa akan banyak siswa yang akhirnya putus sekolah. Apalagi, pandemi yang belum pasti kapan akan berakhir. Justru, pemerintah membuka akses lebih besar bagi Covid-19 untuk semakin menyebar dikalangan masyarakat. Buktinya, masih dibolehkannya sumber utama Covid-19 (TKA China) masuk ke Indonesia sampai diterapkannya New Normal.

Masyarakat dibiarkan bergerak sendiri, pemerintah hanya memerintah tanpa mau tahu akan konsekuensi. Seperti Daring, apa tak terpikirkan oleh pemerintah masyarakat yang masih dibawah rata-rata? Bagaimana mereka ingin menyekolahkan anak mereka jika untuk makan saja mereka susah, jangankan untuk beli kuota Handphone saja belum tentu mereka punya.

Sistem Kapitalisme menggambarkan secara gamblang bagaimana mereka para penguasa memimpin dan mengatur negaranya. Kebijakan amburadul ala-ala mereka dan apa yang lebih diutamakan oleh mereka selama ini. Apalagi, kalau bukan kepentingan individu dan ekonomi belaka. Harusnya untuk saat ini pemerintah fokus pada bagaimana agar masyarakat nya bisa menghadapi pandemi tanpa menanggung resiko besar. Bagaimana masyarakat bisa tetap terpenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan pendidikan untuk putra-putri mereka tanpa kesulitan. Seharusnya pemerintah bisa menjamin itu semua, termasuk menjamin kebutuhan kesehatan dan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat.

Tapi bukan kapitalis namanya kalau bukan mengedepankan kepentingan individu dan material saja. Namun, Islam datang dengan segenap peraturannya sekaligus membawa keberkahan dan rahmat bagi siapapun yang mau tunduk padanya. Dalam sistem negara Islam, pendidikan benar-benar dijamin oleh negara secara gratis. Karena dalam Islam, pendidikan merupakan hal penting sekaligus jaminan pembentuk generasi cemerlang sesuai syariat Islam. Karena itulah, negara Islam tidak pernah main-main dalam hal pendidikan. Terbukti dari terlahirnya ilmuwan-ilmuwan terhebat dan bersejarah dari abad kekhalifahan Islam berabad-abad yang lalu. Maka kepada hukum mana lagi, kita ingin berhukum selain pada hukum Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Pengatur?
Wallahua’lam bishawab.