Oleh: Yuli K.D.Anshory (Founder Rumah Baca Faqih, Praktisi Pendidikan)

Saya pernah mendengar curhatan dari seorang teman, yang melakukan muamalah syirkah dengan pihak lain, tapi akadnya tidak jelas. Syirkahnya syirkah apa, apa hak dan kewajiban masing-masing pihak gak jelas batasannya. Hanya berbekal chats saja di WA, kerjasama diantara mereka pun berjalan. Seminggu dua minggu tak ada masalah. Setelah hitungan bulan, saat salah satu pihak mulai menunjukkan ketidaksesuaian, barulah muncul pertanyaan “kok gini ya?”, “harusnya gak begitu”, dst. Muamalah, apalagi kerjasama syirkah, jika tidak ditulis hak dan kewajiban masing-masing pihak hitam diatas putih, akan berpeluang tumpang tindih, muncul masalah. Yang ditulis perjanjiannya aja berpeluang banyak masalah muncul, apalagi cuman postingan chats di WA.

Belum lagi dengan masalah adab, integritas dll. Saya sendiri pernah colohok, sama orang yang gak punya adab dalam bermuamalah syirkah. Bukan cuma nir adab, tapi juga songong dan dzalim terhadap hak pesyirkah yang lain. Ada lho yang begini. Saat teman saya minta pendapat ke saya, apa yang harus dilakukan kedepan? Fix saya jawab : bubar! Orang kayak gitu gak layak dikasih kepercayaan. Setelahnya, jelas orang model begini, di blacklist, dan dikenang terus perbuatan nir adab dan kesongongannya. Nastaghfirullah!

Muamalah yang berpotensi menimbulkan masalah juga adalah dalam hal utang piutang. Saran saya, jangan pernah berani berutang, sebelum paham hukum syariat terkait utang piutang. Dan jangan pernah berani ngutangin, sama orang yang kita gak tau, dia paham gak hukum syariat tentang utang piutang. Muamalah utang piutang, bukanlah sekedar bagaimana menuliskan utang atau bagaimana utang bisa dibayar. Tapi juga meliputi apa saja hak dan kewajiban pengutang dan yang diberi utang, akad tempo pembayaran waktunya kapan, kalo gak bisa bayar harus ngapain ke si pemberi utang, dll. Jangan sampai, abai saat jatuh tempo, santai kayak di pantai gak kasih kabar apapun, padahal siapa tau si pemberi utang lagi ketar ketir butuh dana. Gak ada permohonan maaf gak bisa bayar on time, gak ada permohonan permintaan penangguhan pembayaran. Yang kayak gini ini, jangan salah lho, keliru besar karena sudah melanggar perintah Allah untuk ‘aufuu bil ‘uquud (memenuhi janji). Apa coba kategori orang yang gak bisa memenuhi janji? Gak amanah alias dia sudah khianat. Padahal, apa susahnya dia kontak si pemberi utang, sampaikan baik-baik bahwa saat ini dananya belum ada, sehingga kewajiban belum bisa tertunaikan, reakad terkait waktu pembayaran yang disanggupi. Jangan sampai, gara-gara pasal ini, akhirnya orang kapok bermuamalah atau ngasih utangan lagi.

.
.
Ohiya, satu lagi yang sekaligus juga self reminder ini mah, adalah terkait dengan muamalah kurir amal shalih. Entah jadi kurir sedekah, kurir wakaf, socio preneur atau apapun itu. Pliiis, jangan tunggangi program mengajak orang lain berbuat baik itu dengan kepentingan pribadi. Ini sekaligus juga tamparan buat saya yang suka galang donasi dan wakaf dari teman-teman. Aslinya kalo saya, suka deg degan kalo dititipin dana untuk saya salurkan ini. Kadang sering kepikiran untuk berhenti, tapi nyatanya itu bukan solusi. Karena InsyaAllah menjadi kurir, kadang dibutuhkan juga oleh pihak yang akan menerima kebaikan teman-teman semua. Maka solusinya sekali lagi adalah amanah. Amanah dalam segala halnya. Jangan pernah memakan harta yang tidak ada hak kita disana. Malah seharusnya, kita menjadi kurir buat orang lain, ya kita sendiri juga menjadi salah satu donatur di dalamnya. Kalo saya biasanya, ngajak temen-temen donasi itu, karena kalo sendirian donasinya kan gak seberapa ya. Siapa tau ngajakin temen-temen donasi, kemanfaatannya justru jadi jauh lebih luas lagi.

.
.
Ada banyak hal lainnya sebetulnya. Sementara segitu aja dulu ya. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.