Oleh: Desi Wulan Sari (Member of Revowriter)

Kasus-kasus keluarga positif Covid-19 semakin bertambah. Beberapa data yang diberitakan media menyebutkan bahwa di kota Bogor update 8 kasus positf baru terus bertambah. Bahkan 18 ASN dipastikan terpapar postif Covid-19 di kota Bogor. Ditambah lagi 5 keluarga yang terpapar, dan salah satunya adalah bos restoran yang menjadi korban meninggal.

Para pakar kesehatan banyak yang memberikan pendapatnya, bahwa tren kenaikan kasus di kluster keluarga diakibatkan banyaknya orang-orang yang kurang “aware” pada lingkungan dan protokoler kesehatan Covid-19. Terbukti mereka tidak merasa takut terpapar dengan tetap melakukan kegiatan bersama seperti acara pernikahan, ulang tahun, sunatan yang sengaja dirayakan oleh para keluarga.

Hal ini menjadi kegalauan di mata masyarakat. Namun bukan berarti kesalahan seratus persen ada pada para keluarga tersebut, tetapi kurangnya edukasi, informasi dan keprihatinan negara terhadap covid-19 telah terabaikan. Sehingga masyarakat harus berpikir sendiri, apakah virus ini berbahaya? Apakah virus ini sudah hilang? Apakah benar birus ini ada? Rasanya miris melihat kondisi seperti ini.

Sistem kapitalis memang tidak mampu mengatasi wabah ini, bahkan negara-negara besar adidaya di luar sana, juga dibuat stress karena perekonomian mereka hancur akibat covid-19. Maka inilah dampaknya bagi rkeluarga-krluarga yang tentu tidak memilki kekuatan apapun dalam menghadapi pandemi besar seperti ini. Tentunya mereka bukan menjadi prioritas atas masalah kesehatan tetapi kebangkitan ekonomi negaralah lebih diutamakan.

Jika saja negara bercermin pada sistem Islam, bagaimana ia mengatasi masalah pandemi ini, pasti kita tidak akan terlalu lama menderita. Namun sebaliknya, sistem dalam Islam akan selalu mengedepankan kesehatan rakyatnya saat pandemi, bukan ekonomi. khalifah akan segera memberi instruksi pada rakyat untuk swab tes masal gratis, hal ini dilakukan untuk bisa terlihat mana yang positif dan mana yang negatif secepat mungkin. Yang sakit di karantina sedangkan yang sehat bisa menjalankan aktivitas seperti biasa. Jika hal tersebut dilakukan sejak dini maka penyebaran virus dapat diminimalisir dan terkendali lebih cepat. Inilah yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabat saat terjadi wabah besar di masa itu.

Maka perlunya pemimpin yang memperhatikan kebutuhan rakyatnya akan kesehatan, rasa aman, dan pangan saat kondisi kritis seperti ini menjadi prioritas terdepan. Negara yang melindungi rakyatnya adalah sosok pemimpin umat yang dinanti. Jika Islam mampu mewujudkannya, lalu mengapa kita terus meragukannya?