Oleh: Ummu Irul

Hancurnya Generasi di Alam Demokrasi

Oleh: Ummu Irul

Miris! Kata itulah yang pantas, untuk fakta yang terpampang jelas dihadapan kita. Para pelajar yang masih mengenakan seragam abu-abu itu, sudah pengin sekali segera menikah, dengan pasangannya, karena hamil duluan. Tidak hanya berpuluh pasang namun ratusan pasang. Astagfirullah!

Pengadilan Agama Kabupaten Jepara, Jawa Tengah menerima permohonan dispensasi nikah sebanyak 237 perkara selama periode Januari-Juli 2020. Dari angka tersebut sebanyak 52% pengajuan lantaran hamil di luar nikah dan sisanya 48 % tidak hamil (IDN Times, 27 Juli 2020)

Ketua Panitera, Pengadilan Agama Jepara, Taskiyaturobihah menerangkan bahwa, jumlah pengajuan dispensasi pernikahan setiap bulan jumlahnya bertambah, “Jumlahnya setiap bulan naik terus. Pas Januari kemarin saja bisa sampai 50 pengajuan dispensasi nikah. Dan sampai Juli 2020, kalau ditotal sudah 237 pengajuan dispensasi nikah yang masuk Pengadilan Agama Jepara,” terang Taski.

Kejadian di Jepara ini, tentu bukan satu-satunya peristiwa yang terjadi di negara ini. Ibarat seperti gunung es, yang tampak baru sebagian kecil (puncaknya saja) karena daerah yang lain jika didata tentu akan sangat mengejutkan.

Mengapa mereka berbondong- bondong harus MBA (Married By Accident), apakah hal itu dirasa keren? Tidakkah mereka merasa malu, sudah tercerabutkah urat malu itu dari benak generasi negeri ini?

Demokrasi Biang Kerusakan

Demokrasi yang mengagungkan asas kebebasan, yakni kebebasan individu dalam berpendapat, beraqidah, berkepemilikan dan bertingkah laku, berhasil meluluh lantakkan keterikatan generasi negeri ini dengan syari’at Allah SWT.

Demokrasi yang memberikan kebebasan dalam bertingkah laku, telah menghasilkan perilaku yang bebas tanpa batas, pada seluruh rakyat, termasuk remajanya dalam pergaulan antar lawan jenis. Dan akibatnya merebaklah sex bebas, pornoaksi, pornografi dan perilaku yang merusak lainnya.

Karena demokrasilah, banyak orang tua yang menerapkan HAM di tengah keluarganya. Yakni membebaskan putra putrinya dalam bertingkah laku, beragama, dan berpendapat. Apakah mau bergaul dengan laki-laki atau perempuan, yang kebablasan/tanpa aturanpun mereka bebaskan, karena semua menjadi hak asasi masing-masing individu, termasuk putra putrinya. Ketika sang anak menyampaikan argumen yang salahpun, tidak diluruskan karena alasan menjunjung tinggi HAM.

Yang lebih mengerikan lagi, jika negaranya juga menerapkan demokrasi. Dan sayangnya negara tercinta ini juga mengadopsi demokrasi, yang berasal dari barat, padahal penduduknya mayoritas Islam. Ketika penguasa menjadikan demokrasi sebagai sistem dalam mengatur rakyatnya, maka bisa ditebak, seperti apa porak porandanya sebuah negeri.

Negara menjadikan suara rakyat suara tuhan. Jadi rakyatlah yang membuat undang-undang/ peraturan untuk mengatur rakyatnya, melalui wakil-wakilnya yang duduk di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).

Dengan diterapkannya peraturan buatan manusia yang sangat subyektif maka pelanggaran hukum, kemaksiatan dan kriminal merajalela, termasuk sex bebas, pornografi, pornoaksi menyeruak dari kota hingga pelosok desa.

Seolah seperti pembiaran oleh negara, pelaku kemaksiatan tanpa diberi sanksi yang tegas karena alasan menghormati HAM (Hak Asasi Manusia). Hatta semakin merajalela pelaku kemaksiatan dari hari ke hari, bahkan semakin berani tanpa “tedeng aling-aling.”

Inilah sebagian realita yang menggambarkan bahwa demokrasi yang telah diterapkan di negara ini selama berpuluh-puluh tahun lamanya, telah terbukti mengantarkan rakyatnya, baik individu, keluarga maupun masyarakat keseluruhan menuju jurang kerusakan yang kian menganga.

Back To Islam Kaffah

“Pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang.”(Pepatah Arab). Negara Islam dalam sistem Khilafah sangat memperhatikan generasi penerusnya, karena dalam hal ini Rosulullah bersabda,
عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata, Rosulullah SAW, bersabda,” Suruhlah anak-anakmu melakukan shalat pada usia tujuh (7) tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat, sedang mereka berusia sepuluh (10) tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya.”

Terkait dengan hadits tersebut di atas, maka Islam mewajibkan keluarga kaum Muslim tidak hanya mengajari shalat saja kepada anaknya, namun juga syari’at Islam yang lainnya. Keluarga Muslim adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Negara Islam memiliki peran penting dalam pendidikan generasi mudanya. Khilafah mengatur setiap sistem, sehingga semuanya saling mendukung. Sistem ekonomi yang dijalankan negara Islam, membawa kemudahan pada stabilitas keluarga Muslim.

Pendanaan pada setiap jenjang pendidikan sangat berkualitas dan gratis diberikan kepada seluruh rakyatnya, termasuk generasinya.

Sistem sosial juga memisahkan kehidupan perempuan dan laki-laki, sehingga tidak ada kasus-kasus kesusilaan, seperti hamil sebelum menikah atau MBA. Beberapa celah yang membuka peluang maksiat ditutup rapat-rapat. Karena itu kehidupan masyarakat dalam Khilafah sangat bersih dan terjaga. Ilmu, ketaqwaan dan sikap yang baik benar-benar menghiasi kehidupan masyarakat.

Sejarah telah mencatat bahwa dalam sistem Khilafah adalah terbentuknya generasi yang produktif, sebab sibuk dalam ketaatan kepada Allah SWT. Khilafah tidak memberi tempat bagi kebatilan, dalam bentuk apapun.

Maka tidak mengherankan, jika dalam sistem Khilafah lahir para pemuda yang menorehkan prestasi gemilang, yang tak lekang oleh jaman. Diantaranya,:

  • Imam Nawawi, yang menghasilkan berjilid-jilid kitab dalam usia 20 tahun.
  • Imam Bukhori, mengumpulkan jutaan hadits dalam umur yang belia.
  • Imam Syafi’i memberikan fatwa saat usianya belum genap 15 tahun.
  • Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi Sulthan pada usia 12 tahun, dan menaklukkan Konstantinopel yang sangat spektakuler itu, dalam usia 21 tahun.

Semua realitas itu menunjukkan bahwa tak ada peradaban yang mampu mencetak generasi unggul, termasuk sistem demokrasi yang kini diadopsi oleh banyak negeri, kecuali sistem Islam Kaffah dalam naungan Khilafah Rosyidah Minhanjin Nubuwwah.

Wallahu a’lam bish Showab