OLEH: DAMISRI (ANGGOTA KOMUNITAS SETAJAM PENA)

Di seluruh dunia secara global sudah mengalami dan merasakan penurunan dan kemerosotan di bidang ekonomi dan keuangan. Di negeri kita tercinta Indonesia juga merasakannya. Ini semua disebabkan oleh pandemi Corona. Sehingga seakan-akan sudah mengalami krisis secara merata.

Telah disampaikan oleh Bhima Yudhistira (INDEF), bahwa masyarakat harus hidup hemat dari sekarang untuk menghadapi resesi jika nantinya benar-benar terjadi. Kurangi belanja yang tidak penting lebih fokus pada kebutuhan kesehatan dan pangan. Jadi jangan ikut-ikutan gaya hidup yang boros. Bahwa adanya pandemi ini mengajarkan kepada kita untuk hidup hemat, yang membuat kekuatan daya tahan keuangan bagi personal (detik.com,17/7/2020).

Piter Abdullah sebagai direktur Riset Center of Reform of Economics (CORE), juga mengatakan bahwa masyarakat saat ini jangan hidup boros. Dan harus tetap berjaga-jaga, artinya jangan boros harus tetap menabung. Selain mempersiapkan tabungan yang banyak masyarakat juga disarankan agar menjaga kesehatan. Supaya resesi tidak berkepanjangan. Menurut beliau karena resesi itu disebabkan oleh virus Corona yang mematikan dan wabah, maka solusinya ya mengakhiri wabah. Apabila wabah berakhir, resesi akan berakhir.

Wakil direktur INDEF, Eko Listiyanto, juga menjelaskan bahwa saat resesi terjadi maka akan terjadi peningkatan pengangguran dan kemiskinan. “Saya rasa dampak yang paling besar adalah tingkat pengangguran dan kemiskinan”, kata beliau saat dihubungi detikcom, 29 Mei 2020.

Maka jika resesi benar-benar terjadi, yang ada akan semakin nampak kesenjangan sosial. Yang kaya bisa semakin kaya dan bahagia, karena meraih harta dengan berbagai cara, walau sampai di atas penderitaan saudaranya. Yang miskin akan semakin miskin. Karena tidak ada yang peduli atas penderitaannya.

Semua gejala diatas disebabkan oleh sistem kapitalisme demokrasi. Semua akan berpihak kepada sang pemilik modal. Dimana yang miskin semakin ditinggalkan dan diabaikan. Bahkan tidak mengenal walau itu saudara sedarah dan seakidah. Bagaikan ada jurang pemisah yang terjal diantara mereka.

Itulah karakter pribadi kapitalis demokratis. Yang menjadi tujuan utama adalah pemodal yang bebas (liberal). Tidak peduli haram dan halal, mereka akan menjadikannya segala sesuatu itu halal. Memang sistem ini sudah nyata-nyata gagal dalam mengatasi problematika umat secara global.

Di kalangan bawah masyarakat sudah banyak yang sambat (mengeluh) dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemudian disarankan untuk hidup hemat dan menabung. Akhirnya bertambahlah beban pikiran mereka. Yang mana yang ditabung? Sedangkan untuk kebutuhan besok belum ketemu. Itulah kemiskinan.

Menurut pandangan Islam, kebijakan ekonomi oleh pemerintah dan negara adalah skala prioritas yang utama, demi memenuhi kebutuhan rakyatnya. Karena rakyat merupakan tanggung jawab sepenuhnya bagi negara. Jadi pemerintah mengeluarkan dana demi dakwah perkembangan Islam, demi kepentingan hankam, kesehatan, pendidikan, iptek kesejahteraan sosial, dan anggaran belanja pegawai.

Pemerintah Islam mampu menstabilkan harga-harga dan menekan inflasi, ketika ada gangguan dan guncangan yang melanda, juga saat terjadi wabah yang diturunkan oleh Sang Pencipta.
Begitu pula warga dan kaum muslimin semua telah dibentuk kepribadian Islam. Jadi ketika mengalami hidup dalam kesederhanaan sudah terbiasa dan selalu tawakal kepada Allah. Maka, mari hidup dengan cara Islam supaya mampu mengatasi segala perubahan walaupun resesi sekalipun. Wallahua’lam bishowab.