Oleh: Lelly Hapsari

Siang terasa terik matahari, seorang laki-laki berusia sekitar 35 tahunan sedang berjalan di atas trotoar membawa tas gendong hitam di pundaknya. Sesekali ia menendang kerikil jalanan hingga melayang melampaui batas birai.

Berulangkali ia mengusap keningnya yang basah dengan peluh karena keringat terus mengucur deras. Memang ini bukan Jakarta, tetapi deru mesin motor dan mobil yang berlalu lalang sempat juga membuat gerah dan kemacetan kota yang mempunyai julukan kota Pahlawan yang dulu Belanda pernah adikara menjadi konkuisnador bagi bangsa ini. Kota di mana saat itu aku tinggal seraya menunggu renjana kasih yang telah hampir dua tahun ini kugenggam.

Lelaki berperawakan altetis berkulit putih dan berhidung mancung berdarah campuran Arab dan Melayu itu adalah Kabir, dengan nama lengkap Mohammaed Kabir Al- Fatih, berkewarganegaraan Australia. Dialah yang telah menabur renjana asa untuk hari esokku.
Perjumpaan awalku dengannya di sebuah event pameran buku terbesar yang ada di kotaku, Surabaya. Saat tamak menguasaiku untuk berpantang tidak membeli banyak buku. Maklumlah, hobby membaca sudah tertanam sejak usia sekolah dasar. Begitu melihat ada lautan tumpukan buku dengan harga murah, sontak mata ini menjadi kalap. Rasa hati ingin memborong semua buku yang ku pilih, Dasar bego! Sangking lupa daratan lupa juga jika seluruh buku-buku yang sudah dipilih itu harus dibayar dengan uang. Sementara buged tidak mencukupi, ‘Ah sial!’ Runtukku sendiri saat itu. Tepat ketika kondisi alufiru, aku hibuk dalam kebingungan dan berdebat dengan petugas di depan antrian mesin kasir menuntut adalat, karena pihak toko bersikukuh memaksa agar aku tetap membayar jumlah buku yang sudah discaner oleh mesin kasir, sedangkan uang yang harus kubayarkan masih kurang banyak jumlahnya, sedangkan kartu ATM ku juga mendadak tertelan, sepertinya Tuhan mengirimkan dia untuk menutupi kebodohanku, Kabir. Muncul sebagai pahlawan. Ia menawarkan bantuan untuk menyelesaikan alufiru masalahku saat itu. Dari pada malu, lebih baik langsung kuterima saja tawar gatrunya agar dapat segera pergi tanpa hanca dari tempat terkutuk itu, meskipun aku tak mengenal sebelumnya. Iya, kusebut tempat terkutuk karena hampir saja petugas keamanan akan menggiringku ke pos satpam setelah membunyikan alaram hingga handaruan karena dianggap atau lebih tepatnya menuduhku tidak mau membayar, gila!

Ah, Kabir namanya terlanjur rapsodi dalam hati. Sosoknya membuatku tak bisa melupakannya dan semenjak itu kami semakin akrab bahkan saling meridukan. Dia orangnya lasak, altruis juga baik. Meskipun Kabir WNA tapi ia sudah sangat baik dan lancar berbahasa indonesia walau ada sepatah kata yang siap menjadikan aku kamus berjalannya. Orang bilang kami sedang pacaran, ahay, entahlah aku masih ragu karena dia sepertinya type rayugan. Karena aku sendiripun enggan menjalani hubungan yang ambigu dan ambah. Ternyata aku salah, justru Kabir lebih memilihku. Karena tak ingin terperosok lubang perzinahan dalam bujuk rayu setan, Kabir segera mengkhitbah sekaligus menikahiku dengan sirri. Awalnya keluargaku, terutama ayah sangat menetang cara ini.
“mengapa tidak menikah syah saja secara agama dan negara, melalui KUA?”
“Maaf, karena posisi saya yang masih warga negara asing, otomatis jika harus menunggu legalisasi surat maka akan terasa lama. Sedangkan saya ingin segera mengikat Syakira, Pak. Tolong pahami posisi saya sekarang ini dan saya juga berjanji akan secepatnya kembali ke Australia untuk membereskan segala sesuatunya, jika semuanya sudah beres maka saya juga akan segera mengajukan cuti agar bisa menyelenggarakan pesta pernikahan di sini dan menikah secara legal di mata hukum negara, Pak.”

Alhamdulillah, dengan berbagai cara ia bisa meyakinkan ayah yang memiliki kekuasaan penuh di rumah ini otomatis keputusannya juga diikuti oleh seluruh keluarga besar. Tepat di hari jadiku yang ke 21 tahun, prosesi khitbah sekaligus akad nikah yang sangat sederhana diselenggarakan. Meskipun bukan alamas yang dijadikan mahar, setidaknya disaksikan rabas juga kehadiran para malaikat, kebahagiaanku tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. ‘Kini gelarku menjadi nyoya Kabir’ Ujarku kegirangan dalam hati.

Namun, itu adalah kenangan hampir dua tahun yang lalu. Seminggu setelah itu Kabir mohon ijin untuk kembali ke negara asalnya, sedangkan aku ditinggalkannya tetap di sini bersama ibu dan ayah. Ia berjanji dua bulan lagi akan datang menjemput dan memboyongku ke negara asalnya.
****

Pagi itu, 12 Januari 2018 kami sekeluarga melepas Kabirku dari bandara Juanda, selembar selampai merah jambu ia kaitkan mesra di leherku yang terbalut kerudung warna salmon. Sambil menunggu waktu, aku dan Kabir terus bersama. Bergandengan tangan erat seakan tak ingin terpisah. Dalam harapan yang ia bisikan
“Syak, aku mencintaimu, kepergian ini tak akan lama tunggulah sampai aku menjemputmu”
Aku hanya bisa terdiam sumarah, sambil sesekali melap tesmak yang kukenakan karena basah dengan linangan air mata.
‘Aku benci perpisahan ini’ Ujarku dalam hati sambil tetap menggenggam erat tangannya.
Hingga saatnya boarding pass, aku sudah tak bisa lagi mengikutinya. Ia sempat memelukku sesaat, mencium kening dan mengecup ke dua mataku sebelum ia benar-benar hilang dari pandangan. Entahlah bagaimana perasaan terdalamku juga perasaannya. Hatiku seakan rincis dan hampa.
Semenjak kepergiannya kami berdua tetap intens berhubungan di dunia maya, tapi semakin lama semakin hilang. Bahkan di waktu yang sudah ia janjikan pun tidak ada lagi kabar. Seperti orang gila aku kehilangan arah, ‘di manakah Kabirku?’ itu yang selalu terekam dam otakku. Mengapa perjalanan asmaraku harus menghadapi anca? Harus kulabuhkan ke mana hati ini setelah itu? Di setiap malam tidur pun tak renyap, dari fajar hingga senja aku hanya bisa memeluk selampai pink bergaris hitam jelaga bersama kenangan yang ia bawa!

Dua tahun hampir saja berlalu dan di hari itu 12 Januari 2020, tiba-tiba Kabir memberi kabar akan menemuiku. Antara rasa kecut, hampa dan bahagia teraduk menjadi satu. Aku bahagia karena akan kembali bertemu dengannya setelah sekian lama menghilang bak ditelan bumi, tapi rasa sedih yang menggulung hatiku karena ada rasa bimbang untuk menemuinya. Apakah dengan kondisiku yang saat ini ia masih bisa menerimaku? Setelah setahun yang lalu aku terlibat kecelakaan yang hampir merenggut nyawa, tapi beruntung aku masih bisa selamat. Namun tidak berlaku bagi ke dua mataku juga kaki kananku. Kedua mataku buta permanen akibat terkena semburan sepihan kaca mobil, dan kaki kananku terpaksa harus diamputasi karena tulangnya hancur. Untuk menghindari infeksi yang bisa menyebar tindakan yang paling akhir adalah amputasi.
Dengan mata hati aku merasakan langkah kaki laki-laki di atas trotoar itu semakin mendekat, meskipun samar terbenam oleh berisik suara amko yang berlalu lalang.

Kutepis rasa gelisahku.
“Mbok Darni, tolong bantu mendorong kursi roda ini hingga di taman sebelah kolam. Saya rindu mendengar suara gemericik airnya.”
“Iya Mbak, tunggu sebentar.” Jawab mbok Darni yang sedang melap kulacino
Jantungku semakin berdebar saat mendengar ibu mengatakan bahwa Kabir sudah akan segera tiba dalam 10 menit lagi.
‘Ayo Mbok, Percepat langkahmu dan tinggalkan aku sendiri di situ.”

Dua tahun yang lalu, kulewati pagi hari dengan Kabir. Selalu ada kecupan mesra darinya sambil menikmati suasana pagi ditemani secangkir kopi di pinggir kolam ikan Koi. Sungguh ingatan itu membuatku perih terikat rindu yang mencabik segenap perasaan.
Saat aku terdiam dalam gelap kebutaan netra, tiba-tiba kurasakan tanganku ada yang menggenggam erat sembari menyelipkan sebuah cicin di sela-sela jemari. ‘Siapa dia’ Pikirku. Dengan perlahan ia mengecup lembut jemari yang telah tersisip cincin sambil berbisik begitu dekat di telinga,
“Syak, aku sudah datang untuk menjemputmu. Terimakasih kamu sudah mau menunggu, maafkan aku yang sudah terlambat dan membuatmu lelah menunggu.”
“Apakah engkau Kabir? Benarkah itu kau?” Aku mencoba luahkan pertanyaan yang menjejali pikiranku.
“Iya, Syak. Ini aku, yang pernah memelukmu dua tahun yang lalu di bandara Juanda waktu itu.”
Dadaku terasa sesak untuk menahan tangis,
“Tapi aku bukan Syakiramu yang dulu kau temui, kini aku hanyalah perempuan cacat bermata buta dan berkaki satu yang hanya hidup tinggal menunggu ajalnya. Percuma, sia-sia saja kau menemuiku! Ini ambilah kembali selampai darimu dan pergilah, jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk perempuan sepertiku!’
“sttt, jangan katakan itu, Syak, aku benar-benar mencintaimu karena Allah. Jadi bagaimanapun fisikmu, bagiku kau tetap sempurna di mataku.”

Ia memelukku dengan erat sambil menghujani kecup kerinduan dan sekali lagi aku luruh dalam dekapnya dengan bahu yang terguncang karena tangis. Kabir telah datang kembali mengalungkan selampai merah jambu bergaris hitam jelaga yang ada di genggaman tanganku, ia telah menghapus segenap penantian amba dan kami akan melukiskan kembali romantika dalam mawaddah

-Selesai-

BIOGRAFI PENULIS

Bernama Lelly Hapsari pecinta literasi. Lahir di kota Pahlawan 23 November, menulis adalah bagian aktifitas terpenting dalam hidupnya dalam 5 tahun terakhir ini. Berawal menjadi PJ (penanggung jawab Event antologi) di Penerbit Rumedia, ia mulai berkarir dalam menulis. Beberapa buku antologi dan buku solo yang sudah dimilikinya tidak membuat penulis merasa puas dengan karyanya. Penulis juga aktif menjadi tim Redaksi website TintaMuslimahline serta beberapa kelas menulis. Harapan terbesarnya tulisannya bisa mencerahkan bagi pembaca dan bisa meninggalkan jejak kenangan untuk anak cucunya kelak.

Motto:
Raih pahala melalui tebar aksara