Oleh : IROHIMA

Turki, negara yang tengah menjadi sorotan dunia tatkala Presiden Recep Tayyip Erdogan melalui kebjiakannya mengembalikan fungsi Hagia Sophia kembali sebagai masjid, kini kembali dengan berita yang tak kalah gemparnya serta mengundang pro kontra.

Adalah Gercek Hayat, sebuah majalah yang dimiliki Albayrak Media Group yang pro pemerintah telah mengeluarkan seruan untuk membangkitkan kembali kekhalifahan Islam. Seruan Gercek Hayat untuk kekhalifahan muncul dalam majalah terbitan 27 Juli. Di halaman sampul tertulis : ” Hagia Sophia dan Turki bebas sekarang”.”Jika tidak sekarang, kapan ? Jika bukan Anda, siapa? Berkumpul bersama untuk kekhalifahan. Seruan ini muncul beberapa hari setelah Turki membuka kembali Hagia Sophia sebagai masjid.

Seruan ini telah memicu kemarahan di media sosial dan membuat Asosiasi Bar Ankara mengajukan pengaduan pidana terhadap Gercek Hayat dengan tuduhan menghasut masyarakat untuk melakukan pemberontakan serta tidak taat hukum.
Tak hanya Asosiasi Bar Ankara, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang merupakan partai berkuasa di Turki dan juga partai yang memenangkan Erdogan sebagai presiden menolak seruan Gercek Hayat. Melalui cuitan resminya, AKP meyakinkan kaum skeptis bahwa Turki akan tetap menjadi negara yang demokratis dan sekuler.

Turki, negara yang begitu erat dengan kekhalifahan masih terbelenggu oleh nasionalisme dan sekularisme seperti halnya negara negara muslim lain. Seruan kembali pada khilafah dianggap kaum sekuler sebagai ajakan yang tidak dapat diwujudkan dalam hukum serta sebagai bentuk ajakan pemberontakan. Padahal dalam sejarahnya, Daulah Islam yang menjadi cikal bakal Khilafah didirikan tanpa kekerasan dan pertumpahan darah. Keberhasilan Turki yang pernah menundukkan dunia dianggap kubu sekuler sebagai keberhasilan kekuatan militer Turki serta seruan kebangsaan, padahal Sultan Muhammad Al Fatih menaklukan Konstantinopel dan melakukan futuhat ke wilayah lain karena motivasi agama dan juga pembuktian bisyarah Rasulullah Saw.

Kekhalifahan Turki Utsmani pernah menaungi 2/3 dunia dengan cahaya Islam. Sikap pongah , merendahkan agama dan memisahkannya dari kehidupan adalah propaganda yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk laknatullah pada dunia Islam. Propagandanya telah berhasil meracuni dan mengakar pada sebagian besar jiwa jiwa kaum muslim. Hingga ketika seruan untuk kembali pada Khilafah menggema, seketika itu juga kaum sekuler di Turki atau dimanapun akan menolak, bahkan menjegal segala upaya terkait kebangkitan khilafah. Mereka sangat sadar bahwa jika kembali kepada khilafah itu bermakna ancaman bagi sekularisme dan kerugian bagi barat.

Seruan majalah Gercek Hayat merupakan salah satu potret kerinduan umat akan tegaknya khilafah. Seruan kembali kepada Khilafah yang mendapat sambutan publik Turki ini menegaskan bahwa umat menginginkan perubahan mendasar karena kegagalan sistem sekuler saat ini. Sambutan suka cita terhadap seruan Khilafah bukan hanya terjadi di Turki, segenap umat muslim diseluruh penjuru dunia merespon dengan gegap gempita.

Betapa keinginan untuk hidup dalam naungan Islam begitu membuncah, jiwa jiwa kaum muslim tenggelam dalam lautan rindu akan tegaknya Khilafah. Tak sabar rasanya mengadukan duka saudara muslimah yang teraniaya pada Khalifah seperti Khalifah Al Mutassim Billah, atau mengadukan ekonomi yang terjepit pada Khalifah seperti Khalifah Harun Al Rasyid.

Kriminalisasi terhadap seruan Khilafah adalah bukti bahwa sistem sekuler telah nyata memusuhi Islam dan menghalangi tegaknya Khilafah. Namun ketahuilah, Khilafah adalah janji Allah yang nyata, ia akan tegak dengan atau tanpa Anda, suka atau tidak suka. Menghalangi Khilafah sama halnya mencoba menghalangi terbitnya matahari. Meminjam istilah ustadz Oemar Mita.:”Kalian mungkin bisa merusak bunga tapi kalian tak kan mampu mencegah datangnya musim semi”.

Wallahualam bis shawab