Oleh: Beti Nurbaeti (Member of Revowriter)

Cinta tak pernah salah menyapa, yang salah adalah orang yang tersesat dalam cinta. Tatkala anugerah rasa disalah gunakan, tak lagi kenal norma, lupa pada nilai yang dianut. Jangankan Agama, adat saja kadang ditabrak. Rambu-rambu tak kasat mata jadi alasan untuk melaju di jalan salah.

Berapa banyak yang terjebak dalam rasa ini? Memperjuangkan hal yang belum jelas. Mempertahankan pendapat tanpa hujjah yang nyata. Terlibat dalam kerusakan tanpa merasa merusak. Apalagi jika ditambah syair-syair menggoda. Menggoyang kebenaran seakan nisbi. Melindapkan realita jika cinta tanpa dasar ketaqwaan hanya mengantar pada jurang kehancuran.

Cinta memang indah, pesonanya teramat memikat. Meski kadang bak fatamorgana yang tak menghilangkan dahaga, banyak manusia yang mengejarnya tanpa logika. Lupakan akal sehat, ketika cinta membutakan rasa dan jiwa. Miris, tapi itulah faktanya. Banyak manusia terperangkap cinta tanpa dasar. Cinta karena merasa, dia sedang dijalan yang benar.

Selama ini kita sering dicekoki kisah cinta yang salah. Ada kisah Romeo dan Juliet, atau Qais dan Laila. Kisah cinta yang seolah mengajarkan kalau tidak bisa move on dari cinta lama itu romantis. Jadilah pemahaman yang salah dominan merajai hati. Akal dikendalikan rasa yang tak sesuai perintah Sang Maha Pemilik Rasa, Tak heran jika bunuh diri banyak menjadi pilihan ketika kisah cinta tak semanis yang diharapkan.

Ternyata, kasus cinta buta bukan hanya berlaku pada lawan jenis saja. Tapi berlaku dari bawahan pada atasan, atau pada sesama. Eits, maksud sesama disini bukan kelompok orang yang menyalahgunakan logo pelangi ya. Sesama disini maksudnya sama asal daerah, sama latar belakang pendidikannya atau profesi yang sama atau kesamaan kesamaan lainnya.

Kisah cinta buta karena satu suku atau satu kabilah pernah terjadi di zaman Nabi SAW. Sebut saja musailamah alkadzab dari bani Hanifah. Kepintarannya memutarkata, keberaniannya dalam berdusta, membuatnya berani memproklamirkan diri sebagai nabi di Zaman Rasulullah.

Pengikut Musailamah ada yang tahu pengakuan ucapannya sebagai wahyu adalah dusta, tapi karena musailamah berasal dari suku yang sama mereka tetap membelanya. fanatisme yang tinggi mengikat mereka tetap mendukungnya habis-habisan. Hingga di akhir kisah mereka terjebak dalam kebodohan, terjatuh di jurang kehancuran. Tercatat abadi sebagai pendukung Sang Pendusta.

Cinta pada pemimpin seperti Musailamah? Jelas wajib katakan tidak. Cinta pada pemimpin kita? Tentu harus, jika cinta pada pemimpin dibangun karena Allah. Cinta yang dipupuk karena ia mengajak ke jalan yang benar. Cinta yang mengajak pada ketaatan tanpa syarat, pada Ilahi. Cinta sempurna yang tak dikotori nafsu dunia.

Bukan cinta yang didasarkan karena satu almamater, satu suku, satu partai apalagi cuma satu kampung. Menaati pemimpin adalah kewajiban, saat ia memerintahkan dalam jalan keridhoan Allah. Jika sebaliknya, mengajak pada kehancuran? Melanggar segala aturan Allah? pertanyaan retoris sebenarnya, kita hanya perlu menyapa hati, masih ramahkah akal kita menyapa?

Sedihnya, saat sang pemimpin berbuat dzalim Ada yang bilang bijaksana. Saat ia pamer kuasa dibilang gagah berwibawa. Saat marah terencana dibilang luar biasa. Tidakkah hati merasa terluka, ketika negeri terancam binasa. Ketika Ayat ayat suci Allah menjadi bahan gurauan. Kisah kepemimpinan nabi dianggap romantisme basi. Kembalinya kejayaan Islam dianggap ilusi. Mengejar janji Allah dianggap fantasi.

Dimana letak ketaatan sebenarnya? Pernahkah kita bertanya dalam malam sunyi, dalam kesendirian yang terasa menakutkan. Dalam gelisah yang sering datang tiba-tiba. Rabb, adakah aku di jalan yang kau ridhai? Bukankah nurani Lebih jujur dalam memahami.

Dimana letak cinta sesungguhnya? Al-quran sangat gamblang menjelaskan tentang cinta. Cinta umat Islam adalah menjalankan Islam secara kaffah. Taat sepenuhnya pada seluruh aturan. Tidak memilih aturan sesuai keinginan sendiri. Apalagi mencari aturan yang hanya menguntungkan dirinya.

Karena memilih aturan sesuai nafsu sama saja memutilasi aturan Sang Ilahi. Menjagal aturan yang telah sempurna, melupakan bahwa diri hanyalah hamba Yang Kuasa. Merubah diri menjadi fir’aun masa kini, tak malu mengaku sebagai Tuhan. Tak heran jika dunia terasa makin menyesakkan. Semakin sempit menghimpit.

Hakikat cinta Dalam Islam adalah ketaatan hamba pada rasul-Nya. Menaati perintah Allah, menjauhi segala larangannya. Ada cinta berarti ada keinginan buat taat. Cinta pada manusia adalah wujud kecintaan pada Allah dan rasul-Nya. Cinta sejati akan membentuk pribadi seseorang menjadi istimewa. cinta pada Allah, menyelamatkan manusia dari jurang kebinasaan. Allahu’alam