Oleh: Aisyah Farha (Mutiara Revowriter)

Sejumlah keluarga presiden jokowi sudah terdaftar dalam ajang pilkada yang akan diselenggarakan bulan desember 2020 mendatang. Anak, menantu, ipar bahkan besannya tidak luput untuk mengikuti perhelatan politik tersebut. Banyak masyarakat yang meyayangkan pengajuan diri anggota keluarga presiden dalam pemilihan ini.

Politik dinasti ini kian terasa saat larangannya dituangkan dalam pasal 7 huruf r uu no. 8 tahun 2015 tentang pilkada, dibatalkan keputusan mahkamah konstitusi. Ini adalah sederet bukti bahwa demokrasi memupuk oligarki. Akibatnya kini semakin banyak anggota keluarga petahana yang mencalonkan diri untuk berebut kekuasaan.

Bagaimana ini bisa terjadi, sedangkan selama ini kita membayangkan bahwa demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tapi nyatanya demokrasi malah dijadikan alat untuk memperpanjang pemegang kekuasaan. Rakyat hanya digiring untuk berpura-pura memilih, padahal calon nya saja parpol yang menentukan. Fenomena ini banyak juga disebut anomali demokrasi.

Anomali demokrasi ini bukannya kali pertama terjadi. Di sepanjang sejarah berdirinya, demokrasi sudah menunjukan perilaku menyimpangnya. Sejumlah bukti terjadi bahkan di negeri asal demokrasi yaitu Amerika. Bryan Cranston, dalam tesisnya American Dynasties: A Study Of Intergenerational Democratic Success, mengidentifikasi 167 keluarga di as memiliki anggota keluarga yang dipilih untuk jabatan publik selama 3 generasi berturut-turut, dan 22 keluarga melanggengkan tradisi itu selama 4 generasi berturut-turut (muslimahnews.com).

Selain Amerika, politik dinasti juga terjadi di hampir seluruh negara di dunia. Karena memang dari awal terciptanya demokrasi sudah di desain seperti itu. Dengan kata lain, politik dinasti adalah cacat demokrasi sejak lahir. Lantas bagaimana kita bisa memilih sistem yang sudah cacat sejak lahirnya?

Kita harus bangkit untuk keluar dari lingkaran setan yang tidak berkesudahan ini. Semua orang pasti sudah merasa sangat jengah dengan kekecewaan yang terus dirasakan bahkan diulang setiap tahunnya. Kita hanya tidak mengetahui bahwa ada sistem lain yang lebih baik dari demokrasi.

Tidak ada harga mati untuk keberlangsungan hidup yang lebih baik. Untuk apa mempertahankan demokrasi yang hanya menyengsarakan rakyat. Ketika rakyat sengsara, para penguasa justru berebut untuk mempertahankan kekuasaannya hingga tujuh turunannya. Jika semua ini dibiarkan, maka kita hanya menunggu kehancuran negeri ini.

Adalah Islam, suatu sistem kehidupan yang kompleks, Islam bukan hanya mengatur ibadah penghambaan kepada sang khaliq, tetapi lebih dari itu. Islam mengatur seluruh kehidupan termasuk kehidupan bernegara. Rasulullah mencontohkan bagaimana menjadi seoran pemimpin negara dalam mengurus rakyatnya.

Rasulullah dan para shahabatnya adalah contoh yang sangat ideal dalam melaksanakan pemerintahan. Saat Rasulullah wafat, ia digantikan oleh orang yang paling mumpuni untuk menjadi pemimpin kaum muslimin. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang paling banyak dipilih oleh ummat untuk meneruskan kepemimpinan Rasulullah atas kaum muslimin.

Umat islam saat itu sangat mengetahui kapasitas Abu Bakar, sehingga tidak sulit untuk menentukan calon pemimpin. Islam juga menetapkan kriteria yang harus ada pada diri seorang calon pemimpin kaum muslimin. Kriteria tersebut adalah calon tersebut haruslah seorang laki-laki muslim, merdeka, baligh, berakal, adil dan memiliki kemampuan.

Politik dinasti tidak akan pernah sejalan dengan islam, karena kepemimpinan dalam islam tidak akan sah bila diwasiatkan. Islam memiliki kriteria baku dalam pemilihan pemimpin, dan pemimpin terpilih haruslah di baiat oleh seluruh umat Islam. Ini mempertegas bukti bahwa Islam sangat berbeda dengan demokrasi, dan tidak bisa disama-samakan.

Hanya dengan Islam saja kita akan memperoleh kemuliaan, karena Islam datang dari sang khaliq yang menginginkan keselamatan untuk uma manusia. Tidak ada dorongan untuk memperkaya diri dalam islam, yang ada hanyalah dorongan ketakwaan yang akan menjaga keberlangsungan kehidupan manusia.

Maka marilah kita tinggalkan sistem yang hanya menyengsarakan kita karena memang tidak pantas untuk menjadi sistem kehidupan. Mulailah untuk melirik sistem Islam, karena sudah terbukti memuliakan manusia selama berabad-abad lamanya.

Wallahu a’lam bish shawab.