Oleh : Leni Setiani
Pemerhati Remaja

Masih terngiang gema takbir saat hari raya Idul Adha. Saat kaum muslimin berkumpul di Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji. Yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, hampir semua keluarga berkumpul merayakannya. Semua bergembira merasakan daging hasil sembelihan kurban.

Namun, pandemi yang menghasilkan banyak krisis seperti di sektor kesehatan, ekonomi dan sosial terus menghantui dunia dengan belum terlihat adanya tanda-tanda bahwa pandemi akan berakhir. Antisipasi penanganan dan strategi mengurangi dampak buruk melalui agenda New Normal tidak mampu menjadi solusi. Faktanya kurva bertambahnya jumlah positif covid-19 kian hari semakin bertambah.

Ini disebabkan oleh kelalaian negara dan rakyatnya yang abai. Kebijakan negara yang mencla-mencle mengakibatkan makin tak karu-karuannya dalam hal penanganan. Menjadi bukti ketidak seriusan negara dalam melindungi warganya dari bahaya covid-19. Adapun rakyatnya yang acuh tak mematuhi protokol kesehatan dengan anggapan bahwa saat ini sudah baik-baik saja. Hal ini juga tak lepas dari peran negara yang minim edukasi pada rakyatnya. Ditambah banyak hoax bertebaran soal vaksin corona yang makin menambah ketidak percayaan rakyat pada pemerintah.

Semua permasalah ini jika kita raba aliran-alirannya akan bermuara pada satu danau yaitu sistem kapitalisme. Sistem buatan manusia ini belum genap satu abad saja sudah nampak kerusakan yang ditimbulkannya seperti kerusakan alam, ekosistem, tercemari limbah dan lain-lain. Persis seperti firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41: “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Islam memiliki kunci dari segala masalah yang terjadi saat ini. Misalnya dari segi ekonomi, Islam mampu membawa keluar dunia dari kubangan krisis. Dengan mengembalikan sumber daya alam dari yang tadinya dikelola oleh swasta menjadi dikelola negara. Negara akan memanfaatkan segala sumberdaya yang ada untuk kebutuhan masyarakat dengan tidak merusak alam.
Dan disinilah salah satu bedanya dengan sistem kapitalis. Sistem kapitalis selain dimiliki perorangan namun juga merusak alam hingga alam harus meregenerasi dirinya puluhan abad sedangkan Islam selain memanfaatkan juga menjaganya dan ini yang disebut dengan rahmatan lil ‘alamiin.

Sudah selayaknya kita kembali pada sistem Ilahi yang akan menuntaskan semua masalah yang timbul dari sistem buatan manusia yang lemah dan terbatas menjadi pada yang Maha kuat tanpa batas. Maka untuk merelasikan ibroh dari Idul Adha kita harus berkorban meninggalkan seluruh orientasi individual dan materialistik menuju keinginan meraih ridho Allah. Salah satunya dengan terus berusaha dan kuatkan tekad untuk berkorban dengan seluruh daya upaya menegakkan aturan Allah dalam kehidupan. Wallahu ‘alam.