Oleh : Yanti Tanjung

Ketaatan itu adalah cinta, cinta itu butuh pengorbanan, demikian keterkaitan ketiga kata tersebut satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Tidak disebut cinta jika tidak taat, tak ada ketaatan tanpa pengorbanan sekecil apapun pengorbanan adalah bukti cinta.

Adalah Nabi Ibrahim memiliki kecintaan yang sangat dalam pada Allah swt, meletakkan kecintaannya kepada Allah di atas yang lainnya, karenanya apapun yang Allah perintahkan akan dia taati.

Tentu untuk mewujudkan itu semua Nabi Ibrahim mengorbankan segalanya mempertaruhkan segalanya, baik itu berkorban pikiran, menguras semua rasa bahkan mengorbankan anaknya Ismail untuk membuktikan bahwa nabi Ibrahim adalah sosok yang taat dan cinta kepada Allah swt.

Pengorbanan yang melibatkan diri sendiri tentu tidak sebesar pengorbanan melibatkan orang lain apalagi itu melibatkan anak, seperti yang dialami oleh Ibrahim.

Orang tua mana yang tidak berat menjalani jika harus mengorbankan anak. Inilah pengorbanan yang setinggi-tingginya dari seorang ayah jika ia diminta harus menyerahkan nyawa anaknya demi ketaatan. Ini pula puncak pengorbanan seorang Ismail saat diminta terlibat dalam cinta ayahya mampu bulat-bulat menerimanya tanpa sedikitpun keraguan apalagi menolaknya.

Anak yang memiliki totalitas ketaatan bukanlah anak sembarangan dan proses mempersiapkannya sangatlah luar biasa oleh ayah bunda yang super dan super juga pengorbanannya dalam mendidik.

Dalam Alquran kita mengetahui betapa penantian yang panjang nabi Ibrahim dan Siti Hajar akan hadirnya anak sungguh menuntut kesabaran dan keyakinan. Hingga Ibrahim sangat khawatir di usia 100 tahun belum juga memiliki keturunan sambil penuh harap Nabi Ibrahim berdoa :

الصَّالِحِينَ مِنَ لِي هَبْ رَبِّ
“Robbi hablii minash shoolihiin” [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”. (QS. Ash Shaffaat: 100).

Dalam Zaadul Masiir (7/71), dijelaskan maksud ayat tersebut oleh Ibnul Jauzi rahimahullah, “Ya Rabbku, anugerahkanlah padaku anak yang sholeh yang nanti termasuk jajaran orang-orang yang sholeh.”

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan apa yang dikatakan oleh para pakar tafsir, “Ya Rabb, anugerahkanlah padaku anak yang sholeh yang termasuk jajaran orang-orang yang sholeh, yang bisa semakin menolongku taat pada-Mu”.

Tafsir Al-Mukhtashar mengatakan Yakni anak yang shalih yang membantuku dalam ketaatan kepada-Mu dan menghiburku di negeri yang asing.

Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir diungkapkan
yang selalu menaatiMu, menjalankan agamaMu dan mendukungku sungguh-sungguh menaatiMu”

Allah pun mengabulkan doa Nabi Ibrahim dengan menganugrahinya seorang anak yang super sabar bernama Ibrahim.
فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ
Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (As-Saffat 37:101)

Dididiklah Ismail dengan sesempurna kesalehan,kesalehan yang melandaskan akalnya dengan tauhid laa ilaaha illallah yang menghunjam dalam dadanya yang mengantarkan Ismail berada di ketinggian ruhiyyah,yang memandang dunia adalah fana akhiratlah persinggahan abadi.

Dengan kalimah itu tak terbersit untuk ingkar akan perintah dan larangan Allah swt , dengan kalimah itu hidup ini menjadi hidup,dengan kalimah itu kematian menjadi mulia hingga berada di surgaNya.

Ismail juga memiliki kesalehan jiwa yang tampak dalam prilaku yang iatimewa, kesalehan yang tiada bandingnya, sosok anak yang dilahirkan siap meneruskan perjuangan dakwah ayahnya.

Saat Ismail remaja yang seharusnya menjadi pengganti meneruskan risalah ayahanda,ternyata Allah perintahkan Ibrahim melalui mimpi untuk menyembelih dirinya.

Remaja yang baru baligh ini dan baru saja berpikir tentang kehidupan dan memiliki kemampuan berusaha mencari kehidupan tetiba diminta untuk disembelih. Ya, itu adalah pembunuhan, itu adalah kesadisan dalam kacamata orang yang tidak yakin, dalam pandangan orang kafir liberal.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S. ash-Shaffāt37: 102).

Komunikasi itu kuncinya untuk menyampaikan semua ketaatan kepada Allah swt. Aqidah Islam yang menancap kokoh dalam qalbu harus dimiliki orang tua dan anak, memiliki visi yang sama meraih cinta dan ridha Allah swt, menjalani misi pengorbanan yang tinggi walau itu harus mempertaruhkan nyawa.

Pun saat ini anak-anak kita harus kita siapkan memiliki cinta,ketaatan dan pengorbanan untuk Allah dan Rasulnya,menjadi penolong agama Allah.

Medan jihad adalah bukti cinta mempertaruhkan nyawa,inilah puncak dari sebuah visi dunia bagi anak-anak kita demi meraih vis akhirat yaitu jannah.

Jika tidak berada di medan jihad maka harus berada di medan dakwah,melakukan amar ma;ruh nhyi munkar, menjadi umat terbaik. Sebab kata rasulullah saw.

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Jika anak-anak kita terlibat dalam pengorbanan berkata yang benar di hadapan penguasa yang zalaim kemudian dia terbunuh saat itu maka dia termasuk golongan para syuhada. Betapa berbahagianya ayah bunda jika ananda berada di posisi pengorbanan cinta dan ketaatan seperti ini.

Wallaahu a’lam bishshowab
________