Oleh: Aini Ummu Aflah

Belum berakhir dunia digegerkan dengan munculnya virus Covid-19, dan dukapun masih meliputi negara-negara di dunia. sekarang dihadirkan oleh polemik Laut China Selatan ( LCS ) yang memanas. Pertikaian antara dua negara yang diperhitungkan, yaitu AS dan China.

Laut Tiongkok Selatan atau Laut China Selatan adalah laut tepi, bagian dari Samudra Pasifik, yang membentang dari Selat Karimata dan Selat Malaka hingga Selat Taiwan dengan luas kurang lebih 3.500.000 kilometer persegi (1.400.000 sq mi). Laut ini memiliki potensi strategis yang besar karena sepertiga kapal di dunia melintasinya. Laut ini juga nemiliki kekayaan makhluk hidup yang mampu menopang kebutuhan di Asia Tenggara sekaligus cadangan minyak dan gas alam yang besar (Wikipedia).

Dunia tidak akan heran dengan pertikaian antara AS dan China, keduanya bersaing ingin menjadi negara yang kuat perekonomiannya. Begitulah watak dari Kapitalisme yang selalu haus darah akan kekuasaan dan harta melimpah. Kapitalisme akan senantiasa menjajah, menjarah merampok dan mendominasi wilayah yang menjadi incarannya. Maka tak heran jika China dan AS saling berebut wilayah di Luat China Selatan.

Baru-baru ini Duta Besar China dan Perwakilan Tinggi Australia untuk India terlibat perdebatan sengit di Twitter tentang sengketa Laut China Selatan. Perang Twitter itu bermula ketika Australia membela AS yang baru-baru ini menolak klaim sepihak China atas 90% wilayah Laut China Selatan (CNN Indonesia).

Menurut “Limits of Oceans and Seas, 3rd edition” (1953) yang dirilis Organisasi Hidrografi Internasional (IHO), laut ini terletak :
di sebelah selatan Tiongkok;
di sebelah timur Vietnam;
di sebelah barat Filipina;
di sebelah timur semenanjung Malaya dan Sumatra hingga Selat Singapura di sebelah barat, dan
di sebelah utara Kepulauan Bangka Belitung dan Kalimantan.

Akan tetapi, menurut draf tak resmi edisi ke-4 (1986), IHO mengusulkan pembentukan Laut Natuna sehingga batas selatan Laut Tiongkok Selatan dipindahkan ke utara dari sebelah utara Kepulauan Bangka Belitung ke sebelah utara dan timur laut Kepulauan Natuna.

Kepulauan Laut Tiongkok Selatan yang terdiri atas sekian ratus pulau kecil. Laut beserta sebagian besar pulau tak berpenghuninya diperebutkan oleh berbagai negara. Klaim-klaim kedaulatan ini terbukti dari banyaknya nama yang diberikan untuk pulau-pulau dan laut ini (Wikipedia).

Jika AS dan China terus dalam sengketa LCS, ancaman perang meletus akan dirasakan oleh sejumlah negara di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Oleh sebab itu, China dan Amerika hingga saat ini masih menahan diri. Jika sampai timbul insiden kecil yang melibatkan militer kedua negara, bukan tak mungkin perang bakal pecah.

Sampai saat ini, baik China dan Amerika sama-sama masih terlibat dalam perang urat syaraf baik dalam politik internasional dan aksi unjuk kekuatan militer. Dalam berita VIVA militer sebelumnya, latihan tempur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) yang digelar awal Juli lalu mendapat kecaman dari Kementrian Luar Negeri Amerika.

Untuk kesekian kalinya, Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo, menyatakan bahwa aksi China di laut China Selatan adalah sebuah pelanggaran berat hukum internasional. China dianggap Amerika dan Pompeo memang sengaja melakukan kampanye militer, untuk mencapai ambisi membangun “kerajaan maritim” di wilayah itu.

Sebagai respons AS mengirim dua kapal induknya, USS Nimitz dan USS Ronald Reagan ke Laut China Selatan, juga untuk menjalani latihan tempur, tak cuma dua kapal induk, Angkatan Laut Amerika juga mengerahkan dia kapal penjelajah dan dua kapal perusak dalam latihan yang digelar 23 Juli 2020

Selamanya Kapitalisme akan mencengkeram negeri-negeri yang tidak memiliki kemampuan dan kemandirian dalam mengelola negerinya. Indonesia adalah salah satu dari negara kawasan ASEAN yang memiliki wilayah yang luas, penduduk muslim terbesar, kekayaan alam yang melimpah baik darat maupun laut dan memiliki potensi untuk menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.

Sudah seharusnya menolak klaim atas Laut China Selatan yang sedang diperebutkan China dan AS. Berharap kepada Hukum Konvensi UNCLOS sama halnya menerima dan tunduk dibawah ketiak China maupun AS yang jelas-jelas melanggar hukum batas kelautan. Yang harus dilakukan Indonesia adalah memobilisasi negara-negara ASEAN untuk menolak mentah-mentah keberadaan China maupun AS di wilayah ASEAN. Dengan sikap seperti ini Indonesia akan maju dan menjadi negara yang berdaulat.